Beliatn Melas “Ruwatan Anak” Versi Masyarakat Dayak Tonyoi dan Benuaq

16 Mei

Beliatn Melas

Kelahiran seorang anak hingga pertumbuhannya, dikalangan suku Dayak Benuaq, dianggap sebagai suatu bagian penting dari siklus kehidupan warga setempat. Kehadiran “tangis bayi” selalu menggembirakan kerabat LOU atau disebut juga rumah panjang (lamin) terlebih lagi keluarga yang bersangkutan.

Berdasarkan tradisi adat suku Dayak Benuaq, tahun-tahun pertama kehidupan sang anak dalam siklus pertumbuhannya, terus-menerus mendapat perhatian dan kasih sayang dari kelurga yang bersangkutan. Tentu saja kesemuanya itu dikaitkan dengan harapan orang tuanya, agar kelak sang anak dapat berkembang dan memiliki  masa depan yang cerah.

Mengacu pada pokok gagasan tersebut, masyarakat Dayak Benuaq mengungkapkannya dalam berbagai aktivitas upacara adat disekitar siklus kelahiran anak mereka. Upacara adat melas merupakan bagian yang terakhir dari tiga upacara adat kelahiran yang selalu dilaksanakan bagi kepentingan pertumbuhan dan kesejahteraan sang anak di kalangan suku Dayak Benuaq.

Melalui upacara adat tersebut, masyarakat Dayak Benuaq memohon pertolongan kepada para dewa yang mereka sebut Nayuq Seniang, dan dalam menyampaikan permohonan itu mereka memakai perantaraan khusus yaitu Pemeliatn Melas.

Tujuan Melas

Tujuan dilaksanakannya upacara adat Melas ialah “memohon pertolongan kepada para dewa atau Tangai Tamui, yang dalam upacara belian Melas disebut Tooq, agar berkenan turut menjaga , menyembuhkan, memelihara anak-anak. Dalam bahasa Benuaq diasumsikan agar para Tooq tutut “memea-memoyaaq, ngasi-ngado”.

Kesemuanya itu dilaksanakan karena menurut suku Dayak Benuaq hidup seorang bayi terdapat beberapa kemungkinan dalam pertumbuhannya. Anak-anak bisa menjadi bodoh, bisu, lambat pertumbuhan, sakit-sakitan, dan lain sebagainya.

Kekuatiran akan beberapa kemungkinan itu maka dilakukan tindakan preventif berdasarkan tradisi kebudayaan setempat, satu diantaranya adat Melas. Adat Melas mulai berkembang di kalangan suku Dayak Bahau. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Bahau, adaptasi dari adat kelahiran suku Dayak Bahau. Waktu yang diperlukan untuk melaksanakan upacara adat Melas ini hanya memakan waktu kurang lebih setengah hari saja.

Perlengkapan dan Peralatan  Melas

Piring mangkok untuk tempat tepung tawar, telur yam untuk masing-masing anak satu buah. Bila dalam upacara tersebut ada lima anak yang ikut, maka barang-barang tersebut juga mesti berjumlah lima. Disamping itu diperlukan juga ayam jantan, babi, par untuk tempat pakaian, ulap dan mandau. Jumlah perlengkapan ini sama dengan yang diatas tadi. Kemudian disediakan pula beras secukupnya.

Perlengkapan lain ialah: bambu kecil yang diambil lengkap dengan daun diujungnya sebanyak lima untuk setiap anak. Bambu ini dalam bahasa Benuaq disebut benawikng. Kemudian rotan pulut secukupnya untuk tali temali, rotan ini disebut Weinstock pelas. Benakaq yaitu anyaman dari bambu tempat sesaji makanan Tooq. Beberapa tiang terdiri dari kayu rekep (sejenis rambutan), subai yaitu bambu raut untuk hiasan pada benakaq. Lalu rek yaitu rautan dari kayu wangun. Dari lima buah benakaq tiap anak tadi ada satu yang besar yang disebut benakaq induk. Kemudian perlengkapan yang tidak kalah pentingnya adalah:daun apeer untuk memerciki anak-anak yang ikut upacara itu beserta keluarganya. Daun apeer terdiri dari: daun biowo (sejenis temu lawak warnanya merah tua), akar mengkalagit, lempung ayo (biasanya tumbuh diatas batu), daun/bunga topus tongau. Kesemuanya itu diikat menjadi satu. Disaat memerciki itulah segala penyakit dihalaukan dan sebaliknya para keluarga diperbaiki. Dalam bahasa Benuaq acra itu disebut “minah ngale” (memindahkan penyakit).

Ritual Melas

Bila seluruh ruyaq telah tersedia, maka upacara adat Melas dimulai dengan bunyian musik tarai (gong kecil), tambur, kelentangan, sementara ibu-ibu dan anaknya di atas gong yang telah tersedia. Kemudian pawang belian atau sering disebut pemeliatn melas mengambil beras sejumput dan menghamburkan ke atas ditujukan kepada Perjadiq (Tuhan). Aktivitas ini merupakan simbolisasi pemberitahuan serta mohon persetuan dan kehadirannya.

Sejurus kemudian, pemeliat mengambil telur ayam dengan tangan kanan dan ladikng (pisau) dengan tangan kiri, sambil berkata: “saya pecahkan telur ini dengan tangan kiri, tangan pembawa sial pembawa kejahatan” (pisau hanya diayunkan ke arah telor belum jadi dipecahkan). Lalu lading dipindahkan ke tangan kanan dan telur ke tangan kiri seraya berkata: “Kini saya pecahkan telur ini dengan tangan kanan, tangan yang baik, tangan pembawa berkah dan rejeki”, dengan menghitung sampai hitungan kedelapan barulah telur itu dipecahkan. Isi telur dimasukkan ke dalam sebuah mangkok sebagai campuran tepung tawar. Lalu dioleskan pada dahi, kaki anak dan ibunya.

Setelah ritual awal selesai, kemudian sistem pemeliatn membawa tepung tawar serta dupa dan sedikit beras ke satu jendela. Disitu ia menghamburkan lagi beras hal mana bertujuan agar para arwah yang kuasa dari pemeliatn terdahulu dan tooq ikut merestui acara yang akan dilaksanakan selanjutnya. Jika mereka turut merestuai maka tentu saja upacara Melas itu akan mujarap.

Sejurus kemudian si pemeliatn tadi mengundang para Tooq lainnya, pertama Tooq Amajulung dan Tooq Kelalutn kilip, kemudian mengundang Tooq yang tinggal di gunung-gunung yakni: Tooq Tukung, atau Tooq Tipang Tukung (harimau gunung). Kemudian Tooq yang bermukim di ulu-ulu sungai terutama sungai Mahakam yakni Tooq Uhung Mekaam. Lalau Tooq puncun lou (Tooq di atas lamin) dari warga setempat.

Bila semua tooq yang diundang sudah hadir, mereka dimohon untuk beristirahat dahulu dan sementara mereka istirahat, si pemelas (pawang melas) tadi menceritakan asal-usul Beliatn Melas sebagaimana diceritakan di atas.

Seusai mitos asal-usul Melas dikisahkan, si pemelas berkata kepada anak-anak dan ibu: “begitu juga hari ini, hendaknya apa yang terjadi pada anak-anak Ajin Nuriq dan Ajin Nuran terjadi pula atas diri anak-anak serta keluarga ini, sebab Tooq semua telah turut memelihara mereka”. Kemudian kepada para Tooq yang madir, si pemelas berkata: “Kami berikan upah (penyuakaaq) yakni tanda dari kami atas kesediaan dan kerelaan para Tooq memelihara anak-anak, keluarga ini sejak sekarang hingga selama-lamanya.

Langkah selanjutnya si pemelas mendupai (ngeluwaq) ayam dan babi. Setelah itu bergantian tangan anak-anak memegang ayam dan babi, kaki diinjakkan ke babi dan sistem pemelas bewrkata: “ayam dan babi ini adalah milik anak-anak dan keluarga ini akan dipotong sebagai tanda dan kurban dari mereka, oleh karena itu, jauhkanlah mereka dari segala penyakit, peliharalah mereka, berikanlah rezeki dan kesejahteraan kepada anak-anak ini”.

Pada akhir acara ngeluwaq ini, ayam dan babi belum dipotong karena masih ada satu langkah lagi yakni upacara berkias tentang menghalau penyakit. Konon pada jaman dahulu yang melakukan acara ini adalah para Tooq yang hadir, namun sekarang disimbolir dengan dilakukan oleh pemelas sendiri.

Selesai acara ini barulah ayam dan babi dipotong. Ayam dipotong dengan sekali tebas di atas kayu pemotong yang disebut Jerokatn, kemudian kepala ayam digantung di bawah benawikng induk. Kedua hewan itu dimasak, dicamur sedikit dengan makanan khusus dimasukkan ke dalam benakaq sebagai makanan Tooq.

Setelah semua benakaq diisi lalu diantar kesuatu tempat jauh dari rumah dibuat tinag dan palangnya untuk menyandarkan bambu-bambu yang disebut benawikng. Tapi sebelum diantar ada acara penumpangan tangan anak-anak di atas benakaq. Pada tiang benawikng induk diikat lagi seberkas kayu api bernama makanan Tooq yang di balut dengan kulit lemang sebagai bekal Tooq. Dengan demikian rangkaian inti dari pelaksanaan upacara adat Melas telah selesai.

Penyelesaian/Penutup

Acara terakhir adalah acara makan bersama, sebagian danging hewan tadi dimasak dan dimakan bersama keluarga dan para pengunjung. Kemudian bagi si pemelas diberi imbalan yang juga bermakna sebagai imbalan bagi para Tooq, berupa: paha babi sebelas kanan, paha ayam sebelah kanan serta tulang ekornya (kerunyit) di tambah beras secara cukupnya, piring, mangkok, dan lading (pisau).

Setelah perangkat imbalan selesai disiapkan, kemudian si pemelas mendupai lagi beras dan memanggil para Tooq supaya bersama-sama menerimanya. Untuk itu par dengan segala isinya (imbalan) diangkat di atas kepala ibu dari anak-anak, sebagai pertanda bahwa imbalan tersebut telah diterima. Namun par itu tidak diserahkan kepada sistem pemelas.

Tidak seperti layaknya upacara adat belian lainnya yang berlaku di kalangan masyarakat Dayak Benuaq, upacara adat melas tidak mengenal pemali (pantangan), baik selama upacara berlangsung maupun seusai upacaranya. Malah bila ada orang datang pada saat upacara Melas telah selesai hal itu dianggap sebagai pertanda yang baik. Kalau toh ada pemali hal itu berlaku untuk pelaksanaan upacara adat Melas bagi orang dewasa yang sakit.

3 Tanggapan to “Beliatn Melas “Ruwatan Anak” Versi Masyarakat Dayak Tonyoi dan Benuaq”

  1. silver fashion jewelry Mei 17, 2010 pada 3:49 am #

    thanx for info

  2. nina queena April 4, 2015 pada 11:13 pm #

    bisa minta alamat email? saya membutuhkan informan terkain kebudayaan masyarakat dayak benuaq untuk penelitian tesis saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: