NONTON GRATIS PIALA EROPA PAKAI PARABOLA BIASA …SIAPA TAKUT?

13 Jun

Buat yang hobby nonton sepak bola, pastinya event Piala Eropa 2012 adalah yang paling dinanti saat ini. Tanggal 8 Juni 2012 ini kick off akan dimulai . Dan RCTI menjadi pemegang hak siar di Indonesia yang akan tayang melalui saluran-saluran pay tv berbayar.

Jika anda tinggal dikota besar dan terjangkau pemancar transmisi mungkin masih bisa menyaksikan channel RCTI secara gratis dengan antena UHF. Namun bagi yang tinggal dipelosok yang biasa menyaksikan acara tv melalui satelit dengan parabola bisa dipastikan akan kecewa karena acara di RCTI yang biasanya FTA (Free To Air) maka saat menayangkan Euro 2012 nanti akan mengacak siarannya.

Lalu bagimana kita di Kutai Barat, kalau di Kecamatan tertentu yang sudah masuk TV Kabel sih gak masalah atau yang Langganan Telkom Vision/ Indovision. Kebanyakan kita sih punya parabola ya tapi pasti “dilacak“(maksudnya di acak), lalu saya coba searching di internet ternyata kita masih bisa untuk menyaksikan Euro 2012 secara FTA melalui channel-channel luar negeri yang bisa ditangkap melalui parabola.

Channel apa sajakah itu?

Selamat menyaksikan Euro 2012 saat ini fta di :

CCTV 1
Satelit : Chinasat 6B (115,5°BT)
Frec : 3840
Symbol Rate : 27500
Polarisasi : H

CCTV HD
Satelit : Chinasat 6B (115,5°BT)
Frec : 4100
Symbol Rate : 27500
Polarisasi : V

Dapat juga disaksikan secara fta dichannel :

XJTV-5 (relay dari cctv5)
Satelit : Chinasat 6A (125,0°BT)
Frec : 4121
Symbol rate : 27500
Polarisasi : H

CCTV1
Satelit : Chinasat 6A (125,0°BT)
Frec : 4081
Symbol rate : 27499
Polarisasi : H

===========================

 Bagaimana cara mencari satelit Chinasat 6B?

Perhatikan gambar dibawah, diposisi ini parabola menangkap frec dari satelit telkom dan palapa (karena 2 LNB C band)

Image

Dan untuk dapat menangkap sinyal dari satelit chinasat 6B pastikan dahulu bahwa sinyal disatelit palapa diposisi yang tinggi lalu kendurkan baut penyangga parabola dan turunkan sedikit posisi parabola kurang lebih 3cm sampai 5cm kebawah (timur) dengan perlahan…

Sebelumnya input frec cctv1, symbol rate dan polarisasinya di reciever anda. Perhatikan indikator kekuatan signal lalu kunci posisi parabola anda di frec sinyal yang tinggi. Selamat mencoba…

Sumber:

http://abdisuhamdi.wordpress.com/2012/06/06/channel-tv-yang-menayangkan-euro-2012-secara-fta/

 

5 CARA SALAH MENDIDIK ANAK

13 Feb

Ghiboo.com – Menjadi orang tua memang tidak mudah, butuh kesabaran dalam membesarkan dan mendidik anak. Tapi, jika cara Anda salah, itu juga berakibat fatal dan buruk untuk masa depannya.

Terkadang tanpa Anda sadari, sikap dan cara didik kepada anak justru membuat mereka stres. Kadangkala terlalu memanjakan mereka, itu juga tidak baik bagi perkembangkan mereka.

Berikut ini ada 5 cara mendidik anak yang dianggap salah, seperti dikutip dari Times of India, Jumat (10/2).

Tidak ada waktu

Sebagai orang tua, Anda mungkin tidak pernah menyediakan waktu dengan anak-anak. Setidaknya menanyakan kegiatan mereka apa saja disekolah. Komunikasi dengan anak penting, karena jika mereka punya masalah, akan disampaikan ke Anda dan masalah itu bisa cepat diselesaikan.

Terlalu royal memberi hadiah

Sebaiknya Anda tidak terlalu mudah memberikan anak hadiah apalagi jika tidak didukung prestasi yang baik di sekolah. Anda boleh-boleh saja memberi mereka hadiah, tentunya dengan memberi pengertian apabila prestasi di sekolah bagus, minimal nilai pelajaran mereka baik.

Membandingkan-bandingkan

Banyak orang tua yang membandingkan anak mereka dengan orang lain, baik itu saudara, teman atau teman sekelas. Kondisi itu akan membuat meereka semakin merasa tidak layak. Anda harus tahu, setiap anak memiliki kemampuan berbeda, jadi lebih baik Anda memberi motivasi dan dukungan terhadap potensi yang ada padanya.

Terlalu dibebani

Anak juga butuh istirahat dan dicharge. Ibarat baterai, kegiatan yang padat setelah sekolah seperti les, kursus dan lainnya sudah cukup membebani mereka. Jadi, berilah mereka waktu menyalurkan hobi, apakah olahraga, mendengarkan musik atau bahkan tidur.

Terlalu menuntut

Ujian adalah saat-saat paling tidak menyenangkan bahkan menjadi beban bagi anak-anak. Semakin terbebani karena Anda menuntut nilai yang bagus, kondisi ini bisa membuat mereka semakin stres. Seharusnya, yakinkan anak Anda dan motivasi mereka bahwa nilai jelek bukan akhir dari semuanya, karena masih ada kesempatan lain.
Semoga berhasil!

Sumber : http://id.she.yahoo.com/5-cara-salah-mendidik-anak-073540886.html

Gambar : serbaserbilamuri.blogspot.com

ADAT DAN ADAT KEMATIAN BAHAU BUSANG

2 Feb

Suatu peristiwa yang dialami oleh setiap manusia dalam daur kehidupan adalah akhir dari kehidupan di dunia ini yaitu kematian. Dalam budaya dan kepercayaan etnik Bahau kematian adalah sebagai suatu proses awal dari perjalanan roh orang yang meninggal menuju tempat kediaman baka yang di sebut “Telaang Julaan”. Dalam kepercayaan etnik Bahau bahwa orang yang meninggal adalah orang yang memenuhi panggilan dan menghadap “Taman Tingai” yaitu yang diyakini sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa. Secara teoritis orang yang disebut mati adalah orang yang telah menghembuskan nafas terakhir disertai dengan berhentinya aktifitas fungsi-fungsi otak dan fungsi-fungsi  organ tubuh lainnya. Dengan demikian berakhirlah kehidupan fisikl seorang manusia di dunia ini. Namun dalam budaya dan kepercayaan etnik Bahau kematian bukanlah akhir dari segalanya, masih ada suatu kehidupan lain lagi yang akan dialami yaitu kehidupan dalam alam roh. Karena itu jika ada warga yang meninggal, perlu dilaksanakan upacara adat kematiannya. Agar kita dapat mencermati adat yang berhubungan dengan kematian, berikut ini kami diskripsikan adat kematian yang dilaksanakan oleh Bahau Busang dan Bahau Saaq:

1.   Adat Kematian dalam Tradisi Busang

Orang Busang percaya bahwa manusia memiliki roh selain raga yang dapat dilihat secara nyata. Roh atau arwah orang mati harus diantarkan agar ia mencapai tempat kediaman abadiannya. Pengantaran arwah  orang mati berlangsung dalam rangkaian upacara kematian sejak hari pertama seseorang meninggal. Orang yang memandu arwah atau roh  orang mati dalam perjalanannya hingga ke tempat peristirahatan terakhirnya disebud Dayuung. Berikut ini kita uraikan tentang apa yang diperagakan Dayuung dalam Upacara Kematian seorang warga Busang dan perjalanan mengantar roh hingga tiba di Telaang Julaan.

2. Pelekaq To’

Upacara hari ketiga untuk orang mati disebut Pelekaq To’. Pelekaq to’ adalah memberangkatkan atau melepaskan perjalanan roh orang mati. Sebelum meninggalkan rumah duka dan keluarga yang masih hidup, Dayuung memperagakan membagi-bagi rumah dan segala isinya untuk to’ orang yang mati. Semua yang ada dibagi seperti pakaian, perabot dapur, peralatan kerja, peralatan berburu dan juga rumah yang ditempati dibagi untuk dibawa to’ yang akan berangkat. Tentu saja pembagian itu hanya memperagakan  dengan mengandaikan saja kegiatan membagikan, dan juga ada beberapa jenis peralatan hidup lainnya yang digantung pada Nyung Juq, ( empat batang  bambu didirikan dekat peti mati atau lungun). Semua barang-barang yang yang diletakkan dan digantung di Nyung Juq itu seperti parang, perisai, seraung, tusukan pembuat tikar termasuk macam-macam makanan, sebagai bekal to’ dan mempunyai arti dalam perjalanan menuju Telaang Julaan. Setelah dayuung menari-nari keliling Nyung Juq, selanjutnya mulai melantunkan maraaq yaitu narasi perjalanan yang akan ditempuh bersama roh orang mati atau to’ menuju ke Telaang Julaan.

Dikisahkan perjalanan mulai meninggalkan rumah dan kaum kerabat keluarga menuju tepian sungai, dimana telah dipersiapkan perahu yang akan digunakan untuk perjalanan. Semua barang-barang yang dipersiapkan digantung pada Nyung Juq dibawa juga masuk dalam pera. Jika yang meninggal itu adalah seorang warga kampung di hulu riam, misalnya Kampung Lung Lunuk, maka perjalanan mulai dari situ milir dengan perahu. Semua kampung, teluk dan muara sungai yang dilewati dalam perjalanan disebutkan oleh Dayuung. Persinggahan pertama dalam perjalanan itu adalah di Batoq Mate di hilirnya Lirung Melaham. Di sana ada laran yaitu kayu tanda persinggahan para arwah. Dari situ perjalanan dilanjutkan lewat darat menyusuri bukit Tukung Ilang lalu menuju sungai Kasau. Di sungai Kasau telah disiapkan perahu untuk mereka. Dari sana mereka  meneruskan perjalanan mudik lalu singgah di Lejo Sunghee, Totang Nihang, Batu Betuheq, yaitu tempat persinggahan Tagah Beruan. Selanjutnya perjalanan mendaki sampai di perbatasan dengan Kalimantan Barat, lalu menyimpang ke kiri menuju Sungai Mehende. Ketika perjalanan melewati teluk Mehende banyak ancaman terhadap arwah yang diantar oleh Dayuung yaitu adanya ikan Dungan raksasa yang siap menyambar dan  menerkam. Untuk mengelabui ikan itu mereka membuang telur dengan maksud agar ia memakannya dan bersamaan dengan itu rombongan Dayuung bersama arwah menyeberang lalu naik ke darat. Perjalanan masih diteruskan lagi hingga melewati pohon Nyiwung besar (sejenis pohon kelapa hutan yang berduri tajam). Setiap saat ada arwah yang melewati tempat itu,  pohon Nyiwung itu menjatuhkan pelepahnya yang berduri. Agar arwah dan Dayuung tidak terkena jatuhan pelepah Nyiwung tadi maka Dayuung menutup kepala dengan perisai. Itulah gunanya perisai yang dipersiapkan dalam upacara kematian. Jika yang meninggal itu perempuan, maka mereka menutup kepala memakai seraung yang dipasang Hulo (semacam peniti besar) agar terlindung dari kejatuhan pelepah Nyiwung berduri. Stelah itu arwah melewati rumpun Bambu Petung yang besar dan selalu melepaskan miangnya. Agar arwah tidak kelilipan (pelem), maka perisai atau seraung digunakan lagi sebagai pelindung mata. Setelah itu arwah tiba di batang Pelengguaang tempat penyeberangan. Batang itu selalu berguling-guling jika diinjak dan dilewati. Agar batang Pelengguang tidak berguling dan arwah dapat menyeberang melewati batang  itu, maka arwah  harus menancapkan tombaknya lalu menyeberang. Jika yang meninggal itu perempuan maka arwah harus menancapkan Tuil (tusukan untuk membuat tikar) agar batang Pelengguaang itu stabil lalu menyeberang. Perjalanan arwah diteruskan lagi lalu sampai di Teliq Hado (pancuran pemandian to’).     Sesampai di sini, arwah harus mandi dengan menceburkan diri ke dalam air (biha). Setelah mandi arwah harus melepaskan dan meninggalkan semua pakaian yang dipakainya dan menggatinya dengan pakaian yang disiapkan  sebagai bekal. Mandi dan melepaskan pakaian bermakna agar to’ membersHikan dirinya, menghilangkan segala ingatan dan kenangannya terhadap keluarga atau kerabat yang masih hidup di dunia ini. Dengan melupakan  ingatan akan kerabat keluarga yang masih hidup maka tidak ada yang menggangu perjalanan arwah menuju Telang Julaan.

Dari Teliq Hado perjalanan arwah dipandu lagi oleh Dayuung hingga sampai di seberang sebelah kanan Sungai Mehende yaitu Ujat Tukung Pilung.  Tempat para arwah berada di sebelah kiri Sungai Mehende. Di sana terdapat perkampungan arwah dari orang-orang yang telah mati. Tempat itu adalah bagian dari wilayah yang di namakan Telaang Julaan, yaitu tempat tinggal abadi para arwah dalam kepercayaan etnik Bahau. Telaang Julan itu di yakini terletak di daerah Apo Kayan. Di Tukung Pilung itulah Dayuung memanggil kerabat keluarga si arwah yang yang telah meninggal  agar mereka menyemput roh arwah  yang diantarnya. Sedangkan Dayuung sendiri tidak boleh menyeberang apa lagi sampai ke tempat tinggal para arwah, karena jika Dayuung sampai di sana maka ia tak dapat kembali lagi kedunia orang hidup. Tentu saja jika Dayuung yang sampai di sana adalah dayuung yang dalam keadaan rohnya atau jiwanya saja.

Setelah arwah kerabat yang menjemput datang, mereka lalu menanyakan sebab-musabab apa yang membuat arwah baru itu meninggal. Pertanyaan mereka itu harus dijawab oleh Dayuung dengan menyatakan sebab-sebab meninggalnya si arwah yang diantarnya. Jika yang meninggal itu disebabkan karena ia melanggar tabu atau pantangan-pantangan atau aturan-aturan lalu mendatangkan sial dan kematian baginya, maka roh atau arwah kerabat yang menjemput lalu memberikan peringatan-peringatan. Peringatan dan nasihat itulah yang akan dibawa oleh Dayuung pulang dan selanjutnya akan disampaikan untuk kerabat keluarga yang masih hidup di dunia ini. Dikatakan oleh mereka bahwa jika manusia yang masih hidup di dunia ini melanggar segala tabu atau pantangan dan aturan yang sudah ada sejak zaman nenek moyang dulu, maka ia akan mengalami sial dan kematian. Oleh karena itu sikap hormat dan ketaatan dalam menjalankan hidup sesuai adat dan tradisi nenek moyang perlu dijaga. Dengan demikian manusia mengalami keharmonisan hubungan dengan alam nyata dan dunia roh.

Setelah Dayuung menerangkan perihal sebab kematian to’ yang diantarnya, maka penjemput to’ orang yang mati itu lalu membawanya  menyeberang menuju Ujat Tukung Pilung yaitu suatu perkampungan atau lamin kediaman para arwah di Telaang Julaan. Jika yang mati itu adalah keturunan Hipui, maka to’nya akan  dijemput dan dibawa oleh to’ Hipui pula menuju ke Lamin kediaman mereka, begitu pula jika yang meninggal itu warga Panyin. Di sanalah roh orang mati yang disebut to’ tinggal selamanya dengan menjalani kehidupan laksana ia masih di dunia ini.

Setelah to’  yang diantarnya menyeberang menuju Ujat Tukung Pilung di Telaang julaan, maka Dayuung pulang kembali ke dunia nyata ini hingga tiba di rumah sanak keluarga yang meninggal tadi. Setibanya di rumah, Dayuung menyampaikan pesan dan nasihat dari leluhur yang telah meninggal kepada warga yang masih hidup sebagaimana yang dikatakan mereka.

Pada hari kesepuluh dihitung sejak penguburan, diadakan adat Mebet Lumu, yaitu upacara adat membuang pantangan adat kematian. Dalam upacara ini dilakukan melas dan Miteng Nyung (kayu gelaq dibuat gambar parang yang akan ditimpas sebanyak 4 buah). Di pating itu ditaruh juga beru, lavuung, kasung dan doh. Setelah ditimpas, dilihat jika potongannya telungkup, maka menandakan akan ada peristiwa kematian lagi, jika ada dua yang telentang maka pertanda baik.

Demikianlah rangkaian adat kematian Bahau Busang yang dahulu sering dilaksanakan, namun sekarang sudah mulai berkurang seiring perkembangan zaman dan pengaruh dari berbagai modernisasi.

3. Pelanggaran adat kematian

Pelanggaran adat kematian misalnya ada orang yang naik pondok sedang diketahuinya bahwa pondok itu adalah milik dari kerabat atau keluarga yang masih  berpantang karena ada kematian keluarganya.  Orang yang melanggar adat kematian dapat dikenai denda berupa mengganti biaya upacara hari kesepuluh sebesar dua kali lipat. Pelanggaran dan denda itu adalah buleng yaitu karena melanggar adat kematian.

BENSIN MENGHILANG DI KUTAI BARAT

28 Jan

Catatan TSEET : Tulisan saya ini sebenarnya akan saya posting pada tanggal 18/1/2011 namun saya tunda karena saya berharap kondisi sulitnya Bensin di Kubar akan kembali normal namun nyatanya masih begitu-begitu juga (ada bensin tetapi sedikit yang mengecer dan harganya lumayan tinggi(Rp.8000 s/d 10.000.). Saya juga berharap kondisi ini diexpose dimedia masa, paling tidak Kaltim Post perwakilan Kubar tapi nyatanya searching di KaltimPost cari berita tentang situasi langkanya bensin di Tana Purai Ngariman, sampai hari ini (29/1/2011)  gak ketemu, (atau saya yang salah karena langganan koran?!). Dengar-dengar katanya pejabat di Pemkab  Kubar yang tidak bisa menghadiri pertemuan karena gak dapat bensin lho?, masih untung saya petani karet masih bisa nores karena rela ninggalin motor butut di AMPS semalam untuk ngantri Bensin he..he.

Beberapa hari ini (18/1/2012) bensin susah ditemui dieceran2 di Kubar walaupun penjualan melalui Agen Minyak Premium dan Solar (AMPS) tetap dilakukan seperti biasa. Pemantauan saya hari ini di sepanjang jalan dari Simpang Raya  sampai Linggang Bigung hanya satu pengecer yang menjual bensin itu pun harganya sudah Rp.10.000 tapi karena Kuda besi tua saya membutuhkan minum ya.. gimana lagi beli aja…dari pada dia gak mau jalan. Dan yang terasa aneh hari ini adalah kok banyak pengencer menjual Pertamax lho..kemana bensinya menghilang?, menurut logika saya yang antri berjubel di SPBU adalah mereka yang membeli bensin bukan pertamax jadi seharusnya masih ada bensin yang dijual di eceran (Kerena kebanyakan Mobil yang antri Bensin akan mereka jual kembali). Pertanyaan saya : Apakah Pertamax yang dijual dieceran itu asli atau oplosan? karena kalau di amati warnanya ada yang biru tua dan biru muda (Red : ada yang tau enggak membedakan Pertamax yang asli atau tidak?). Karena keraguan-raguan itu saya memutuskan untuk tidak membeli Pertamax dieceran (karena itu pasti Besin yang disulap jadi Pertamax supaya dapat untung banyak) selain itu kasian Kuda Besi Tua saya kalau minum minuman yang tidak sehat nantinya  kena Stroke atau Kanker. Akhirnya memang terbukti ada seorang ibu cerita bahwa motor temannya mati mendadak (karena stroke bin ngejim) dan harus rawat inap di bengkel setelah beli Pertamax di eceran.

 Karena itu Tseet mohon pada Pemkab Kubar untuk :

1.Melakukan pengawasan terhadap distribusi BBM terutama bensin di AMPS (sekali-kali pingin denger ada AMPS yang ditutup)

2. Menetapkan harga eceran bensin  tertinggi  (HET) Rp.6000 terutama di Kecamatan di sekitar ibukota Sendawar dan melakukan razia terhadap pengecer yang menjual haga diatas HET.

3. Mewajibkan AMPS buka juga sore hari (jam 15.00 s/d 17.00)

3. Razia keaslian Pertamax yang dijual di eceran.

4. Say “No” beli Pertamax di eceran, kecuali kepepet

5. …… (apa lagi ya?…ada yang mau nambahin silahkan!)

Ucapan terima kasih TSEET sampaikan pada;

1. Pada pengantri BBM “ASLI” ( tidak untuk dijual lagi) yang sudah rela ngantri mulai dini hari (malah memarkirkan kendaraanya tidur semalam di depan AMPS) dan juga pengantri yang “sabar” ketika saat gilirannya diisi Bensinnya habis.

2. Pada Masyarakat Kubar karena cukup ikhlas menghadapi situasi ini ( terbukti gak ada demo atau tindakan yang anarkis)

3. Pada Masyarakat Kubar yang jauh hari mempersiapkan diri dengan tidak adanya subsidi BBM/ Kenaikan harga BBM yang direncanakan pemerintah. (sudah terlatih beli bensin harga Rp.10.000)

4. Salut pada petugas Kecamatan Linggang Bigung yang. menjaga di AMPS karena pernah marah2 dan mengusir pengantri yang coba mengantri lagi.

5. Pada Pemkab Kubar?…ah gak jadi ah..karena bensin masih sulit….kalau sudah normal baru…TOP

Sampingan

MEMBACA TANDA- TANDA ALAM (Versi Benuaq Tuwayaatn)

9 Des

 Tanda-tanda alam itu dapat melalui perantaraan burung, binatang lain seperti : serangga, ular dan elemen lingkungan alam lainnya dapat dianggap mempunyai arti tertentu bagi manusia dalam praksis kehidupannya. Manusia harus memperhatikan tanda-tanda itu kalau ingin sukses dalam rencana dan kegiatannya. Pada zaman dulu, ketika orang Dayak di Borneo masih mempraktekkan tradisi mengayau, maka penting sekali memperhatikan tanda-tanda entah itu dari burung atau binatang lainnya, dengan maksud mendapatkan petunjuk apakah misi mengayau itu berhasil atau tidak, atau memperoleh keselamatan atau mendapat bencana. 

Tanda-tanda yang dianggap memberi petunjuk oleh komunitas Orang Tuwayaatn khususnya Benueeq Dayeeq disebut bayaaq nyahuq. Pada umumnya dalam komunitas Orang Tuwayaatn dulu dan bahkan sekarang pun masih ada, dalam melakukan pekerjaan missalnya membuat rumah atau ladang, atau pun akan mengadakan perjalanan jauh (berahaatn, sebala), masih memperhatikan tanda-tanda yang merupakan bayaq nyahuq ini. Bayaaq ada dua golongan, yaitu bayaaq malam dan bayaaq siang.

  1. a.   Bayaaq Malepm (Bayaaq Malam)

Asal mula bayaaq malam ini adalah dari anak-anak Imang Mengkelayeekng yang telah direbus dalam bambu karena kejahatan mereka. Akibatnya, mereka menjelma menjadi burung, dan binatang serta serangga yang berperan sebagai bayaaq, yaitu:

1)   Kuyaakng Laliq (roh yang menyerupai manusia tinggal di hutan);

2)   Kerokot (sejenis belalang jangkik atau serangga pengerat);

3)   Penetek (sejenis serangga);

4)   Penetar ((sejenis serangga); dan

5)   Penaneeng (salah satu jenis belalang besar)

b. Bayaq Jolo (Bayaq Siang)

Bayaaq Jolo berasal dari Itak Tuhaatn Gayaatn, Kakah Tuhaatn Gayaatn (semacam dewa) Tempoko nongko jolo. Kedua dewa suami isteri ini mempunyai anak bernama, Ape Tempereeq yang kawin dengan Datu Tamen Apow. Dari perkawinan ini, keduanya mempunyai anak yang sangat bayak. Tentang asal mula bayaaq jolo ini dapat disimak dalam mitologi berikut.

Pada suatu hari Datu Tamen Apow bersama isterinya pergi ke ladang untuk bekerja selama delapan hari lamanya. Anak-anak mereka tinggal bersama nenek dan kakeknya di dunia atas sana. Sebelum pergi meninggalkan anak-anak, bapak dan ibu mereka berpesan: “biarpun anak-anak itu menangis minta makan, namun janganlah mengambil dan memberikan tebu merah (touuq Nayuq) dan memasak beras pulut hitam (pulut saruuq), tetapi berilah makannan yang lain kepada mereka.

Setelah ditinggalkan orang tua mereka beberapa hari, maka anak-anak tadi menangis minta makan. Nenek dan kakek mereka memberikan makanan yang lain-lain sesuai dengan pesan dari orang tua mereka, namun anak-anak itu tidak mau makan. Karena mereka selalu menangis, akhirnya nenek dan kakek tadi memberikan makanan yang dilarang tadi. Makanan itu dimakan mereka dengan lahap. Tetapi pada saat makan, anak-anak tadi seketika berubah menjadi burung yaitu, mentit, seset, juruh, apow dan kelehei. Maka seketika itu pula burung-burung tadi berterbangan keluar rumah dan tinggal di pepohonan sekitar rumah mereka sendiri. Menyaksikan kejadian itu, nenek dan kakek tadi lantas ketakutan kalau nanti akan dimarahi oleh orang tua dari anak-anak itu. Lalu mereka berdua makan makanan yang sama dan seketika itu juga mereka berdua berubah menjadi buek (burung hantu), burung tunguk (pungguk), dan  burung tak taha. Sehingga kaken dan nenek tadi akhirnya menjadi pimpinan para bayaaq tersebut.

Ketika Datu Tamen Apow dan isterinya pulang dari ladang tiba di rumah, yang mereka  lihat hanyalah seorang anak saja yang sedang menangis, yaitu Apaakng Peningir.  Lantas kedua orang tua itu bertanya kepadanya, “dimanakah kakek nenek dan saudara-saudaramu?” Jawab Apaakng Peningir, “mereka telah makan makanan yang dilarang dan semuanya berubah menjadi burung”. Mereka yang telah menjadi burung juga membenarkan dan berkata, “tak apalah, kami akan tetap membantu adik kami apaakng Peningir, jika ia berbuat baik kepada kami”.

Ayah dan ibu Apaakng Peningir sangat sedih menerima berita kejadian itu. Keduanya berniat bunuh diri, namun dihalangi dan dihibur oleh anak-anak mereka yang telah berubah menjadi burung tadi. Mereka berjanji akan selalu menolong ayah-ibu mereka dan Apaakng Pningir, adik mereka apabila diminta.

Dalam perjalanan waktu selanjutnya, setiap hari Apaakng Peningir memberikan makan kepada burung-burung tersebut. Karena itu ia diberikan kekayaan yang cukup banyak oleh burung-burung yang adalah saudaranya tadi. Namun setelah menjadi kaya, Apaakng Peningir semakin sibuk mengurusi kekayaannya dan tidak lagi peduli akan saudara-saudaranya itu. Maka sejak itulah Apaakng Peningir jatuh sakit.

Bertahun-tahun Apaakng Peningir mengalami keadaan sakit walau telah berobat dengan berbagai cara namun ia tak kunjung sembuh juga. Hingga pada suatu hari  walaupun ia  dalam keadaan sakit pergi masuk hutan dengan tujuan untuk bunuh diri karena telah merasa frustrasi daripada harus menderita seumur hidupnya.

Setibanya di hutan, Apaakng Prningir mendengar suara orang banyak yang sedang menebang pohon kayu. Lalu ia berjalan menuju ke arah suara itu dan di situ ia melihat orang banyak dengan menggunakan baju yang berbagai jenis warnanya. Setiba di tempat orang banyak itu, Apaakng Peningir bertanya kepada mereka: “apa tujuan kalian menebang pohon di sini?” jawab mereka, “kami akan membuat lungun untuk Apaakng Peningir, karena ia akan kami bunuh. Dia akan dibunuh karena ia tidak memberi kami makan lagi!”. Mendengar itu, betapa terkejutnya Apaakng Peningir, karena ternyata bahwa dialah yang akan mati dan dimasukkan dalam lungun yang dibuat oleh orang banyak itu. Lalu orang-orang itu memberikan syarat: “jika Apaakng Peningir tetap setia memberi kami makan, maka kami akan tetap menolong dia dalam segala susah dan dukanya”.

Setelah mendengar perkataan orang-orang itu, apaakng Peningir lalu sadar atas kelalaiannya memberi makan burung-burung yang adalah saudara-saudaranya. Seketika ia pulang ke rumahnya dan serta merta memberikan makan kepada burung-burung itu. Dengan demikian hubungan Apaakng Peningir menjadi pulih kembali dengan burung-burung yang adalah saudaranya tadi dan iapun menjadi sehat kembali seperti semula. Ritual memberi maka pada burung-burung saudara Apaakng Peningir disebut “Makatn Bayaq”.

c. Bayaaq yang lain

  Selain bayaaq yang disebutkan di atas, masih ada beberapa bayaaq lain dan pertanda yang mempunyai makna seperti bayaaq yaitu yang disebut bangaai. Bangaai adalah berupa hewan yang mati. Jika hewan yang mati itu ditemukan di tengah areal tebasan ladang, maka hewan yang mati itu dapat disebut bangaai. Jika seseorang yang sedang menebas ladangnya menemukan bangkai hewan seperti tupai, musang, kancil, bangkai burung dan sebagainya, maka itu adalah suatu pertanda buruk. Jika pekerjaan ladang itu tetap diteruskan, kemungkinan akan membawa celaka atau musibah bagi si pemilik atau keluarganya. Jika tidak ditinggalkan tebasan ladang itu, maka si pemilik harus mengadakan syarat tertentu misalnya membuat patung sebagai silih. Juga dapat dianggap sebagai bayaaq, jika pada saat yang sama misalnya mengerjakan ladang atau rumah, ada sekawanan lebah datang lalu hingap di sekitar pekerjaan tersebut. Untuk itu biasanya si pemilik, mengadakan upacara persembahan dan beberapa patung sebagai silih. Dengan patung yang  bermakna sebagai silih dan menjadi obyek yang tertimpa bencana atau musibah, maka si pemilik dan keluarganya terhindar dari segala bahaya dan bencana. Upacara demikian itu disebut makaatn bayaaq.

  Hewan atau binatang lain yang juga bisa sebagai pemberi pertanda bayaaq adalah:

1)     Beniaaq (jika burung elang mengeluarkan suara seperti tangisan);

2)     Kokooq bonaan (anjing bersin);

3)     Meong semek (kucing batuk);

4)     Telaus (kijang, jika ia melintas atau bersuara pada waktu momen kegiatan tertentu);

5)     Pelanuk (kancil, jika ia melintas atau ditemukan dalam kondisi tertentu);

6)     Tekayo, (jika ia melintas atau ditemukan dalam kondisi tertentu);

7)     Ular, (jika ia melintas atau menyeberangi jalan) dan masih banyak yang lain lagi.

Bilamana ada bayaaq, maka biasanya orang Tuwayaatn membuat patung sebagai silih, lalu meludahi patung itu seraya berkata: “ini patung sebagai silih pengganti diriku/kami, biarlah bencana dan malapetaka menimpa patung ini”.

Mengenai akurat atau tidaknya pemaknai atas tanda-tanda bayaaq, sangat tergantung dari kemampuan seseorang dalam mengetahui dan menafsirkan makna kontekstual bayaaq itu sendiri. Orang yang punya pengalaman dan disertai dengan keyakinan besar, maka ia akan dengan mudah memaknai setiap tanda bayaaq dan meyesuaikan praksis hidupnya dengan maksud tanda itu. Misalnya, jika ada burung atau binatang bayaaq datang dari arah kiri, maka itu pertanda buruk; sebaliknya jika pertanda bayaaq itu datang dari arah kanan, maka itu adalah pertanda baik. Begitu juga jika ada suara-suara serangga penetek, penetar, dan lain sebagainya, maka itu pertanda akan ada malapetaka, atau jika dalam perjalanan akan mendapatkan bahaya.

Ada pula isyarat atau pertanda yang terdapat pada tubuh manusai itu sendiri. Isyarat ini disebut lemu ketika. Sebagai contohnya adalah bahwa jika kita akan berpergian jauh, maka sebelum perjalanan itu dimulai, terlebih dahulu kita melihat batang hidung kita sendiri. Bila ujung hidung kita sendiri masih terlihat, maka itu adalah pertanda baik dan perjalanan yang akan dilakukan aman-aman saja. Sebaliknya jika batang hidung kita tak nampak kelihatan, maka itu sebagai pertanda jelek, dan jika kita melakukan perjalanan, ada kemungkinan bahwa kita akan mendapat musibah bahkan kematian.

  Pada zaman dulu hubungan manusia dengan alam masih dekat, Yang Mahakuasa masih gampang ditemui dalam karya-karya keagungan-Nya, Ia berbicara kepada manusia dengan perantaran berbagai karya ciptaan-Nya dan manusia menaggapainya dalam ketaatan dan cinta. Berbagai pertanda yang dihayati sebagai bayaaq dalam tradisi orang Tuwayaatn adalah suatu cara penyaluran rahmat dari Yang Mahakuasa. Mejadi rahmat, jika manusia mampu menangkap makna di balik bayaaq atau tanda itu sehingga ia menempatkan diri dalam posisi yang sebenarnya. Sebaliknya pertanda itu akan menjadi teguran dan peringatan, dan jika dilanggar  akan mengalami musibah dan bencana.

Orang Tuwayaatn sampai sekarang masih ada yang mempraktekan tradisi dan keyakinan di atas meskipun tidak sepenuhnya. Hal ini dapat kita lihat misalnya pada saat mereka membuka lahan ladang dan akan melakukan perjalanan jauh.

8 Des

 KEHAMILAN DAN KELAHIRAN  MENURUT  ADAT DAYAK BENUAQ TUWAYAATN

1.   Kehamilan dan Kelahiran

     Dalam komunitas orang Tuwayaatn, ada upacara beliatn untuk seorang ibu yang sedang hamil yang disebut “ngrasiq ngeradek”. Upacara ini bertujuan menghilangkan “busakng serangen” yaitu roh penggangu baik bagi sang ibu maupun cabang bayi yang dikandung. Dengan upacara tersebut diharapkan bayi yang akan dilahirkan dalam keadaan sehat dan demikian pula dengan ibunya tak mengalami kesulitan saat melahirkan. Untuk membantu proses kelahiran seorang bayi, umumnya dipakai bidan kampung yang disebut “pemelolos”. Orang yang mempunyai keahlian sebagai bidan kampung, sebelumnya mesti telah berguru pada “pemelolos” yang senior dan berpengalaman. Sang bidan tidak semata-mata mengandalkan kekuatannya sendiri, namun ia didampingi roh yang disebut “pujut penguyut, tonoi penyokooi, edos pemelolos.” Mereka itulah yang bekerja melalui sang bidan.

     Setelah seorang anak lahir, biasanya orang Tuwayaatn melaksanakan upacara “nota” dan pemberian “temaai” atau upah “Pemelolos”. Selanjutnya acara “Ngulas Pusokng, Ngeragaq atau Ngareu Posokng”. Upacara ini hampir selalu diadakan untuk seorang bayi yang baru lahir atau masih balita dalam lingkungan orang Tuwayaatn. Tujuannya adalah untuk membuang  hal yang jahat yang mungkin menimpa si bayi dan memohon pada para dewa yang disebut “Tonooi Sencoet” agar mereka membantu memelihara dan menjaga sang bayi dari segala macam ganguan roh jahat dan penyakit. Acara “Makatn Tonoi” adalah suatu acara memberi persembahan sebagai upah  para Tonoi penjaga anak, karena mereka dimintai bantuannya. Kepercayaan tradisional kepada roh-roh pembantu manusia, masih kental dalam masyarakat Tuwayaatn. Boleh jadi itu sebabnya bahwa sampai kini, komunitas orang Tuwayaatn masih memegang teguh adat istiadat atau tradisi secara murni.

2. Memelihara  Anak

     Anak yang baru dilahirkan segera diadakan upacara pemeliharaan. Upacara yang pertama adalah “Ngeranyeh” bayi dan ibunya. Ngeranyeh adalah ritual mengibas-ngibaskan nyala api dari seberkas daun “pepuatn” mengitari bayi yang dilindungi dengan tikar berbentuk kerucut. Pertama, mengibas-ngibaskan api mengitari perlindungan sang bayi dengan tangan kiri sambil mengarahkan ke sebelah mata hari terbenam. Tujuan dari upacara ini adalah membuang hal yang jahat dan kotor dari sang bayi seperti kehampaan, kegagalan, kesialan, kematian. Selanjutnya berbalik dengan tangan kanan dan mengarah ke mata hari terbit. Dengan maksud agar sang bayi tumbuh dengan sehat, makin cerdas dan bertambah hikmat, menjadi kegembiraan dan kebahagian orang tuanya dan keluarga.

     Upacara berikutnya adalah “Ngulas Pusokng atau Ngeragaq”. Tujuan upacara ini juga sama yaitu membuang segala kehampaan dan roh kejahatan pada sang bayi. Dalam acara ini keluarga melalui pemeliatn meminta bantuan pada para “Tonooi sencoet” agar mereka membantu menjaga anak yang baru dilahirkan itu. Dalan upacara ini ada acara “Makatn Tonoi” yaitu memberi makan para Tonooi sebagai upah mereka membantu memelihara anak yang baru dilahirkan. Suasana “Makatn Tonooi” biasanya sangat meriah, karena diiringi dengan tari-tarian dan yel-yel kegembiraan yang disebut “Layaau – le le” sambil mengitari sang bayi yang berada dalam pagar perlindungan yang terbuat dari kain.

MITOLOGI SENGKREAQ VERSI RENTENUKNG LINGGANG

13 Sep

Daerah Engkalakng dan sekitarnya yang dikenal masyarakat Rentenukng Linggang hingga sekarang merupakan tempat yang menyimpan sejarah cikal bakal kerajaan Sendawar. Namun sementara ini masih merupakan folklor kalangan komunitas budaya etnik Rentenukng di Kecamatan Linggang Bigung. Daerah inilah sejarah hidup Tulur Aji Jangkat di mulai dan dipersiapkan oleh delapan orang bersaudara yang di sebut Sengkreaq. Sengkreaq ini yang membimbing dan menuntun tulur Aji Jangkat hingga kelak memimpin Kerajaan Sendawar. Namun peran para Sengkreaq ini kurang diakomodir dalam beberapa riset tentang Kerajaan Sendawar.

  Untuk itulah mengapa proyek folklore ini diusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Barat? Pertama, sesungguhnya komunitas Dayak Rentenukng di Kabupaten Kutai Barat memiliki sangat banyak ragam tradisi lisannya, namun hingga sekarang belum ada upaya sistematis untuk melestarikannya, apalagi meneliti dan menulisnya. Oleh karenanya, dikhawatirkan bahwa tradisi lisan itu akan punah. Kedua, generasi muda kita yang diharapkan untuk mendukung dan memiliki rasa bangga akan tradisi budayanya itu, malah semakin hanyut dalam arus modernisasi yang justeru berisiko tinggi melemahkan ketahanan dan kebanggaan akan tradisi budaya tradisional itu sendiri. Ketiga, masyarakat tradisional dan       modern sama-sama membutuhkan bingkai-arah spiritualitas pembangunannya berupa kearifan budaya sebagai sumber harga diri dan identitasnya sendiri. Sumber spiritualitas ini terdapat dalam folklor itu sendiri. Keempat, perubahan dari budaya lisan ke budaya tulisan tidak terhindarkan. Proses perubahan ini perlu dikawal secara arif-bijaksana dan disikapi secara cultural self-reflection. Kelima, Kabupaten Kutai Barat membutuhkan Lembaga Ketahanan Budaya Tradisional, baik itu Lembaga Permuseuman Budaya maupun Lembaga Folklor. Keenam, Bupati Ismail Thomas, SH mempunyai komitmen yang sangat tinggi terhadap upaya pelestarian budaya tradisional, termasuk folklor yang menjadi fokus proyek ini. Jadi Proyek ini merupakan respons terhadap berbagai pertimbangan sosio-kultural di seputar kebudayaan pembangunan Kutai Barat itu sendiri.

MITOLOGI SENGKREAQ

Setalah langit dan bumi telah selesai diciptakan (genesis), namun tidak ada makhluk yang menghuni atau manusia yang mendiaminya. Maka Ayus Junyukng memerintahkan kepada Ayaakng Komaakng Lolaakng untuk membuat patung setengah jadi, lalu dimasukkan ke dalam ayunan dari kulit kayu. Patung itu kemudian diayun-ayunkan oleh Itaaq Diaakng Buyukng dengan menghadap ke arah matahari terbenam, namun patung itu diam dan tidak bergerak akhirnya jatuh dari ayunan itu.

  Junyukng Ayus lalu memerintahkan kepada Poteek Telose Sie dan Ayaakng Komaakng Lolaakng untuk bekerjasana dengan Rirukng Tunyukng untuk menyelesaikan patung tersebut. Patung itu akhirnya selesai, kemudian dimasukkan dalam ayunan dan diayun-ayunkan oleh Itaaknmg Bulatn Terakng  dan Diakng Reura dengan arah yang mengahadap ke arah matahari terbit. Lantas tidak lama kemudian, maka kaki dan tangan patung itu bergerak yang disertai seperti suara terbang nyamuk, dan terjadilah bahwa patung tersebut berubah menjadi manusia yang berdiri tegak dan bisa berbicara.. Manusia dari patung itu kemudian diberi nama Tamanrikung Langit, yang bertempat tinggal di Bawo Ujukng Langit.

  Tamanrikukng diberi tugas untuk memelihara dan tinggal di bumi ini. Pada saat itu semuanya serba baru. Di antara langit dan tanah (bumi) masih ada tiang penyangganya. Ayus Junyukng dan Siluq Urai memberi tugas kepada Tamanrikukng untuk menjaga dan memeriksa tiang langit dan penahan tanah itu setiap hari.

  Di Bawo Ujukng Langit, Tamanrikukng langit hidup seorang diri yang hanya ditemani oleh seekor landak (setuui) yang terpisah dari kawanannya. Karena merasa kesepian, maka timbullah keinginannya untuk mempunyai teman untuk bertukar pikiran dan bercengkrama. Untuk itu, ia mencabut tulang rusuknya yang sebelah kiri  dengan membuang tanpa arah yang pasti, sambil berikrar bahwa ia akan mengelilingi bumi dalam waktu delapan hari kemudian. Namun, pada hari ketujuh dia sudah pergi dan sampai ke tempat yang dimaksudkannya, maka tiba-tiba ia melihat ada kepala wanita keluar dari dalam tanah.

  Lantas Ia mau mencabut kepala wanita itu dari dalam tanah (bumi), tetapi kepala itu berkata: “Jangan kau cabut kepalaku sekarang, tetapi bila waktunya telah genap delapan hari – delapan malam barulah kamu boleh ke sini dan mengambil aku untuk menjadi isterimu”.

  Tamanrikukng pulang dengan hati yang berbunga-bunga kasmaran, karena akan mendapat seorang wanita cantik untuk menjadi isterinya. Dari hari ke hari Tamanrikukng menahan rasa cintanya, namun toh akhirnya ia tidak tahan lagi, dan pada hari yang ketujuh, ia pergi ke tempat itu tadi.  Sesampai di sana, maka dilihatnya wanita itu sudah berdiri tegak di atas tanah (bumi), namun bagian telapak kakinya saja yang masih melengket pada tanah. Karena tidak sabar lagi, maka ia merangkul wanita itu seerat-eratnya dalam dekapnya, lalu mencabut mandau dari sarung yang terus bertengger dipinggang sebelah kirinya, dan mengikis sisa-sisa tanah (bumi) di kaki sang wanita cantik punjaanya itu.

  Pada saat itu pula, wanita itu berkata: “Sejak sekarang sampai turun-temurun, manusia di bumi ini harus mati, karena pada telapak kakiku ini masih ada sisa tanah, tanah kematian”. Wanita itupun menyebutkan namanya, yaitu Ape Bungen Tana. Artinya Bunga Tanah.

Sumber : MITOLOGI SENGKEREAQ VERSI RENTENUKNG LINGGANG DALAM PERSFEKTI ILMU FOKLOR- CERD-BAPEDA KUBAR (2009)

selengkapnya download disini

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.