8 Des

 KEHAMILAN DAN KELAHIRAN  MENURUT  ADAT DAYAK BENUAQ TUWAYAATN

1.   Kehamilan dan Kelahiran

     Dalam komunitas orang Tuwayaatn, ada upacara beliatn untuk seorang ibu yang sedang hamil yang disebut “ngrasiq ngeradek”. Upacara ini bertujuan menghilangkan “busakng serangen” yaitu roh penggangu baik bagi sang ibu maupun cabang bayi yang dikandung. Dengan upacara tersebut diharapkan bayi yang akan dilahirkan dalam keadaan sehat dan demikian pula dengan ibunya tak mengalami kesulitan saat melahirkan. Untuk membantu proses kelahiran seorang bayi, umumnya dipakai bidan kampung yang disebut “pemelolos”. Orang yang mempunyai keahlian sebagai bidan kampung, sebelumnya mesti telah berguru pada “pemelolos” yang senior dan berpengalaman. Sang bidan tidak semata-mata mengandalkan kekuatannya sendiri, namun ia didampingi roh yang disebut “pujut penguyut, tonoi penyokooi, edos pemelolos.” Mereka itulah yang bekerja melalui sang bidan.

     Setelah seorang anak lahir, biasanya orang Tuwayaatn melaksanakan upacara “nota” dan pemberian “temaai” atau upah “Pemelolos”. Selanjutnya acara “Ngulas Pusokng, Ngeragaq atau Ngareu Posokng”. Upacara ini hampir selalu diadakan untuk seorang bayi yang baru lahir atau masih balita dalam lingkungan orang Tuwayaatn. Tujuannya adalah untuk membuang  hal yang jahat yang mungkin menimpa si bayi dan memohon pada para dewa yang disebut “Tonooi Sencoet” agar mereka membantu memelihara dan menjaga sang bayi dari segala macam ganguan roh jahat dan penyakit. Acara “Makatn Tonoi” adalah suatu acara memberi persembahan sebagai upah  para Tonoi penjaga anak, karena mereka dimintai bantuannya. Kepercayaan tradisional kepada roh-roh pembantu manusia, masih kental dalam masyarakat Tuwayaatn. Boleh jadi itu sebabnya bahwa sampai kini, komunitas orang Tuwayaatn masih memegang teguh adat istiadat atau tradisi secara murni.

2. Memelihara  Anak

     Anak yang baru dilahirkan segera diadakan upacara pemeliharaan. Upacara yang pertama adalah “Ngeranyeh” bayi dan ibunya. Ngeranyeh adalah ritual mengibas-ngibaskan nyala api dari seberkas daun “pepuatn” mengitari bayi yang dilindungi dengan tikar berbentuk kerucut. Pertama, mengibas-ngibaskan api mengitari perlindungan sang bayi dengan tangan kiri sambil mengarahkan ke sebelah mata hari terbenam. Tujuan dari upacara ini adalah membuang hal yang jahat dan kotor dari sang bayi seperti kehampaan, kegagalan, kesialan, kematian. Selanjutnya berbalik dengan tangan kanan dan mengarah ke mata hari terbit. Dengan maksud agar sang bayi tumbuh dengan sehat, makin cerdas dan bertambah hikmat, menjadi kegembiraan dan kebahagian orang tuanya dan keluarga.

     Upacara berikutnya adalah “Ngulas Pusokng atau Ngeragaq”. Tujuan upacara ini juga sama yaitu membuang segala kehampaan dan roh kejahatan pada sang bayi. Dalam acara ini keluarga melalui pemeliatn meminta bantuan pada para “Tonooi sencoet” agar mereka membantu menjaga anak yang baru dilahirkan itu. Dalan upacara ini ada acara “Makatn Tonoi” yaitu memberi makan para Tonooi sebagai upah mereka membantu memelihara anak yang baru dilahirkan. Suasana “Makatn Tonooi” biasanya sangat meriah, karena diiringi dengan tari-tarian dan yel-yel kegembiraan yang disebut “Layaau – le le” sambil mengitari sang bayi yang berada dalam pagar perlindungan yang terbuat dari kain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: