ETNOGENESIS ADAT DAN HUKUM ADAT BENUAQ TUWAYAATN (I)

30 Jun

1. Mitologi Alam Semesta

Alam semesta atau tatanan kosmos  bagi komunitas Tuwayaatn bukan suatu yang serba kebetulan dan tanpa artinya. Kisah penciptaan dalam mitologi orang  Tuwayaatn menjadi pintu masuk dalam kisah-kisah lainnya. Penciptaan langit dan bumi, makhluk-makhluk penghuni langit, penghuni bumi, air dan di udara bukannya tanpa maksud oleh Sang Pencipta, namun dalam kerangka pembentukan kesatuan kehendak Yang Kuasa. Di bawah  ini penulis sajikan kisah penciptaan alam semesta ini dalam perspektif etnogenesis  Etnik Tuwayaatn.

Orang Tuwayaatn pada umumnya memiliki pemikiran mitologis yang mengisyaratkan bahwa mitos merupakan suatu kejadian yang suci atau suatu peristiwa yang langsung dialami oleh nenek moyang mereka, meskipun terjadinya peristiwa itu tidak dapat dibuktikan secara histories. Paparan kejadian tersebut berfungsi sebagai salah satu unsur bagi norma-norma kehidupan. Oleh sebab itu, sering kali keseluruhan mitos bagi komunitas Tuwayaatn merupakan dasar norma tingkah laku yang menerangkan arti eksistensinya sebagai manusia yang hidupnya harus terarah kepada peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masa lampau.

Sikap ketaatan dan keterarahan semacam itu merupakan salah satu bagian hidup yang penting dalam lingkungan komunitas orang Tuwayaatn, yang berkaitan dengan daur hidup. Untuk lebih memahami eksistensi komunitas orang Tuwayaatn, maka sebagaimana telah dikatakan di atas, terlebih dahulu penulis ketengahkan kisah tentang penciptaan Alam Semesta.

Konon, pada mulanya serba kosong, tak ada langit maupun bumi yang ada hanyalah “Langit Kuasa Tana Kuasa”. Alam semesta belum ada rupanya. Dalam mitologi orang Tuwayaatn, disebutkan bahwa, sebelum terjadinya alam semesta beserta isinya, pada waktu itu adalah suatu mkhluk yang disebut Perjadiq Bantikng Langit. Mahkluk itu berasal dari cahaya gunung emas dan gunung intan. Perjadiq Bantikng Langit,  berdiam di suatu tempat yang disebut, Batuq Dikng Dingkikng Leputukng Rangkakng Bulaau, Saikng Puncek Geler saikng Batuq Amas, yang disebut juga Tana Kuasa. Adanya Langit Kuasa Tana kuasa itu karena “ada”, tidak ada asal usulnya, karena itu disebut Langit Kuasa Tana Kuasa.

Kemudian atas kehendaknya sendiri, Perjadiq Bantikng Langit, menciptakan beberapa makhluk lain yang disebut, Sengkereakng Sengkerepakng, Temerikukng Urai, siluq Urai, Ayus Junyukng, Tonooi, Anai Tuhatn Ayatn, Itak Autn, Kakah Autn. Kesemua makhluk tersebut diberi “kuasa” masing-masing dan berperan sebagai pembantu Perjadiq Bantikng Langit dalam proses pemciptaan alam semesta beserta isinya.

Melalui bantuan  makhluk-makhluk tersebut dengan bekerja sesuai kehendak Perjadiq Bantikng Langit, diciptakanlah langit dan bumi yang memerlukan waktu selama delapan hari lamanya. Pada saat langit dan bumi diciptakan, Perjadiq Bantikng Langit merasa perlu menciptakan lagi makhluk yang mempunyai keahlian khusus, maka dia menciptakan lagi makhluk-makhluk yang disebut Nayuq, di antaranya adalah:

a. Nayuq Penempaq Langit Tana

1)           Nayuq User dan Nayuq Riwut, yang berfungsi mengendalikan arah angin dan memasang api.

2)           Nayuq Geruhaq Tuhaq, yang berfungsi memanfaatkan angin untuk keperluan penempaan.

3)           Nayuq Ketimer Nempaq Tana, yang berfungsi menempa tanah/bumi.

4)           Nayuq Ketinger Nempaq Langit, yang berfungsi menempa Langit;

5)           Para Nayuq lainnya yang keseluruhannya berjumlah sembilan belas.

Peranan para Nayuq tersebut di atas, merupakan satu kesatuan utuh yang tak terpissahkan satu sama lain. Dengan bekerja menggunakan  kuasa yang diberikan oleh Perjadiq Bantikng Langit kepada para Nayuq tersebut, maka terciptalah Langit dan Bumi.

Di atas lagit terdapat bermacam-macam tempat sesuai dengan tingkatannya. Pada masing-masing tempat dan tingkatan langit ditempati macam-macam makhluk penghuni dan macam-macam sebutannya pula. Tempat-tempat di atas langit itu sering disebut Jaa Bawo Langit atau Benua Bawo Langit. Dalam narasi beliatn dan wara tempat-tempat di atas langit itu dilukiskan sangat indah dan hidup.

Penciptaan langit di sini mungkin juga berarti  termasuk penciptaan benda-benda langit yang lain seperti, mata hari, bintang dan bulan dan benda-benda angkasa lainnya. Dalam budaya orang Tuwayaatn, semua benda ciptaan itu mempunyai arti bagi kehidupan manusia.

b. Nayuq Penjaga Langit Tana

Kemudian Perjadiq Bantikng Langit menciptakan lagi beberapa Nayuq, serta memberi tugas kepada mereka yakni:

1)     Nayuq Joot Balotn Kawit, dengan tugas menjaga Ufuk Barat (Ollo Mate).

2) Nayuq Joot Balotn Bulaau, dengan tugas menjaga Ufuk Timur (Ollo Empet).

3)     Nayuq Pepuatn Ontekng Senseloi Matukng Tana, dengan tugas menjaga dan memelihara keutuhan tanah.

4)     Nayuq Joot Malikng Guntikng, dengan tugas menjaga keutuhan langit.

c. Temerikukng adalah Manusia Pertama

Selanjutnya Perjadiq Bantikng Langit, memerintahkan Ayus Junyukng  menggunakan sisa bahan penciptaan langit dan bumi, untuk membentuk patung yang bewujud satu jenis makhluk lagi. Pekerjaan itu dilaksanakan oleh Ayus Junyukng dengan membuat patung berwujud satu makhluk dari sisa bahan langit dan bumi. Selanjutnya  ia berkeinginan agar patung tersebut bisa bernafas dan bergerak, untuk itu Ayus Junyukng menghadap Perjadiq Bantikng Langit, guna memohon petunjuk agar kehendaknya terwujud. Namun karena ia lupa, maka patung itu menjadi makhluk jahat yang disebut, Uwok Dirikng Langit. Itulah makhluk jahat yang pertama.

Kemudian Ayus Junyukng dengan menggunakan bahan dan proses yang sama, membentuk lagi sebuah patung yang kemudian berwujud manusia Tamarikukng, dan kali ini ia melaksanakannya dengan tepat sesuai petunjuk Perjadiq Bantikng Langit. Ia menyiraminya dengan air tawar, air asin, air asam, air anyir, air pahit. Setelah disirami dengan dengan bahan-bahan tersebut, Ayus Junyukng menghembuskan nafas kehidupan ke dalam patung itu, maka terjadilah manusia pertama berjenis kelamin laki-laki yang disebut Temerikukng Mulukng. Pada saat hendak mencipta manusia pertama berjenis kelamin perempuan, Ayus Junyukng ternyata kehabisan bahan. Sehingga atas petunjuk Perjadiq Bantikng Langit, dicabutkannya sebuah tulang rusuk kiri Temerikukng Mulukng lalu  ditanamkannya di dalam tanah. Perjadiq Bantikng Langit berpesan agar Temerikukng Mulukng baru boleh memetik hasilnya setelah genap berusia delapan hari.

Satu hari sebelum tiba waktunya, Temerikukng Mulukng menjenguk tanaman tersebut dan ternyata telah berwujud seorang perempuan sedang berdiri tegak di atas tanah. Tanpa memperdulikan perintah dari Perjadiq Bantikng Langit, diangkat dan  dikikisnya tanah yang masih melekat pada telapak kaki perempuan itu. Tanah yang melekat di telapak kaki perempuan tersebut dinamai Tana Puluq Mate, dan dari sebab itu manusia dapat mengalami kematian. Lalu didekapnya perempuan itu hendak dijadikan  isterinya.

Pada saat Temerikukng Mulukng merangkul perempuan itu, Perjadiq Bantikng Langit menegurnya, “Hai Temerikukng jangan dulu engkau dekap, nikahlah dulu, perempuan itu memang untukmu”.

Perempuan yang oleh Temerikukng Mulukng dinamai Ape Bungen Tana itu hendak dijadikan istri oleh Temerikukng Mulukng, namun belum sempat terwujud karena keburu mati dan hancur akibat tertimpa air hujan. Genangan jasad perempuan itu ditampung oleh Temerikukng Mulukng dalam Teliwukng Uyukng yang terbuat dari kulit kayu, untuk selanjutnya disimpan dalam tempat yang disebut Petiq Angetn Bulaau.

Selang delapan hari Petiq Angetn Bulaau dibuka, maka melengkinglah tangis seorang bayi perempuan yang selanjutnya diberi nama, Teliwuknng Uyukng, geler Ayakng Diakng Rano.

Setelah dewasa Ayakng Diakng Rano inipun ingin dijadikan Temerikukng Mulukng sebagai isterinya, tetapi ia menolak diperisterikan oleh Temerikukng Mulukng, dengan alasan hubungan mereka adalah sebagai ayah dan anak. Namun, atas kuasa yang ada pada Temerikukng Mulukng, ia bisa merubah dirinya, sehingga tak dikenal, akhirnya  Ayakng Diakng Rano berhasil diperisterikan.

Namun identitas Temerikukng Mulukng, di kemudian hari terbongkar juga. Karena perkawinan mereka dalam hubungan ayah dan anak, maka  anak mereka yang pertama dan beberapa lagi yang lahir dalam keadaan cacat. Anak-anaknya yang cacat, yang pertama, diberi nama Seniang Galekng, kedua, Seniang Sahuq (akibat perkawinan salah purus), ketiga, Seniang Sumakng, keempat, Seniang Kepit, kelima, Seniang Posa.

Sedangkan anak-anak dari Temerikukng Mulukng yang tidak cacat antatra lain: Seniang Juma, Seniang Suraat, Seniang Besara, dan beberapa seniang lainnya yang masing-masing mempunyai peran tertentu bagi kehidupan manusia.

d. Anak-anak Temerikukng yang berperan khusus

Dari sekian banyak anak Temerikukng Mulukng, terdapat enam orang yang memiliki peranan khusus terhadap tata kehidupan manusia, yaitu:

1)     Jurikng Ollo, yang bertugas mengendalikan kekuasaan para raja (mantiq Tataau).

2)     Danah Ollo, yang menjadi sumber adat-istiadat.

3)     Danih Ollo, yang menjadi sumber adat Beliatn Lewangan.

4)     Lilir Langit, yang menjadi sumber adat Beliatnn Bawo.

5)     Lesayo Ollo, yang menjadi summer kekuasaan para Nayuq pendamping manusia yang ada di bumi.

6)     Punen, yang kemudian menurunkan manusia di bumi.

Anak dari Punen sangat banyak, sedemikian banyaknya digambarkan dalam analog berikut “sie leleatn wee, walo leleatn lampukng”, sehingga ada diantaranya menjadi makhluk jahat “hantu”, ikan, babi, rusa, buaya dan yang terakhir bernama Sia, yang menurut kepercayaan orang Tuwayaatn merupakan nenek moyang manusia.

Keturunan Sia, diantaranya ada yang terusir dan menjadi Mulaakng, yakni menjadi sumber penyakit demam. Mulaakng Tengkelimas, menjadi sumber penyakit cacar dan semua jenis penyakit perut, Juata, yang menjadi sumber penyakit anak-anak dan lain-lain.

Dari keturunan Punen ini berkembanglah populasi manusia di muka bumi. Selain itu dalam mitologi-mitologi  lain orang Tuwayaatn masih ada manusia lagi yang diturunkan dari langit pada waktu dan tempat yang berbeda pula.

2. Kekacauan Manusia di Bumi

Setelah Temerikukng kawin dengan Ayakng Diakng Rano yang adalah sebagai anaknya sendiri, maka lahirlah anak banyak sekali. Sejak itu manusia bertambah banyak di bumi ini dan menyebar ke berbagai pelosok dunia. Peroses perkembangan dan penyebaran manusia sejak awal mulanya berlangsung beribu-ribu abad dan mengalami bermacam-macam tingkatan perkembangan. Banyak bagian muka bumi ini jadinya telah ditempati oleh manusia. Tempat-tempat  yang dikenal pada waktu itu adalah Tenukng Beremauq Siwo Ore tempat tinggal Rajaq Kilip, Tanyukng Ruakng, Tanyukng Lahukng tempat Rajaq Aji, Dataai Lino, Bawo Ampukng Jengan, Tenukng Merelomuq, Usuk Riutn Munte, Aput Pererawetn, Nancakng Tenekng, Bentas Turih lalukng,  dan Kutaq Lisat Tenungket.

Selain keturunan dari Temerikukng, ada beberapa tokoh yang banyak disebutkan dan berperan pada zaman awal budaya, mereka diciptakan dari Bahan-bahan “tempukur langit – tana”, yaitu sisa-sisa bahan ramuan langit dan tanah. Mereka  adalah Rajaq Kilip yang tinggal di Jaa Tenukng Beremauq Siwo Ore, dan Rajaq Aji serta anak cucunya di Tanyukng Lahukng. Dalam beberapa kisah atau dongeng nama-nama tokoh ini selalu disebutkan seperti: Rajaq Kilip, Rajaq aji, Delooi, Monaq, Dalukng, Nalau, Ape, Rempiaq, Ringeng, Oso. Sebelumnya ada Datu dan dara, dan masih banyak lagi yang tidak disebutkan namanya. Zaman  itu manusia disebut zaman Lalukng karena mereka masih dapat berhubungan dengan makhluk-makhluk dunia langit yang penuh keajaiban.

Manusia yang hidup zaman Tenukng Beremauq, Bawo Ampukng Jengan, Tanyukng Ruaakng, Datai Lino, mengalami kekacauan karena belum ada adat yang dipakai dalam mengatur dan mengendalikan  kehidupan bersama. Setiap hari bisa terjadi perselisihan, perkelahian, permusuhan dan pembunuhan, entah itu terjadi dalam bentuk dan hal apa saja. Manusia masing-masing ingin menangnya sendiri. Masing-masing dapat berbuat sekehendanya sendiri.  Belum jelas batas antara hak orang yang satu dengan orang yang lain, semuanya serba bisa berbuat apa sekehendaknya. Orang yang kuat dan kuasa dialah yang menang. Oleh karenanya pada zaman itu  dikatakan manusia hidup “Bolupm pakatn senarikng deoq umeq aweq elakng, belai aweq benturatn. Ledok sikuq beau nganukng tauq, lebek asekng beau nganukng panei.” Artinya dan maknanya bahwa perilaku hidup manusia  tanpa batasan yang jelas, hati dan pikirannya tanpa kebijakan dan pengetahuan. (Bersambung)

SUMBER : BUKU PENELITIAN ADAT DAN HUKUM ADAT BENUAQ TUWAYAATN (CERD-BAPEDA KUTAI BARAT) 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: