Sampingan

MEMBACA TANDA- TANDA ALAM (Versi Benuaq Tuwayaatn)

9 Des

 Tanda-tanda alam itu dapat melalui perantaraan burung, binatang lain seperti : serangga, ular dan elemen lingkungan alam lainnya dapat dianggap mempunyai arti tertentu bagi manusia dalam praksis kehidupannya. Manusia harus memperhatikan tanda-tanda itu kalau ingin sukses dalam rencana dan kegiatannya. Pada zaman dulu, ketika orang Dayak di Borneo masih mempraktekkan tradisi mengayau, maka penting sekali memperhatikan tanda-tanda entah itu dari burung atau binatang lainnya, dengan maksud mendapatkan petunjuk apakah misi mengayau itu berhasil atau tidak, atau memperoleh keselamatan atau mendapat bencana. 

Tanda-tanda yang dianggap memberi petunjuk oleh komunitas Orang Tuwayaatn khususnya Benueeq Dayeeq disebut bayaaq nyahuq. Pada umumnya dalam komunitas Orang Tuwayaatn dulu dan bahkan sekarang pun masih ada, dalam melakukan pekerjaan missalnya membuat rumah atau ladang, atau pun akan mengadakan perjalanan jauh (berahaatn, sebala), masih memperhatikan tanda-tanda yang merupakan bayaq nyahuq ini. Bayaaq ada dua golongan, yaitu bayaaq malam dan bayaaq siang.

  1. a.   Bayaaq Malepm (Bayaaq Malam)

Asal mula bayaaq malam ini adalah dari anak-anak Imang Mengkelayeekng yang telah direbus dalam bambu karena kejahatan mereka. Akibatnya, mereka menjelma menjadi burung, dan binatang serta serangga yang berperan sebagai bayaaq, yaitu:

1)   Kuyaakng Laliq (roh yang menyerupai manusia tinggal di hutan);

2)   Kerokot (sejenis belalang jangkik atau serangga pengerat);

3)   Penetek (sejenis serangga);

4)   Penetar ((sejenis serangga); dan

5)   Penaneeng (salah satu jenis belalang besar)

b. Bayaq Jolo (Bayaq Siang)

Bayaaq Jolo berasal dari Itak Tuhaatn Gayaatn, Kakah Tuhaatn Gayaatn (semacam dewa) Tempoko nongko jolo. Kedua dewa suami isteri ini mempunyai anak bernama, Ape Tempereeq yang kawin dengan Datu Tamen Apow. Dari perkawinan ini, keduanya mempunyai anak yang sangat bayak. Tentang asal mula bayaaq jolo ini dapat disimak dalam mitologi berikut.

Pada suatu hari Datu Tamen Apow bersama isterinya pergi ke ladang untuk bekerja selama delapan hari lamanya. Anak-anak mereka tinggal bersama nenek dan kakeknya di dunia atas sana. Sebelum pergi meninggalkan anak-anak, bapak dan ibu mereka berpesan: “biarpun anak-anak itu menangis minta makan, namun janganlah mengambil dan memberikan tebu merah (touuq Nayuq) dan memasak beras pulut hitam (pulut saruuq), tetapi berilah makannan yang lain kepada mereka.

Setelah ditinggalkan orang tua mereka beberapa hari, maka anak-anak tadi menangis minta makan. Nenek dan kakek mereka memberikan makanan yang lain-lain sesuai dengan pesan dari orang tua mereka, namun anak-anak itu tidak mau makan. Karena mereka selalu menangis, akhirnya nenek dan kakek tadi memberikan makanan yang dilarang tadi. Makanan itu dimakan mereka dengan lahap. Tetapi pada saat makan, anak-anak tadi seketika berubah menjadi burung yaitu, mentit, seset, juruh, apow dan kelehei. Maka seketika itu pula burung-burung tadi berterbangan keluar rumah dan tinggal di pepohonan sekitar rumah mereka sendiri. Menyaksikan kejadian itu, nenek dan kakek tadi lantas ketakutan kalau nanti akan dimarahi oleh orang tua dari anak-anak itu. Lalu mereka berdua makan makanan yang sama dan seketika itu juga mereka berdua berubah menjadi buek (burung hantu), burung tunguk (pungguk), dan  burung tak taha. Sehingga kaken dan nenek tadi akhirnya menjadi pimpinan para bayaaq tersebut.

Ketika Datu Tamen Apow dan isterinya pulang dari ladang tiba di rumah, yang mereka  lihat hanyalah seorang anak saja yang sedang menangis, yaitu Apaakng Peningir.  Lantas kedua orang tua itu bertanya kepadanya, “dimanakah kakek nenek dan saudara-saudaramu?” Jawab Apaakng Peningir, “mereka telah makan makanan yang dilarang dan semuanya berubah menjadi burung”. Mereka yang telah menjadi burung juga membenarkan dan berkata, “tak apalah, kami akan tetap membantu adik kami apaakng Peningir, jika ia berbuat baik kepada kami”.

Ayah dan ibu Apaakng Peningir sangat sedih menerima berita kejadian itu. Keduanya berniat bunuh diri, namun dihalangi dan dihibur oleh anak-anak mereka yang telah berubah menjadi burung tadi. Mereka berjanji akan selalu menolong ayah-ibu mereka dan Apaakng Pningir, adik mereka apabila diminta.

Dalam perjalanan waktu selanjutnya, setiap hari Apaakng Peningir memberikan makan kepada burung-burung tersebut. Karena itu ia diberikan kekayaan yang cukup banyak oleh burung-burung yang adalah saudaranya tadi. Namun setelah menjadi kaya, Apaakng Peningir semakin sibuk mengurusi kekayaannya dan tidak lagi peduli akan saudara-saudaranya itu. Maka sejak itulah Apaakng Peningir jatuh sakit.

Bertahun-tahun Apaakng Peningir mengalami keadaan sakit walau telah berobat dengan berbagai cara namun ia tak kunjung sembuh juga. Hingga pada suatu hari  walaupun ia  dalam keadaan sakit pergi masuk hutan dengan tujuan untuk bunuh diri karena telah merasa frustrasi daripada harus menderita seumur hidupnya.

Setibanya di hutan, Apaakng Prningir mendengar suara orang banyak yang sedang menebang pohon kayu. Lalu ia berjalan menuju ke arah suara itu dan di situ ia melihat orang banyak dengan menggunakan baju yang berbagai jenis warnanya. Setiba di tempat orang banyak itu, Apaakng Peningir bertanya kepada mereka: “apa tujuan kalian menebang pohon di sini?” jawab mereka, “kami akan membuat lungun untuk Apaakng Peningir, karena ia akan kami bunuh. Dia akan dibunuh karena ia tidak memberi kami makan lagi!”. Mendengar itu, betapa terkejutnya Apaakng Peningir, karena ternyata bahwa dialah yang akan mati dan dimasukkan dalam lungun yang dibuat oleh orang banyak itu. Lalu orang-orang itu memberikan syarat: “jika Apaakng Peningir tetap setia memberi kami makan, maka kami akan tetap menolong dia dalam segala susah dan dukanya”.

Setelah mendengar perkataan orang-orang itu, apaakng Peningir lalu sadar atas kelalaiannya memberi makan burung-burung yang adalah saudara-saudaranya. Seketika ia pulang ke rumahnya dan serta merta memberikan makan kepada burung-burung itu. Dengan demikian hubungan Apaakng Peningir menjadi pulih kembali dengan burung-burung yang adalah saudaranya tadi dan iapun menjadi sehat kembali seperti semula. Ritual memberi maka pada burung-burung saudara Apaakng Peningir disebut “Makatn Bayaq”.

c. Bayaaq yang lain

  Selain bayaaq yang disebutkan di atas, masih ada beberapa bayaaq lain dan pertanda yang mempunyai makna seperti bayaaq yaitu yang disebut bangaai. Bangaai adalah berupa hewan yang mati. Jika hewan yang mati itu ditemukan di tengah areal tebasan ladang, maka hewan yang mati itu dapat disebut bangaai. Jika seseorang yang sedang menebas ladangnya menemukan bangkai hewan seperti tupai, musang, kancil, bangkai burung dan sebagainya, maka itu adalah suatu pertanda buruk. Jika pekerjaan ladang itu tetap diteruskan, kemungkinan akan membawa celaka atau musibah bagi si pemilik atau keluarganya. Jika tidak ditinggalkan tebasan ladang itu, maka si pemilik harus mengadakan syarat tertentu misalnya membuat patung sebagai silih. Juga dapat dianggap sebagai bayaaq, jika pada saat yang sama misalnya mengerjakan ladang atau rumah, ada sekawanan lebah datang lalu hingap di sekitar pekerjaan tersebut. Untuk itu biasanya si pemilik, mengadakan upacara persembahan dan beberapa patung sebagai silih. Dengan patung yang  bermakna sebagai silih dan menjadi obyek yang tertimpa bencana atau musibah, maka si pemilik dan keluarganya terhindar dari segala bahaya dan bencana. Upacara demikian itu disebut makaatn bayaaq.

  Hewan atau binatang lain yang juga bisa sebagai pemberi pertanda bayaaq adalah:

1)     Beniaaq (jika burung elang mengeluarkan suara seperti tangisan);

2)     Kokooq bonaan (anjing bersin);

3)     Meong semek (kucing batuk);

4)     Telaus (kijang, jika ia melintas atau bersuara pada waktu momen kegiatan tertentu);

5)     Pelanuk (kancil, jika ia melintas atau ditemukan dalam kondisi tertentu);

6)     Tekayo, (jika ia melintas atau ditemukan dalam kondisi tertentu);

7)     Ular, (jika ia melintas atau menyeberangi jalan) dan masih banyak yang lain lagi.

Bilamana ada bayaaq, maka biasanya orang Tuwayaatn membuat patung sebagai silih, lalu meludahi patung itu seraya berkata: “ini patung sebagai silih pengganti diriku/kami, biarlah bencana dan malapetaka menimpa patung ini”.

Mengenai akurat atau tidaknya pemaknai atas tanda-tanda bayaaq, sangat tergantung dari kemampuan seseorang dalam mengetahui dan menafsirkan makna kontekstual bayaaq itu sendiri. Orang yang punya pengalaman dan disertai dengan keyakinan besar, maka ia akan dengan mudah memaknai setiap tanda bayaaq dan meyesuaikan praksis hidupnya dengan maksud tanda itu. Misalnya, jika ada burung atau binatang bayaaq datang dari arah kiri, maka itu pertanda buruk; sebaliknya jika pertanda bayaaq itu datang dari arah kanan, maka itu adalah pertanda baik. Begitu juga jika ada suara-suara serangga penetek, penetar, dan lain sebagainya, maka itu pertanda akan ada malapetaka, atau jika dalam perjalanan akan mendapatkan bahaya.

Ada pula isyarat atau pertanda yang terdapat pada tubuh manusai itu sendiri. Isyarat ini disebut lemu ketika. Sebagai contohnya adalah bahwa jika kita akan berpergian jauh, maka sebelum perjalanan itu dimulai, terlebih dahulu kita melihat batang hidung kita sendiri. Bila ujung hidung kita sendiri masih terlihat, maka itu adalah pertanda baik dan perjalanan yang akan dilakukan aman-aman saja. Sebaliknya jika batang hidung kita tak nampak kelihatan, maka itu sebagai pertanda jelek, dan jika kita melakukan perjalanan, ada kemungkinan bahwa kita akan mendapat musibah bahkan kematian.

  Pada zaman dulu hubungan manusia dengan alam masih dekat, Yang Mahakuasa masih gampang ditemui dalam karya-karya keagungan-Nya, Ia berbicara kepada manusia dengan perantaran berbagai karya ciptaan-Nya dan manusia menaggapainya dalam ketaatan dan cinta. Berbagai pertanda yang dihayati sebagai bayaaq dalam tradisi orang Tuwayaatn adalah suatu cara penyaluran rahmat dari Yang Mahakuasa. Mejadi rahmat, jika manusia mampu menangkap makna di balik bayaaq atau tanda itu sehingga ia menempatkan diri dalam posisi yang sebenarnya. Sebaliknya pertanda itu akan menjadi teguran dan peringatan, dan jika dilanggar  akan mengalami musibah dan bencana.

Orang Tuwayaatn sampai sekarang masih ada yang mempraktekan tradisi dan keyakinan di atas meskipun tidak sepenuhnya. Hal ini dapat kita lihat misalnya pada saat mereka membuka lahan ladang dan akan melakukan perjalanan jauh.

2 Tanggapan to “MEMBACA TANDA- TANDA ALAM (Versi Benuaq Tuwayaatn)”

  1. rusni mea November 17, 2012 at 1:19 pm #

    artikel yang menarik, sayang implementasinya zaman sekarang sangat kurang..berpikir logis dan realistis begitu diagungkan. Sebenarnya dengan tanda-tanda tersebut, Yang Maha Kuasa berinteraksi dengan kita

    • anakkubar09 November 19, 2012 at 7:44 am #

      Pak Rusni terimakasih atas komentarnya, saya sependapat dengan bapak dan harus kita akui masyarakat kita (Dayak) banyak yang sudah mulai meninggalkan pesan2 (kearifan lokal) yang disampaikan oleh nenek moyang kita, arus modernisasi/globalisasi telah menggerus nilai-nilai dasar yang telah diwariskan turun temurun ke kita, tinggal kita sendiri menyikapinya secara bijak karena kita tidak mungkin melawan arus tersebut.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: