Justice For All

18 Mei

PROSEDUR DAN TATACARA PENGADILAN ADAT  (Versi Benuaq Tuwayatn)

Kasus-kasus pelanggaran adat yang sering diproses dalam pengadilan adat adalah: kasus-kasus yang berhubungan dengan hubungan sesama manusia, hak milik atau warisan, perbuatan terhadap hewan piaraan, pekerjaan dan usaha, kesusilaan dan etika.

Kasus-kasus adat dalam dalam komunitas Tuwayaatn disebut “urusan” atau “Perkara”. Perkara dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu:

1. Perkara kecil.

Yang dimaksud dengan perkara kecil adalah kasus yang tidak terlalu merugikan atau merendahkan harkat dan martabat seseorang atau korban, misalnya secara tak sengaja menyebabkan  patahnya atau rusaknya beberapa batang tanaman orang. Jika terjadi demikian, masih dikategorikan sebagai “urusan kecil” belum menjadi perkara karena dapat diselesaikan dengan cara kekeluarga antara kedua belah pihak. Pihak yang menyebabkan tanaman orang rusak atau mati, datang dan menyerahkan jomit burei (tepung tawar) kepada pemilik tanaman yang rusak atau mati. Jika pihak yang memiliki korban menerimanya dengan baik, maka urusan selesai.

2. Perkara sedang

Yaitu apabila terjadi kasus adat yang agak berat  namun tidak perlu diurus dengan melibatkan banyak pemangku adat dengan cara yang terbuka. Kasus-kasus seperti pertengkaran atau perselisihan suami isteri namun tidak sampai membuat perceraian. Kasus-kasus yang tidak sampai menghilangkan atau merebut hak orang lain.

Cara menyelesaikan kasus yang tergolong perkara sedang adalah: pertama, penuntut datang menghadap Rt. membawa penenukng dan pengobet paner yaitu berupa sebuah piring dan uang senilai Rp. 50.000 atau Rp.100.000 sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Penenukng dan pengobet paner tersebut sebagai bukti lapor atas kerugiannya dan sekaligus mohon agar pengurus adat (Rt) mengurus tuntutannya pada pihak yang melakukan tindak pelanggaran. Ia juga menyerahkan data-data kerugian dan tuntutannya. Setelah itu pengurus memanggil pihak yang dituntut dan menyampaikan tuntutan pihak korban. Jika ia mau menerimanya dan siap diurus, maka ia harus menyerahkan penenukng atau tanda yang sama kepada pengurus. Kemudian pengurus menentukan waktu hari dan tanggal untuk mempertemukan kedua belah pihak guna mengurusi masalah mereka. Dalam pertemuan yang dihadiri kedua belah pihak, setelah mendengarkan keterangan dari masing-masing pihak, pengurus memberikan keputusan denda kepada pihak yang besalah dan harus dibayar pada saat itu juga. Dalam memutuskan denda, pengurus harus benar-benar mengetahui persoalan perkara sehingga dapat memutuskan sesuai dengan keadilan yaitu dapat diterima oleh pihak korban dan dapat dibayar oleh pehak pelaku tindak pelanggaran adat. Kebanyakan perkara sedang ini dapat diselesaikan pada tingkat Rt. dan  tokoh adat saja.

3. Perkara Solaai (perkara besar).

Yang dimaksudkan dengan perkara besar adalah apabila terjadi kasus-kasus berat yang perlu diurusi dengan melibatkan lembaga adat atau tokoh-tokoh adat misalnya sengketa atas tanah, rebutan harta warisan, perceraian, perkelahian sampai menumpahkan darah atau pembunuhan.

Tatacara mengurus perkara besar dalam kasus-kasus seperti di atas adalah:

  1. Penuntut menyerahkan penenukng kepada Kepala Adat serta menyampaikan tuntutannya.
  2. Kepala Adat memanggil pihak yang dituntut dan memberitahukan bahwa ia mendapat tuntutan dari si penuntut. Jika ia mau diurus, ia harus menyerahkan penenukng dan pengobet paner sebagai tanda bahwa ia mau diurus.
  3. Kepala Adat memanggil para stafnya dan tokoh adat lalu menentukan waktu hari dan tanggal mempertemukan kedua belah pihak dalam Sidang Adat mengurusi sengketa pihak-pihak yang bersangkutan.
  4. Kepala Adat memanggil kedua belah pihak yang berperkara pada hari yang telah disepakati, lalu kepala Adat yang didampingi oleh  stafnya dan para tokoh adat membuka sidang adat dengan menyampaikan ungkapan misalnya, “Lumah penenukng ka epuq lengkep, maka tokai adet lumah saraq pemensara, lumah sarakng bawe arakng, lumah sagiq pemensagiq sookng mantiq, eheq kaitn pengurus  ba terima”. Artinya, segala tanda kalian sudah lengkap, maka perkara kalian kami terima untuk diurusi atau diselesaikan.
  5. Kepala Adat masih meminta persyaratan tambahan kepada kedua belah pihak masing-masing yaitu:

1)       Busakng Penyentuet sebesar satu jie atau seperempat nilai antang. Tanda ini sebagai uang rokok atau upah ngurus perkara.

2)       Bemekng Paliq berupa sebuah tombak dengan nilai satu buah antang atau gawai 40. tanda ini dimaksudkan sebagai bukti bahwa kedua belah pihak tidak akan naik banding berperkara ke tingkat yang lebih tinggi lagi.

3)       Gadeq Besara sebesar gawai 80 atau dua antang. Tanda ini dimaksudkan agar menjadi pagar supaya kedua belah pihak tidak membongkar perkara yang sudah selesai.

4)       Jika dalam urusan selama perkara itu digelar memerlukan seorang pesuruh (Lalakng) maka diminta upah untuk petugas itu berupa: sehelai kain putih (robet kebur jaunt) sebagai simbol untuk mengibaskan embun yang menggangu selama perjalanan, sebuah pisau (isau sungkit duiq) simbol untuk melepaskan/mencongkel duri jika yang bersangkutan terkena/terinjak  duri di perjalanan, sebuah tombak (Tungket Lalakng) sebagai tongkat pesuruh dalam perjalanan agar tidak terjatuh, robet tudu/kebur jautn. Pada zaman dulu semua benda simbolis di atas dalam bentuk aslinya namun sekarang supaya lebih praktis dapat dalam bentuk uang dengan nilai yang sama dengan botot gawai.

5)        Dihadapan para pengurus adat disediakan ruratn yaitu hidangan makanan, gong dan kelaker berupa patung kecil-keicil yang terbuat dari kayu ulin.

Secara bergiliran orang yang berperkara maju dan duduk di atas gong di depan para pengurus adat lalu menguraikan keterangannya dan memberikan tutntutannya sambil memegang kelaker. Jumlah keleker yang dipegangnya menunjukan jumlah butir tuntutannya. Para pengurus adat perlu memperhatikan dengan saksama tentang apa yang diungkapkan oleh penuntut dan yang dituntut karena dengan demikian mereka akan mengerti secara mendalam tentang persoalan yang diperkarakan. Setelah semua pihak yang berperkara mengungkapkan keterangannya, pengurus masih mempertanyakan jka ada hal-hal yang belum jelas baik kepada penunut maupun pada yang dituntut. Jika semua pihak telah mengerti dan memahami tentang apa yang menjadi persoalan dan tuntutan barulah sidang pengadilan adat dimulai. Untuk sampai pada tahap pengambilan keputusan, pengurus adat sebagai hakim dalam perkara itu mengajukan banyak pertanyaan baik kepada penuntut maupun pada pihak yang dituntut. Pertanyaan—pertanyaan itu dimaksudkan  untuk lebih mendalami persoalan perkara agar para pengurus adat dapat memutuskan dengan tepat dan benar sesuai tingkat kasus dan adatnya. Sebelum sampai pada keputusan, banyak pertimbangan dan kebijakan yang perlu diperhatikan baik terhadap si penuntut maupun yang dituntut. Jika perkara atau persoalan itu terlalu sulit, maka para pengurus adat menyingkir ke tempat lain untuk lebih tenang dalam merumuskan keputusan. Setelah itu jika putusan telah disepakati para pengurus adat, barulah putusan itu dismpaikan atau diumumkan dalam sidang. Kadang kala kedua belah pihak yang berperkara tidak mau disidangkan namun mereka lebih suka dengan cara “Sumpah” yaitu sama-sama mengucapkan klaim atas hal yang diperkarakan dan yang benar akan terhindar dari kutukan atau bencana, yang kalah akan terkena kutukan, bencara dan malapetakan bahkan kematian sesuai dengan permintaan dalam kata-kata saat bersumpah.

Barang-barang atau alat yang dipakai untuk bersumpah adalah: taring Harimau, batu-batu dan benda-benda keramat lainnya. Mengenai sumpah ini ada tatacaranya tersendiri.

Selain sumpah untuk menentukan benar dan salah, kalah dan menang dalam suatu perkara juga bisa dipakai cara “Seluk” yaitu pihak yang berperkara diwakili oleh masing-masing pihak,  sama-sama mencelupkan tangan ke dalam sebuah antang untuk mengambil sesuatu yang dibuat serupa dan sama. Sesuatu misalnya uang logam yang disebut “Pisih”. Yang menang akan mendapatkan pisih yang telah dibuat tanda tertentu. Biasanya yang menang akan dengan mudah mendapatkan tanda yang dimaksud, karena atas kuasa para dewa tanda itu langsung menuju ke tangan sang pemenang saat tangan dicelupkan.

Sebelum tangan para pengambil tanda dicelupkan, terlebih dahulu Kepala Adat mengucapkan kata-kata narasi mentera agar para dewa menunjukan yang benar dan yang salah. Tentang seluk ini juga ada tatacaranya tersendiri dan tidak boleh diputuskan jika tidak atas permintaan serta pengakuan kedua belah pihak yang berperkara.

Biasanya pihak yang  berperkara sama-sama menerima hasil dengan cara seluk ini dan meresa puas serta persoalan dianggap selesai dengan damai.

Perkara dinyatakan selesai apabila telah diputuskan oleh pengurus adat dan putusan itu dapat diterima oleh kedua belah pihak yang berperkara dengan kelegaan hati dan sama-sama mengakui akan derajat dan martabanya sebagai manusia.

f . Acara Penutup. Dalam acara penutup ini diadakan acara “Mayak Mantir”, yaitu acara memberikan makanan kepada  dewa pemegang dan penjaga adat karena mereka telah membantu para pengurus dalam menyelesasikan suatu perkara. Selain itu meminta mereka  membawa atau memulangkan segala kejahatan yang dapat menyebabkan perselisihan, pertengkaran, permusuhan dan lain-lain. Menurut kepercayaan, bahwa jika tidak dilaksanakan acara mayak mantir dan meminta mereka membawa naik segala macam kejahatan, maka akan dapat menyebabkab  selalu timbul atau terulang lagi bermacam-macam perkara di dalam masyarakat. Sebelum para dewa itu naik, mereka diminta untuk meninggalkan berkat, kedamaian, ketentraman, persatuan, kerukunan, kesehatan dan keselamatan.

Pelaksanaan acara Mayak Mantir adalah sebagai berikut:

1)   Disediakan hidangan makanan dengan lauk pauk

2)   Ada kain merah digantung

3)   Ada satu ekor ayam, mandau, sumpitan dan daun boyowo (Hanjuang), dupa.

4)   Ada pohon biyowo sebagai tangga yang diikat dengan kain merah kecil-kecil.

Jika semua perlengkapan di atas telah siap, Kepala Adat menghidupkan api dupa lalu berkata, “Eheq ap nogeq ka Timekng Terajuq, Pasoq Kulek, pede Gesaliq Balai Solaai, pengitukng adet suket, nadeq ka nempuk Paliq mara (jariq Lietn), busa burakng, daat daai, beraq bukutn okatn kanen eheq. Nadeq ka oit paliq lietn, kumak kalau, la Papatn Geluq Gulaai Usuk Gemelikng Saikng. Eheq ka umit uncut engkepm, sukar, Timekng Terajuq, nadeq ka nempuk nyang Bawui tuhatn lemu, Tekayo tuhatn Jongan, bawui bugar beliq, tekayo bugar (jangkau) tanuk”. Setiap kali memanggil para dewa tadi, Kepala Adat menghamburkan beras sedikit dan berkata, “Eheq ap nengker boyaas amur jaunt, amur bulau … eraai dueq, toluq, opat, limeq, onem, turu. Iro nadeq turu liwaq peneloas, mali tempuk tereq, walo sencelaokng meno, sie sementere, puluh jawatn juwanan juruq jeruhetn.” Semua pengurus adat memegang tali kain mereh lalu menghamburkan sedikit beras yang ada dalam genggaman secara bersama-sama sebagai tanda bahwa para seniang adet telah membawa pulang sial dan kejahatan naik ke atas langit.

Setelah acara mayak mantir dilanjutkan dengan acara pengolesan jomit burei pada kedua belah pihak yang berperkara dan para hadirin. Sambil mengoleskan jomit burei pada semua hadirin, Kepala Adat berkata, “Eheq ap alaq jomit burei Pelanuk ilak iluk terancan bura tara, naan unuk paparinuk adet utang banansara. Nadeq tereq ngopet jomit lemit, jomit lemit mentih unuk. Nadeq ngasaai burei bura, burei bura ngasaai bokakng. Palit nayuq bu’ukng langit, juwata pantai danum. Eheq tereeq utakng tunek, perkara solukng, utakng solaai waliu kediq, utang kediq waliu aweq.”

Arti dari pengolesan jomit burei (terbuat dari kunyit dan tepung beras yang dibasahkan) itu adalah sebagai perbuatan sombolis yang menyucikan. Alat penyucian adalah jomit burei yang diolehkan pada semua hadirin. Jimit burei itu bermakna menyucikan, membersihkan, mendinginkan tubuh, hati dan pikiran manusia setelah sebelumnya mereka mengalami perselisihan atau berperkara. Dengan itu kesalahan dan utang yang besar berbalik berubah menjadi kecil, kesalahan dan utang yang kecil berubah hingga tiada.

Setelah pengolesan jomit burei, acara terakhir adalah pemberian upah Kepala Adat dan pengurus adat yang turut serta dalam mengurus perkara yang telah mereka selesaikan. Upah itu disebut upah pemensara terdiri dari:

a)   Penenukng dari kedua belah pihak

b)   Busakng Penyentuet

c)    Tanaq Mungkir

d)   Bemekng Paliq

e)    Ujukng gawei

Pada zaman dulu barang-barang tersebut berupa antang atau gawai, langsung dibagikan oleh Kepala Adat kepada semua pengurus yang ikut mengurus perkara, namun sekarang dapat diganti dengan uang karena antang atau barang gawai yang dapat dipakai untuk syarat di atas telah langka.

Selengkapnya download disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: