MITOLOGI SENGKREAQ VERSI RENTENUKNG LINGGANG

13 Sep

Daerah Engkalakng dan sekitarnya yang dikenal masyarakat Rentenukng Linggang hingga sekarang merupakan tempat yang menyimpan sejarah cikal bakal kerajaan Sendawar. Namun sementara ini masih merupakan folklor kalangan komunitas budaya etnik Rentenukng di Kecamatan Linggang Bigung. Daerah inilah sejarah hidup Tulur Aji Jangkat di mulai dan dipersiapkan oleh delapan orang bersaudara yang di sebut Sengkreaq. Sengkreaq ini yang membimbing dan menuntun tulur Aji Jangkat hingga kelak memimpin Kerajaan Sendawar. Namun peran para Sengkreaq ini kurang diakomodir dalam beberapa riset tentang Kerajaan Sendawar.

  Untuk itulah mengapa proyek folklore ini diusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Barat? Pertama, sesungguhnya komunitas Dayak Rentenukng di Kabupaten Kutai Barat memiliki sangat banyak ragam tradisi lisannya, namun hingga sekarang belum ada upaya sistematis untuk melestarikannya, apalagi meneliti dan menulisnya. Oleh karenanya, dikhawatirkan bahwa tradisi lisan itu akan punah. Kedua, generasi muda kita yang diharapkan untuk mendukung dan memiliki rasa bangga akan tradisi budayanya itu, malah semakin hanyut dalam arus modernisasi yang justeru berisiko tinggi melemahkan ketahanan dan kebanggaan akan tradisi budaya tradisional itu sendiri. Ketiga, masyarakat tradisional dan       modern sama-sama membutuhkan bingkai-arah spiritualitas pembangunannya berupa kearifan budaya sebagai sumber harga diri dan identitasnya sendiri. Sumber spiritualitas ini terdapat dalam folklor itu sendiri. Keempat, perubahan dari budaya lisan ke budaya tulisan tidak terhindarkan. Proses perubahan ini perlu dikawal secara arif-bijaksana dan disikapi secara cultural self-reflection. Kelima, Kabupaten Kutai Barat membutuhkan Lembaga Ketahanan Budaya Tradisional, baik itu Lembaga Permuseuman Budaya maupun Lembaga Folklor. Keenam, Bupati Ismail Thomas, SH mempunyai komitmen yang sangat tinggi terhadap upaya pelestarian budaya tradisional, termasuk folklor yang menjadi fokus proyek ini. Jadi Proyek ini merupakan respons terhadap berbagai pertimbangan sosio-kultural di seputar kebudayaan pembangunan Kutai Barat itu sendiri.

MITOLOGI SENGKREAQ

Setalah langit dan bumi telah selesai diciptakan (genesis), namun tidak ada makhluk yang menghuni atau manusia yang mendiaminya. Maka Ayus Junyukng memerintahkan kepada Ayaakng Komaakng Lolaakng untuk membuat patung setengah jadi, lalu dimasukkan ke dalam ayunan dari kulit kayu. Patung itu kemudian diayun-ayunkan oleh Itaaq Diaakng Buyukng dengan menghadap ke arah matahari terbenam, namun patung itu diam dan tidak bergerak akhirnya jatuh dari ayunan itu.

  Junyukng Ayus lalu memerintahkan kepada Poteek Telose Sie dan Ayaakng Komaakng Lolaakng untuk bekerjasana dengan Rirukng Tunyukng untuk menyelesaikan patung tersebut. Patung itu akhirnya selesai, kemudian dimasukkan dalam ayunan dan diayun-ayunkan oleh Itaaknmg Bulatn Terakng  dan Diakng Reura dengan arah yang mengahadap ke arah matahari terbit. Lantas tidak lama kemudian, maka kaki dan tangan patung itu bergerak yang disertai seperti suara terbang nyamuk, dan terjadilah bahwa patung tersebut berubah menjadi manusia yang berdiri tegak dan bisa berbicara.. Manusia dari patung itu kemudian diberi nama Tamanrikung Langit, yang bertempat tinggal di Bawo Ujukng Langit.

  Tamanrikukng diberi tugas untuk memelihara dan tinggal di bumi ini. Pada saat itu semuanya serba baru. Di antara langit dan tanah (bumi) masih ada tiang penyangganya. Ayus Junyukng dan Siluq Urai memberi tugas kepada Tamanrikukng untuk menjaga dan memeriksa tiang langit dan penahan tanah itu setiap hari.

  Di Bawo Ujukng Langit, Tamanrikukng langit hidup seorang diri yang hanya ditemani oleh seekor landak (setuui) yang terpisah dari kawanannya. Karena merasa kesepian, maka timbullah keinginannya untuk mempunyai teman untuk bertukar pikiran dan bercengkrama. Untuk itu, ia mencabut tulang rusuknya yang sebelah kiri  dengan membuang tanpa arah yang pasti, sambil berikrar bahwa ia akan mengelilingi bumi dalam waktu delapan hari kemudian. Namun, pada hari ketujuh dia sudah pergi dan sampai ke tempat yang dimaksudkannya, maka tiba-tiba ia melihat ada kepala wanita keluar dari dalam tanah.

  Lantas Ia mau mencabut kepala wanita itu dari dalam tanah (bumi), tetapi kepala itu berkata: “Jangan kau cabut kepalaku sekarang, tetapi bila waktunya telah genap delapan hari – delapan malam barulah kamu boleh ke sini dan mengambil aku untuk menjadi isterimu”.

  Tamanrikukng pulang dengan hati yang berbunga-bunga kasmaran, karena akan mendapat seorang wanita cantik untuk menjadi isterinya. Dari hari ke hari Tamanrikukng menahan rasa cintanya, namun toh akhirnya ia tidak tahan lagi, dan pada hari yang ketujuh, ia pergi ke tempat itu tadi.  Sesampai di sana, maka dilihatnya wanita itu sudah berdiri tegak di atas tanah (bumi), namun bagian telapak kakinya saja yang masih melengket pada tanah. Karena tidak sabar lagi, maka ia merangkul wanita itu seerat-eratnya dalam dekapnya, lalu mencabut mandau dari sarung yang terus bertengger dipinggang sebelah kirinya, dan mengikis sisa-sisa tanah (bumi) di kaki sang wanita cantik punjaanya itu.

  Pada saat itu pula, wanita itu berkata: “Sejak sekarang sampai turun-temurun, manusia di bumi ini harus mati, karena pada telapak kakiku ini masih ada sisa tanah, tanah kematian”. Wanita itupun menyebutkan namanya, yaitu Ape Bungen Tana. Artinya Bunga Tanah.

Sumber : MITOLOGI SENGKEREAQ VERSI RENTENUKNG LINGGANG DALAM PERSFEKTI ILMU FOKLOR- CERD-BAPEDA KUBAR (2009)

selengkapnya download disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: