Beberapa Kasus Perkawinan Dalam Masyarakat Adat Dayak Bahau

27 Mar

Kasus Perkawinan Dalam Masyarakat Adat Dayak Bahau
Salah satu tujuan suatu lembaga perkawinan adalah membangun kehidupan bersama antara suami dan isteri atas dasar ikatan cinta kasih dalam misi melanjutkan generasi umat manusia di dunia ini. Kesetian suami dan isteri sangat diuji dalam mengarungi dunia perkawinan yang secara sengaja telah dipilih bersama. Dalam budaya etnik Bahau, perkawinan dipandang sebagai suatu yang sakral dan bukan saja dipandang sebagai urusan pribadi pasangan suami isteri, malainkan juga memuat dimensi sosio-cultural. Oleh karena itu, pasangan suami isteri seyogyanya selalu dan harus membangun dan mempertahankan keutuhan kehidupan keluarga. Namun dalam kenyataan, kita kenal beberapa kasus perkawinan, yang tentu saja merupakan suatu pelanggaran perkawinan. Kasus-kasus yang terjadi sehubungan dengan perkawinan adalah:
2.1. Perselingkuhan (petuyang)
Petuyang, dalam pengertian adat masyarakat Bahau Kecamatan Long Hubung dan Kecamatan Laham adalah perselingkuhan. Macam-macam pelanggaran adat perkawinan yang termasuk petuyang adalah:
2.1.1. Seorang isteri atau suami yang sah, berselingkuh dengan suami atau isteri lain yang sah menurut hukum adat.
Ketentuan adat yang dikenakan terhadap pelaku pelanggaran di atas adalah:
Pertama, pihak suami (laki) harus membayar denda adat sebasar 10 buah antang, dan perempuan sebesar 7 buah antang, kepada pihak suami atau isteri yang sah.
Kedua, Jika yang telah melakukan perselingkuhan telah ada anak, maka harus diadakan acara Duwai sejumlah anak yang ada, dan jika laki yang berselingkuh dengan perempuan yang telah punya suami atau anak, maka harus diadakan acara Duwai untuk suami atau anak yang sah tadi.
Ada pun barang-barang yang dipakai dalam acara adat Duwai adalah:
Tabel 2 : Barang Adat Dawai
No. NAMA BARANG JUMLAH
1. Antang atau tajau 1 buah
2. Malaat (parang) 1 buah
3. Tepatung malaat 1 buah
4. Lekuq 1 buah
5. Ayam hitam 1 ekor
6. Kain putih 1 meter
7. Telur ayam 1 biji

2.1.2. Seorang perempuan dan laki hidup bersama dalam satu rumah sebagai suami isteri namun belum sah secara adat atau pun agama.
Pelanggaran semacam ini dalam bahasa Bahau disebut petuyaang ayaq. Terhadap pelanggaran ini, kepada pelaku dikenakan ketentuan sebagai berikut:
Pertama, dibuat adat soot dan adat sahuq. Adat ini dilakukan sebelum kawin adat dilaksanakan.
Kedua, jika belum dilaksanakan kawin adat, maka keduanya setiap tahun harus membayar kaping umaq, untuk melas tanah sebelum membuka lahan ladang.
2.1.3. Anak tiri perempuan atau laki kawin dengan orang tua tiri
Terhadap kasus yang ketiga ini, ketentuan adat sama dengan ketentuan pada kasus kedua. Para pelanggar diwajibkan melaksanakan ketentuan berikut:
Pertama, membuat adat soot dan adat sahuq. Adat ini dilaksanakan sebelum perkawinan adat dilakukan.
Kedua, jika mereka belum melakanakan adat tersebut di atas, maka kepada mereka diwajibkan setiap tahunnya membayar kaping umaq, untuk melas tanah sebelum membuka lahan perladangan.
Ketiga, mereka juga harus membayar denda adat, dengan ketentuan, pihak laki 10 buah antang dan perempuan 7 buah antang. Denda tersebut dibayarkan kepada suami dan isteri yang sah .
Keempat, Jika suami dan isteri yang sah tadi mempunyai anak, maka terhadap mereka yang melakukan perselingkuhan tadi diwajibkan membuat acara Duwai sejumlah anak yang ada. Rincian tentang barang-barang yang dipakai dalam adat Duwai sama dengan ketentuan pada poin pelanggaran kedua di atas.
2.1.4. Anak tiri perempuan kawin dengan bapak tiri, atau anak tiri laki dengan ibu tiri.
Jika terjadi kasus di atas, maka ditangani sama dengan pada kasus nomor dua di atas.
Pertama, dibuat adat soot dan sahuq terlebih dahulu sebelum diadakan perkawinan adat.
Kedua, jika acara perkawinan adat belum dibuat, maka pelaku harus membayar kaping umaq untuk melas tanah setiap tahunnya, sebelum membuka lahan perladangan.
Ketiga, kepada mereka dikenai denda adat sebesar: 10 buah antang untuk laki dan 7 buah antang untuk perempuan. Denda tersebut dibayarkan kepada suami atau isteri yang sah.
Jika suami atau isteri yang sah tadi mempunyai anak, maka mereka yang petuyang harus melaksanakan adat Duwai untuk masing-masing anak.
2.1.5. Anak tiri kawin dengan anak tiri.
Dalam kasus ini yang dimaksud dengan anak tiri misalnya adalah, anak perempuan dari seorang ibu yang kawin dengan seorang bapak yang sebelumnya yang telah mempunyai anak laki. Kemudian anak laki dari seorang bapak tadi kawin dengan anak perempuan dari ibu yang dikawini bapaknya. Maka perkawinan tersebut dinamakan perkawinan antar kedua anak tiri. Perkawinan yang demikian itu adalah pelanggaran adat dalam etnik Bahau dan karenanya harus melaksanakan ketentuan hukum adat yang berlaku.
Ketentuan adatnya adalah: Terhadap pelanggar adat harus melaksanakan adat soot. Adat tersebut dilaksanakan sebelum kedua pelaku melangsungkan perkawinan adat secara resmi. Jika keduanya belum melaksanakan adat tersebut, maka diwajibkan harus membayar kaping umaq setiap tahunnya, sebelum membuka lahan perladangan.
2.1.6. Saudara dengan saudara.
Yang dimaksudkan saudara dengan petuyang antar saudara adalah, sama-sama saudara kandung melakukan perkawinan, atau saudara yang masih ada hubungan darah dekat dengan yang bersangkutan. Dalam adat etnik Bahau perkawinan semacam ini dilarang dan jika terjadi, mereka yang melakukannya harus melaksanakan ketentuan adat sebagai berikut:
Pertama, membuat adat soot dan adat sahuq. Adat tersebut dilaksanakan sebelum perkawinan adat dilangsungkan.
Kedua, membuat adat Abai.
Ketiga, Setiap tahun yang melakukan pelanggaran adat tersebut harus membayar kaping umaq untuk melas tanah, sebelum membuka lahan perladangan.
2.1.7. Bapak dengan anak kandung perempuan, atau ibu dengan anak kandung laki.
Yang dimaksudkan dalam kasus ini adalah, jika terjadi perkawinan antara bapak dengan anak kandung perempuan atau Ibu dengan anak kandung laki. Perkawinan tersebut sangat ditentang dan karenanya harus diproses baik secara hukum adat setempat maupun hukum pidana.
Atas pelanggaran tersebut, ketentuan adatnya adalah:
Pertama, Pelanggar harus membuat adat soot dan adat sahuq. Adat tersebut dilaksanakan sebelum kawin adat dilaksanakan.
Kedua, Diwajibkan membuat adat Abai.
Ketiga, Diproses secara hukum pidana.
2.1.8. Saudara angkat dengan saudara angkat.
Petuyang saudara angkat dengan saudara angkat adalah, petuyang yang dilakukan antar saudara yang saling mengangkat untuk dijadikan saudara. Jika terjadi demikian, maka adat menuntut mereka harus membuat adat Hawaq.
2.1.9. Anak angkat dengan bapak angkat, atau anak angkat dengan ibu angkat. Petuyang dengan cara demikian di atas dinilai melanggar hukum adat. Terhadap oknum yang melanggar tersebut dikenai sanksi adat sesuai dengan hukum adat yang berlaku yaitu:
Pertama, Dibuat adat soot dan adat sahuq. Adat tersebut dilakukan sebelum melangsungkannya perkawinan adat.
Kedua, bila kedua adat tersebut belum dilakukan, maka pelaku harus membayar kaping umaq untuk melas tanah sebelum membuka lahan perladangan.
2.1.10. Seorang perempuan dihamili oleh seorang laki, tapi laki tersebut tidak mau mengawininya.
Jika terjadi kasus seperti di atas, pihak adat memutuskan:
Pertama, kedua pelaku harus dikawinkan secara adat.
Kedua, pelaku laki harus menanggung biaya kehidupan anak hingga anak yang bersangkutan mandiri.
Ketiga, jika laki yang menghamili tidak melaksanakan keputusan adat, maka kasus tersebut diproses secara pidana.
2.1.11. Seorang laki yang telah mempunyai isteri yang sah, menghamili isteri orang lain yang sah.
Terhadap kasus di atas, ketentuan adat mengharuskan:
Pertama, pelaku laki harus membuat acara untuk anak.
Kedua, pelaku diwajibkan untuk membuat adat petutau dengan tanda satu buah agong (gong), diberikan kepada suami perempuan yang dihamili.
Ketiga, si perempuan yang dihamili diwajibkan memberi satu antang kepada isteri pelaku yaitu laki yang menghamili.
Keempat, si laki diwajibkan harus menanggung biaya anak dari masa sejak kelahiran sampai si anak yang bersangkutan dapat mandiri.
2.1.12. Seorang perempuan dihamili oleh seorang laki, namun ia tidak mengawininya
Jika terjadi kasus seperti di atas, maka oleh pihak adat, diputuskan bahwa pelaku harus dikawinkan secara adat dengan perempuan yang dihamilinya. Biaya hidup anak harus ditanggung oleh sipelaku sampai anak tersebut bisa mandiri. Jika si pelaku tidak mau mengindahkan putusan adat, maka selanjutnya diproses secara hukum pidana.

3 Tanggapan to “Beberapa Kasus Perkawinan Dalam Masyarakat Adat Dayak Bahau”

  1. Ekoo Mei 28, 2013 pada 8:15 am #

    Kalau Antang, Denda Masalah Berbeda agama, tapi Wanita itu hamil.. Bgmna? Dan Masalah ingin Menikah hanya karna Beda agama? Bagaimana?

    • anakkubar09 Mei 31, 2013 pada 3:27 pm #

      Masalah beda agama tentunya gak ada dendanya, yang didenda itu ya kasus menghamili, Mayoritas masyarakat adat dayak Bahau beragama Katholik tentunya perkawinan beda agama tidak dianjurkan/ dilararang, gitu dulu ekoo, mau ada yang nambahin..?

  2. Toko Furniture Jepara Juni 12, 2014 pada 3:46 pm #

    bagus banget artikelnya mas,, sangat membantu, dan bermanfaat, sekali lagi maksih ya, salam kenal, kami tunggu artikel berikutnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: