Arsip | Adat Tonyoi dan Benuaq RSS feed for this section
Sampingan

MEMBACA TANDA- TANDA ALAM (Versi Benuaq Tuwayaatn)

9 Des

 Tanda-tanda alam itu dapat melalui perantaraan burung, binatang lain seperti : serangga, ular dan elemen lingkungan alam lainnya dapat dianggap mempunyai arti tertentu bagi manusia dalam praksis kehidupannya. Manusia harus memperhatikan tanda-tanda itu kalau ingin sukses dalam rencana dan kegiatannya. Pada zaman dulu, ketika orang Dayak di Borneo masih mempraktekkan tradisi mengayau, maka penting sekali memperhatikan tanda-tanda entah itu dari burung atau binatang lainnya, dengan maksud mendapatkan petunjuk apakah misi mengayau itu berhasil atau tidak, atau memperoleh keselamatan atau mendapat bencana. 

Tanda-tanda yang dianggap memberi petunjuk oleh komunitas Orang Tuwayaatn khususnya Benueeq Dayeeq disebut bayaaq nyahuq. Pada umumnya dalam komunitas Orang Tuwayaatn dulu dan bahkan sekarang pun masih ada, dalam melakukan pekerjaan missalnya membuat rumah atau ladang, atau pun akan mengadakan perjalanan jauh (berahaatn, sebala), masih memperhatikan tanda-tanda yang merupakan bayaq nyahuq ini. Bayaaq ada dua golongan, yaitu bayaaq malam dan bayaaq siang.

  1. a.   Bayaaq Malepm (Bayaaq Malam)

Asal mula bayaaq malam ini adalah dari anak-anak Imang Mengkelayeekng yang telah direbus dalam bambu karena kejahatan mereka. Akibatnya, mereka menjelma menjadi burung, dan binatang serta serangga yang berperan sebagai bayaaq, yaitu:

1)   Kuyaakng Laliq (roh yang menyerupai manusia tinggal di hutan);

2)   Kerokot (sejenis belalang jangkik atau serangga pengerat);

3)   Penetek (sejenis serangga);

4)   Penetar ((sejenis serangga); dan

5)   Penaneeng (salah satu jenis belalang besar)

b. Bayaq Jolo (Bayaq Siang)

Bayaaq Jolo berasal dari Itak Tuhaatn Gayaatn, Kakah Tuhaatn Gayaatn (semacam dewa) Tempoko nongko jolo. Kedua dewa suami isteri ini mempunyai anak bernama, Ape Tempereeq yang kawin dengan Datu Tamen Apow. Dari perkawinan ini, keduanya mempunyai anak yang sangat bayak. Tentang asal mula bayaaq jolo ini dapat disimak dalam mitologi berikut.

Pada suatu hari Datu Tamen Apow bersama isterinya pergi ke ladang untuk bekerja selama delapan hari lamanya. Anak-anak mereka tinggal bersama nenek dan kakeknya di dunia atas sana. Sebelum pergi meninggalkan anak-anak, bapak dan ibu mereka berpesan: “biarpun anak-anak itu menangis minta makan, namun janganlah mengambil dan memberikan tebu merah (touuq Nayuq) dan memasak beras pulut hitam (pulut saruuq), tetapi berilah makannan yang lain kepada mereka.

Setelah ditinggalkan orang tua mereka beberapa hari, maka anak-anak tadi menangis minta makan. Nenek dan kakek mereka memberikan makanan yang lain-lain sesuai dengan pesan dari orang tua mereka, namun anak-anak itu tidak mau makan. Karena mereka selalu menangis, akhirnya nenek dan kakek tadi memberikan makanan yang dilarang tadi. Makanan itu dimakan mereka dengan lahap. Tetapi pada saat makan, anak-anak tadi seketika berubah menjadi burung yaitu, mentit, seset, juruh, apow dan kelehei. Maka seketika itu pula burung-burung tadi berterbangan keluar rumah dan tinggal di pepohonan sekitar rumah mereka sendiri. Menyaksikan kejadian itu, nenek dan kakek tadi lantas ketakutan kalau nanti akan dimarahi oleh orang tua dari anak-anak itu. Lalu mereka berdua makan makanan yang sama dan seketika itu juga mereka berdua berubah menjadi buek (burung hantu), burung tunguk (pungguk), dan  burung tak taha. Sehingga kaken dan nenek tadi akhirnya menjadi pimpinan para bayaaq tersebut.

Ketika Datu Tamen Apow dan isterinya pulang dari ladang tiba di rumah, yang mereka  lihat hanyalah seorang anak saja yang sedang menangis, yaitu Apaakng Peningir.  Lantas kedua orang tua itu bertanya kepadanya, “dimanakah kakek nenek dan saudara-saudaramu?” Jawab Apaakng Peningir, “mereka telah makan makanan yang dilarang dan semuanya berubah menjadi burung”. Mereka yang telah menjadi burung juga membenarkan dan berkata, “tak apalah, kami akan tetap membantu adik kami apaakng Peningir, jika ia berbuat baik kepada kami”.

Ayah dan ibu Apaakng Peningir sangat sedih menerima berita kejadian itu. Keduanya berniat bunuh diri, namun dihalangi dan dihibur oleh anak-anak mereka yang telah berubah menjadi burung tadi. Mereka berjanji akan selalu menolong ayah-ibu mereka dan Apaakng Pningir, adik mereka apabila diminta.

Dalam perjalanan waktu selanjutnya, setiap hari Apaakng Peningir memberikan makan kepada burung-burung tersebut. Karena itu ia diberikan kekayaan yang cukup banyak oleh burung-burung yang adalah saudaranya tadi. Namun setelah menjadi kaya, Apaakng Peningir semakin sibuk mengurusi kekayaannya dan tidak lagi peduli akan saudara-saudaranya itu. Maka sejak itulah Apaakng Peningir jatuh sakit.

Bertahun-tahun Apaakng Peningir mengalami keadaan sakit walau telah berobat dengan berbagai cara namun ia tak kunjung sembuh juga. Hingga pada suatu hari  walaupun ia  dalam keadaan sakit pergi masuk hutan dengan tujuan untuk bunuh diri karena telah merasa frustrasi daripada harus menderita seumur hidupnya.

Setibanya di hutan, Apaakng Prningir mendengar suara orang banyak yang sedang menebang pohon kayu. Lalu ia berjalan menuju ke arah suara itu dan di situ ia melihat orang banyak dengan menggunakan baju yang berbagai jenis warnanya. Setiba di tempat orang banyak itu, Apaakng Peningir bertanya kepada mereka: “apa tujuan kalian menebang pohon di sini?” jawab mereka, “kami akan membuat lungun untuk Apaakng Peningir, karena ia akan kami bunuh. Dia akan dibunuh karena ia tidak memberi kami makan lagi!”. Mendengar itu, betapa terkejutnya Apaakng Peningir, karena ternyata bahwa dialah yang akan mati dan dimasukkan dalam lungun yang dibuat oleh orang banyak itu. Lalu orang-orang itu memberikan syarat: “jika Apaakng Peningir tetap setia memberi kami makan, maka kami akan tetap menolong dia dalam segala susah dan dukanya”.

Setelah mendengar perkataan orang-orang itu, apaakng Peningir lalu sadar atas kelalaiannya memberi makan burung-burung yang adalah saudara-saudaranya. Seketika ia pulang ke rumahnya dan serta merta memberikan makan kepada burung-burung itu. Dengan demikian hubungan Apaakng Peningir menjadi pulih kembali dengan burung-burung yang adalah saudaranya tadi dan iapun menjadi sehat kembali seperti semula. Ritual memberi maka pada burung-burung saudara Apaakng Peningir disebut “Makatn Bayaq”.

c. Bayaaq yang lain

  Selain bayaaq yang disebutkan di atas, masih ada beberapa bayaaq lain dan pertanda yang mempunyai makna seperti bayaaq yaitu yang disebut bangaai. Bangaai adalah berupa hewan yang mati. Jika hewan yang mati itu ditemukan di tengah areal tebasan ladang, maka hewan yang mati itu dapat disebut bangaai. Jika seseorang yang sedang menebas ladangnya menemukan bangkai hewan seperti tupai, musang, kancil, bangkai burung dan sebagainya, maka itu adalah suatu pertanda buruk. Jika pekerjaan ladang itu tetap diteruskan, kemungkinan akan membawa celaka atau musibah bagi si pemilik atau keluarganya. Jika tidak ditinggalkan tebasan ladang itu, maka si pemilik harus mengadakan syarat tertentu misalnya membuat patung sebagai silih. Juga dapat dianggap sebagai bayaaq, jika pada saat yang sama misalnya mengerjakan ladang atau rumah, ada sekawanan lebah datang lalu hingap di sekitar pekerjaan tersebut. Untuk itu biasanya si pemilik, mengadakan upacara persembahan dan beberapa patung sebagai silih. Dengan patung yang  bermakna sebagai silih dan menjadi obyek yang tertimpa bencana atau musibah, maka si pemilik dan keluarganya terhindar dari segala bahaya dan bencana. Upacara demikian itu disebut makaatn bayaaq.

  Hewan atau binatang lain yang juga bisa sebagai pemberi pertanda bayaaq adalah:

1)     Beniaaq (jika burung elang mengeluarkan suara seperti tangisan);

2)     Kokooq bonaan (anjing bersin);

3)     Meong semek (kucing batuk);

4)     Telaus (kijang, jika ia melintas atau bersuara pada waktu momen kegiatan tertentu);

5)     Pelanuk (kancil, jika ia melintas atau ditemukan dalam kondisi tertentu);

6)     Tekayo, (jika ia melintas atau ditemukan dalam kondisi tertentu);

7)     Ular, (jika ia melintas atau menyeberangi jalan) dan masih banyak yang lain lagi.

Bilamana ada bayaaq, maka biasanya orang Tuwayaatn membuat patung sebagai silih, lalu meludahi patung itu seraya berkata: “ini patung sebagai silih pengganti diriku/kami, biarlah bencana dan malapetaka menimpa patung ini”.

Mengenai akurat atau tidaknya pemaknai atas tanda-tanda bayaaq, sangat tergantung dari kemampuan seseorang dalam mengetahui dan menafsirkan makna kontekstual bayaaq itu sendiri. Orang yang punya pengalaman dan disertai dengan keyakinan besar, maka ia akan dengan mudah memaknai setiap tanda bayaaq dan meyesuaikan praksis hidupnya dengan maksud tanda itu. Misalnya, jika ada burung atau binatang bayaaq datang dari arah kiri, maka itu pertanda buruk; sebaliknya jika pertanda bayaaq itu datang dari arah kanan, maka itu adalah pertanda baik. Begitu juga jika ada suara-suara serangga penetek, penetar, dan lain sebagainya, maka itu pertanda akan ada malapetaka, atau jika dalam perjalanan akan mendapatkan bahaya.

Ada pula isyarat atau pertanda yang terdapat pada tubuh manusai itu sendiri. Isyarat ini disebut lemu ketika. Sebagai contohnya adalah bahwa jika kita akan berpergian jauh, maka sebelum perjalanan itu dimulai, terlebih dahulu kita melihat batang hidung kita sendiri. Bila ujung hidung kita sendiri masih terlihat, maka itu adalah pertanda baik dan perjalanan yang akan dilakukan aman-aman saja. Sebaliknya jika batang hidung kita tak nampak kelihatan, maka itu sebagai pertanda jelek, dan jika kita melakukan perjalanan, ada kemungkinan bahwa kita akan mendapat musibah bahkan kematian.

  Pada zaman dulu hubungan manusia dengan alam masih dekat, Yang Mahakuasa masih gampang ditemui dalam karya-karya keagungan-Nya, Ia berbicara kepada manusia dengan perantaran berbagai karya ciptaan-Nya dan manusia menaggapainya dalam ketaatan dan cinta. Berbagai pertanda yang dihayati sebagai bayaaq dalam tradisi orang Tuwayaatn adalah suatu cara penyaluran rahmat dari Yang Mahakuasa. Mejadi rahmat, jika manusia mampu menangkap makna di balik bayaaq atau tanda itu sehingga ia menempatkan diri dalam posisi yang sebenarnya. Sebaliknya pertanda itu akan menjadi teguran dan peringatan, dan jika dilanggar  akan mengalami musibah dan bencana.

Orang Tuwayaatn sampai sekarang masih ada yang mempraktekan tradisi dan keyakinan di atas meskipun tidak sepenuhnya. Hal ini dapat kita lihat misalnya pada saat mereka membuka lahan ladang dan akan melakukan perjalanan jauh.

Iklan
8 Des

 KEHAMILAN DAN KELAHIRAN  MENURUT  ADAT DAYAK BENUAQ TUWAYAATN

1.   Kehamilan dan Kelahiran

     Dalam komunitas orang Tuwayaatn, ada upacara beliatn untuk seorang ibu yang sedang hamil yang disebut “ngrasiq ngeradek”. Upacara ini bertujuan menghilangkan “busakng serangen” yaitu roh penggangu baik bagi sang ibu maupun cabang bayi yang dikandung. Dengan upacara tersebut diharapkan bayi yang akan dilahirkan dalam keadaan sehat dan demikian pula dengan ibunya tak mengalami kesulitan saat melahirkan. Untuk membantu proses kelahiran seorang bayi, umumnya dipakai bidan kampung yang disebut “pemelolos”. Orang yang mempunyai keahlian sebagai bidan kampung, sebelumnya mesti telah berguru pada “pemelolos” yang senior dan berpengalaman. Sang bidan tidak semata-mata mengandalkan kekuatannya sendiri, namun ia didampingi roh yang disebut “pujut penguyut, tonoi penyokooi, edos pemelolos.” Mereka itulah yang bekerja melalui sang bidan.

     Setelah seorang anak lahir, biasanya orang Tuwayaatn melaksanakan upacara “nota” dan pemberian “temaai” atau upah “Pemelolos”. Selanjutnya acara “Ngulas Pusokng, Ngeragaq atau Ngareu Posokng”. Upacara ini hampir selalu diadakan untuk seorang bayi yang baru lahir atau masih balita dalam lingkungan orang Tuwayaatn. Tujuannya adalah untuk membuang  hal yang jahat yang mungkin menimpa si bayi dan memohon pada para dewa yang disebut “Tonooi Sencoet” agar mereka membantu memelihara dan menjaga sang bayi dari segala macam ganguan roh jahat dan penyakit. Acara “Makatn Tonoi” adalah suatu acara memberi persembahan sebagai upah  para Tonoi penjaga anak, karena mereka dimintai bantuannya. Kepercayaan tradisional kepada roh-roh pembantu manusia, masih kental dalam masyarakat Tuwayaatn. Boleh jadi itu sebabnya bahwa sampai kini, komunitas orang Tuwayaatn masih memegang teguh adat istiadat atau tradisi secara murni.

2. Memelihara  Anak

     Anak yang baru dilahirkan segera diadakan upacara pemeliharaan. Upacara yang pertama adalah “Ngeranyeh” bayi dan ibunya. Ngeranyeh adalah ritual mengibas-ngibaskan nyala api dari seberkas daun “pepuatn” mengitari bayi yang dilindungi dengan tikar berbentuk kerucut. Pertama, mengibas-ngibaskan api mengitari perlindungan sang bayi dengan tangan kiri sambil mengarahkan ke sebelah mata hari terbenam. Tujuan dari upacara ini adalah membuang hal yang jahat dan kotor dari sang bayi seperti kehampaan, kegagalan, kesialan, kematian. Selanjutnya berbalik dengan tangan kanan dan mengarah ke mata hari terbit. Dengan maksud agar sang bayi tumbuh dengan sehat, makin cerdas dan bertambah hikmat, menjadi kegembiraan dan kebahagian orang tuanya dan keluarga.

     Upacara berikutnya adalah “Ngulas Pusokng atau Ngeragaq”. Tujuan upacara ini juga sama yaitu membuang segala kehampaan dan roh kejahatan pada sang bayi. Dalam acara ini keluarga melalui pemeliatn meminta bantuan pada para “Tonooi sencoet” agar mereka membantu menjaga anak yang baru dilahirkan itu. Dalan upacara ini ada acara “Makatn Tonoi” yaitu memberi makan para Tonooi sebagai upah mereka membantu memelihara anak yang baru dilahirkan. Suasana “Makatn Tonooi” biasanya sangat meriah, karena diiringi dengan tari-tarian dan yel-yel kegembiraan yang disebut “Layaau – le le” sambil mengitari sang bayi yang berada dalam pagar perlindungan yang terbuat dari kain.

KOSMOLOGI PERLADANGAN ORANG BENUAQ TUWAYATN

28 Mar

Pada zaman dulu kebutuhan hidup orang Tuwayaatn belum sekompleks seperti sekarang ini. Kegiatan yang bersifat ekonomis hanya berkisar pada pengumpulan bahan-bahan makanan saja. Karena itu kegiatan ekonomi mereka dapat disebut “ekonomi pengumpulan pangan”. Bahan-bahan pangan yang dapat dijadikan makan terdiri dari berbagai jenis tumbuhan, buah-buahan dan akar-akaran atau umbi-umbian di samping bahan pokok yaitu padi atau beras. Selain itu juga mereka menangkap hewan buruan dan mencari ikan baik di sungai maupun di danau sekitar. Teknik yang sering dipakai untuk menangkap hewan buruan adalah dengan berburu memakai bantuan anjing untuk mengepung hewan buruan sehingga gampaing dibunuh. Selain itu bisa juga dengan memasang jebakan seperti Poti, sengkokoy, sungaq, seriakng, gawaq (tanah yang digali sebagai lobang jebakan), dan juga dengan mengasapi tempat persembunyian hewan yang diburu. Sedangkan untuk menangkap ikan biasanya mereka menggunakan bubu, kalak, empang, unek, pancing, tanggup, tantai dan lain-lain. Ada juga cara menagkap ikan dengan menuba yaitu menggunakan cairan dari akar tuba yang dilarutkan untuk memabukan ikan sehingga gampang ditangkap. Namun orang yang menggunakan cara ini harus memperhatikan norma-norma adat setempat yang berlaku. Jika terjadi pelanggaran, maka ia dapat dikenai sangsi berupa denda adat.
Dari beberapa cara orang Tuwayaatn mengumpulkan bahan makanannya seperti di atas pada zaman dulu, sekarang yang lebih dominant sebagai mata pencarian hidup adalah bercocok tanam di ladang (berladang)
Kegiatan bercocoktanam di ladang bagi orang Tuwayaatn lazim disebut berladang. Biasanya jika ladang telah siap ditanami, selain tanaman utama yaitu padi, juga ditanami berbagai jenis tanaman pangan dan obat-obatan. Orang Tuwayaatn, dalam berladang mengikuti siklus pergantian musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Namun selain memperhatikan musim tersebut, mereka juga memperhatikan tanda-tanda alam yang dianggap sebagai petunjuk yang tepat untuk memulai atau mengerjakan ladang. Tanda-tanda itu seperti petunjuk bintang di langit, bulan dan mata hari. Masing-masing benda yang dianggap sebagai petunjuk itu mempunyai nama yang relevan dengan keadaan iklim cuaca yang dianggap berkenaan dengan musim berladang atau menanam.

a. Bulan penunjuk musim
Ada enam bentuk bulan sebagai penunjuk musim yang dihayati orang Tuwayaatn menjadi pertanda kapan harus memulai pekerjaan menggarap ladang yaitu:
1) Nafit tampak pada saat Bintekng Piyuluq masih rendah, sebagai petunjuk orang mulai menugal atau tanam padi di ladang.
2) Karoq, adalah masa yang baik untuk menugal karena bertepatan dengan musim hujan.
3) Ketigaq, juga masa yang baik untuk menugal.
4) Bemanuk, masa yang tidak baik untuk menugal karena biasanya masa itu terjadi musim kemarau atai panas.
5) Lentokng Leokng, masa ini juga tidak bain untuk menugal karena masih berlangsungnya musim kemarau, namun baik untuk merumput yaitu megiatan kaum ibu membersihkan tanaman padi di ladang.
6) Katap Kanam, masa ini tidak baik untuk menugal karena keadaan musim yang tidak menentu berada pada proses peralihan cuaca.
a. Bintekng Tautn
Orang Tuwayaatn mempunyai pedoman sebagai penunjuk musim dalam melaksanakan kegiatan berladang. Pedoman itu adalah bintang, baik bintang itu tampak secara tunggal maupun dalam rasi atau gugusan tertentu. Bintang-bintang itu disebut “Bintekng Tautn”. Bintang-bintang yang perlu diperhatikan adalah:
1) Bintang Piyuluq (gugusan bintang kecil-kecil yang banyak sekali). Jika bintang itu tampak masih rendah, kira-kira setinggi mata hari pukul 10 atau 11, berarti masih baik untuk menugal atau menanam padi di ladang.
2) Bintekng Poti (Poti adalah alat jebakan babi yang terbuat dari kayu dan buluh diruncingkan salah satu ujungnya). Dikatakan Bintekng Poti karena rasi bintang itu bagaikan poti yaitu alat jebakan seperti di atas.
3) Bintekng Beapm Bawui. Bintang itu dikatakan Beapm Bawui karena bentik atau rasinya bagaikan dagu babi.
4) Bintekng Semuatn Bawui. Semuatn atinya adalah kubangan. Jika bantang itu tampak, maka menandakan akan atau sedang terjadi musim kemarau dimana biasanya kawanan babi hutan sering mandi-mandi dalam kubangan.

Selengkapnya Download disini

MENGENAL JENIS BELIAN MENURUT KOMUNITAS DAYAK TONYOI DAN BENUAQ

19 Jan

ARTI DAN JENIS BELIATN

Secara harafiah, beliatn sebenarnya mengandung arti berpantang/ tabu (Lietn). Sehingga secara umum, belian merupakan serangkaian usaha manusia yang bertujuan untuk mencegah terjadinya suatu musibah terhadap manusia dan lingkungan, atau membebasakan diri dari belenggu penyakit, yang selalu diakhiri dengan cara berpantang.
Menurut kepercayaan masyarakat Dayak Tunjung dan Benuaq, gangguan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan, dapat terjadi dalam berbagai macam bentuk dan tingkatan. Berkaitan dengan hal itu, maka jenis belian pun terbagi dalam beberapa ragam.
Berdasarkan sifatnya, belian dapat digolongkan atas dua jenis , yaitu:
1. Belian yang bersifat pencegahan, diantaranya: Nalitn Taotn Makatn Juus dan Tulak Bala.
2. Belian yang bersifat pengobatan, diantaranya : Nyamat Nyahuq, Ngayukng dan Muat Balai Banci.
Sedangkan berdasarkan tata-cara penyelenggaraannya, belian dapat digolongkan menjadi beberapa ragam, yaitu:
1. Belian Lewangan/ Belian Beneq
2. Belian Bawo
3. Belian Sentiyu
4. Belian Jamu
5. Belian Ranteu

1. Beliatn Bawo
Belian Bawo adalah belian yang menggunakan bahasa Bawo sebagai bahasa pengantar, adapun pelakunya, biasanya terdiri dari pemeliatn laki-laki tetapi dapat juga seorang wanita.
Ciri khas dari Belian Bawo ini, lengan kiri dan kanan sang pemeliatan, masing-masing mengenakan sepasang gelang perunggu yang disebut Ketakng, sedangkan dibagian kepala mengenakan ikat kepala yang disebut Lawukng.
Khusus bagi pemeliatn pria, tidak mengenakan baju tetapi menggunakan semacam untaian kalung dari jenis kayu obat-obatan dan taring binatang, yang disebut Samakng Sawit. Untaian kalung tersebut diselempangkan dari bahu kiri-kanan ke bawah rusuk kiri kanan.
Ciri khas yang lain, sang pemeliatn menggunakan sejenis rok/kun panjang sampai ke mata kaki yang direnda dengan motif tertentu yang disebut Ulap Bawo. Sedangkan di bagian pinggang dililit seuntai kain panjang yang kedua ujungnya terjuntai di samping kiri kanan sebatas ulap bawo, kain ini disebut Sempilit. Diatas lilitan Sempilit bagian pinggang dipasang ikat pinggang khusus yang disebut Babat.
Dalam pelaksanaan upacara adat Belian Bawo, biasanya dilakukan melalui beberapa rangkaian kegiatan, sebagai berikut :
(1). Nomaaq.
Nomaaq adalah suatu proses awal yang selalu harus dilalui pada setiap mengadakan belian bawo. Hal itu bertujuan menjelajahi negeri para dewa, serta mengundang mereka untuk membantu dalam usaha pengobatan.
Nomaaq selalu diawali dengan meniup Sipukng/Belaluq sebanyak tiga kali, alat ini terbuat dari taring beruang, macan dahan, harimau. Suara Sipukng tersebut perperanan sebagai undangan bagi para dewa, sekaligus merupakan kode untuk dimulainya menabuh gendang yang pertama kali (Nitik Tuukng).
Setelah gendang ditabuh beras yang berada dalam genggaman dengan maksud melepaskan utusan yang akan menjemput para dewa yang diundang.
Pada saat Nomaaq, posisi pemeliatn duduk bersila menghadap Awir, yaitu daun pinang beserta dahannya yang telah dibuang lidinya dan digantung bersama selembar kain panjang menjuntai ke bawah menyentuh tikar bagian ujungnya. Awir ini berfungsi sebagai “tangga” untuk turun atau naiknya para dewa.
(2). Jakaat
Setelah para utusan tiba di negeri para dewa, pemeliatn mulai berdiri serta berjalan mengitari Awir. Posisi ini melambangkan para dewa mulai bergerak turun untuk menghadiri undangan.
Seusai para dewa tiba di dalam rumah, pemeliatn mulai menari untuk melakonkan gerak dari masing-masing dewa yang hadir.
(3). Penik Nyituk
Bilamana sekalian (para) dewa telah mendapatkan giliran menampilkan kebolehannya dalam hal menari, mereka duduk dan menanyakan alasan apa mereka diundang.
Dalam hal ini jawaban tuan rumah sangat bervariasi, hal mana tergantung dari masalah yang sedang dihadapi keluarga tersebut pada saat itu.

(4) Ngawaat
Pada tahap ini dengan kembali pada posisi berdiri, pemeliatn mewakili para dewa, mulai melaksanakan perawatan terhadap orang sakit dengan menggunakan Selolo.
Puncak perawatan dilakukan dari muka pintu, dalam hal ini pemeliatn mewakili para dewa di atas bumi yang mempunyai keterampilan Nyegok (menyedot) penyakit, memberikan penyapuh, yaitu semacam obat yang bertujuan menyembuhkan luka dalam.
Sementara pemeliatn pulang-pergi memberi perawatan, bunyi gendang harus dipercepat dengan irama Sencerep dan Kupuk Tuatn. Akhirnya perawatan ini diselesaikan dengan Ngasi Ngado dan Nyelolo-Nyelonai, dengan maksud menciptakan kondisi sejuk dan nyaman serta bebas dari cengkraman penyakit.
Dalam perawatan terakhir ini, irama dan lagu tabuhan gendang berubah dan diperlambat dengan irama yang disebut Meramut dan Beputakng.
(5) Tangai
Pada tahap ini, pemeliatn mempersilahkan para dewa untuk kembali ketempatnya masing-masing, dengan terlebih dahulu disAjikan hidangan ala kadarnya. Jenis sAjian sesuai dengan tingkat acara yang diselenggarakan.
(6) Engkes Juus
Engkas dalam bahasa Dayak Benuaq berarti memasukkan, sedangkan Juus adalah roh/jiwa. Sehingga yang dimaksud dengan engkes juus adalah memasukan roh/jiwa ke dalam tempat yang seharusnya yaitu badan dari yang empunya jiwa tersebut.
Masyarakat Dayak Tunjung Benuaq berkeyakinan bahwa kehidupan setiap manusia terdiri atas badan (unuk) dan jiwa (juus-june).
Sehingga dalam proses penyembuhan manusia yang sakit, selain diperlukan perawatan fisik melalui Bekawat, perlu juga dilakukan perawatan jiwa melalui pengamanan juus-june agar tidak terganggu oleh roh-roh jahat. Adapun tempat yang aman dinyatakan sebagai Petiq Ngetn Bulaw.
(7) Bejariiq.
Bejariq artinya berpantang, lamanya berpantang biasanya selama satu hari. Selama berpantang, orang yang sakit tidak diperbolehkan keluar rumah, memakan makanan terlarang, seperti terong, asam, rebung dan semua jenis hewan melata.
Selain itu suasana rumah harus sepi dan tidak diperkenankan menerima tamu. Suasana tersebut ditandai dengan penancapan dahan dan daun kayu hidup di samping pintu masuk rumah bagian luar.
Pelanggaran atas pantangan ini dapat mengakibatkan kambuhnya penyakit dan sukar dirawat kembali. Setelah berakhirnya masa jariiq, maka seluruh rangkaian upacara belian bawo dinyatakan selesai.
Berdasarkan pada berat ringannya masalah yang dihadapi, serta keadaan sosial-ekonomi keluarga atau masyarakat yang menyelenggarakan, belian bawo dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu :
a. Ngejakat
Lamanya satu hari, tanpa mengkurbankan hewan dan tidak menjalani masa jariiq.
b. Bekawaat Encaak
Lamanya minimal tiga hari, menggunakan hewan kurban berupa babi dan ayam, menggunakan balai di tanah dan menjalani masa jariiq selama maksimal tiga hari.
c. Makatn Juus
Lamannya maksimal delapan hari, hewan yang dikurbankan berupa ayam, babi atau kambing, menggunakan balai di dalam rumah dan di halaman rumah. Jumlah pemeliatn minimal delapan orang dan menjalani masa jariiq maksimal empat hari.
d. Nyelukng Samat.
Lamanya maksimal delapan hari, sedangkan jumlah pawang minimal delapan orang. Hewan kurban terdiri dari ayam, babi, kambing, kerbau, sesuai dengan janji waktu nyamat, menggunakan balai di dalam rumah dan di luar rumah, serta menjalani masa jariiq maksimal empat hari.

2. Beliatn Luangan
Pada pelaksanaan belian Luangan digunakan bahasa Lewangan sebagai bahasa pengantar. Pemeliatn terdiri dari laki-laki dan biasanya tidak mengenakan pakaian khas.
Fungsi dari belian Lewangan adalah sebagai perawatan atau pencegah penyakit terhadap manusia atau lingkungan, juga dapat sebagai upacara ucapan syukur dan dapat menjadi sarana hiburan serta pengembangan bakat seni sastra.
Ambil contoh dalam upacara perkawinan, peranan pemeliatn Lewangan lebih bersifat syukuran serta pengembangan bakat seni sastra, karena pada saat tersebut, disAjikan kebolehan berargumentasi melalui Perentangin, Ngelele Nancakng, Ngoteu, Bedoneq, Begantar, Temanakng dan Bimpas.
Berdasarkan berat ringannya masalah yang dihadapi serta kondisi sosial ekonomi keluarga atau masyarakat yang menyelenggarakan, maka belian Lewangan dapat dibagi menjadi :

(1). Ngokoq Ngejakat
Lamanya satu hari, pemeliatn satu orang, tidak mempergunakan hewan kurban dan tidak menjalani masa bejariiq.
(2) Natakng Nibukng
Lamanya satu sampai dengan tiga hari, pemeliatn minimal satu orang. Menggunakan hewan kurban berupa ayam yang jumlahnya sesuai dengan Dasuq yang ditelusuri.
Dasuq adalah jenis penyakit, makhluk penyebabnya juga cara perawatannya. Menggunakan balai sesuai dasuq serta menjalani jariiq selama satu hari.
(3) Talitn Terajah
Lamanya satu sampai dengan enam hari, jumlah pemeliatn minimal satu orang. Hewan kurban berupa ayam dan babi yang banyaknya sesuai dengan dasuq. Menggunakan balai dan Tujakng serta menjalani masa jariiq selama tiga hari.

(4) Bekelew Bekebas
Lamanya delapan sampai dengan enam belas hari, jumlah pemeliatn minimal delapan orang, jumlah hewan kurban berupa ayam dan babi disesuaikan dengan dasuq. Menggunakan Balai Munan Rampa (langit-langit rumah) dan menjalani masa jariiq selama tiga hari.
(5) Nalitn Taotn
Lamanya delapan sampai dengan enam belas hari, jumlah pemeliatn minimal delapan orang. Hewan yang dipersembahkan berupa ayam, babi, dan minimal satu ekor kerbau. Menggunakan balai taotn di tanah, serta menjalani masa jariiq selama empat hari.
Pada uraian berikut, akan disAjikan tahapan upacara Nalitn Taotn karena dengan pertimbangan karena pada upacara ini, semua tingkatan belian Lewangan telah termaktub.
Selain daripada itu, upacara belian (Nalitn Taotn) ini cukup berpotensi untuk dikembangkan dalam rangka menunjang program pariwisata dan pembangunan daerah.

TUTUS ADAT (ADET)

10 Jul

Syarat-syarat Tutus Adet Suket

Tutus adet adalah kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mempelajari adet suket pada seorang Kepala Adet atau tokoh yang menguasai dan memahami seluk beluk adet suket. Tutus adet ini menjadi prasyarat bagi seseorang yang ingin menjadi pengurus adet atau memegang jabatan di bidang adat seperti Kepala Adat atau pemangku adat. Seseorang belum boleh mengurus suatu perkara dalam kasus adat jika ia belum pernah tutus adet. Jika seseorang yang belum tutus adet suket memproses dan memutuskan denda dalam suatu perkara adet, maka ia akan tertimpa kutukan dari para Nayuq penguasa adet. Atau dengan kata lain ia akan kuwalat. Agar dapat memegang jabatan di bidang adat atau memproses serta memutuskan denda terhadap seseorang dalam suatu perkara kasus adat, seseorang harus mempelajari adet suket terlebih dahulu pada para tokoh adat terutama Kepala Adat. Namun orang yang tutus adet tidak mesti harus menjadi Kepala Adat atau pemangku adat, bisa juga dengan maksud ingin menguasai dan memahami adat untuk pengetahuan peribadinya.

Jika seseorang ingin tutus adet suket, maka ia harus menyiapkan persyaratan berupa barang dan uang untuk diserahkan pada sang guru adet. Barang dan uang itu disebut “pengengket” yaitu sebagai media penyaluran ilham tentang adat suket dari para Nayuq penguasa adet suket yang diterima oleh guru adet. Jadi makna sebanarnya barang-barang yang diserahkan sebagai “pengengket” adalah pemberian “juus” atau jiwa seseorang yang tutus adet kepada para Nayuq penguasa adet suket yang diterima secara sombolis oleh guru adet. Dengan itu adet suket yang kita terima bukat menjadi milik peribadi dan sesuka hati kita melaksanakannya, melainkan bahwa kita sebagai perpanjangan tangan para Nayuq dalam soal adet suket untuk mengambil bagian dalam penataan dunia dan mausia sehingga menjadi lebih baik, tertib, aman, damai dan tenteram.   Mengai tutus adet suket ini ada tingkatannya dan masing-masing tingkatan sesuai dengan otoritasnya.

Pertama, Tutus  adet suket tingkat rendah. Pada tingkatan ini adat yang dipelajari adalah adet suket dari Lagit Balaai solaai secara garis besarnya saja. Hanya menyangkut pokok-pokok dan nama-nama adet suket dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Pengetahuan adat yang diterima belum mendalam, sejarah dan asal usul adet suket belum diberikan. Dengan pengetahuan tentang adet suket pada tingkat menengah ini seseorang dapat memproses, memutus, dan menyelesaikan perkara atau permasalahan tingkat “Kujep Kajaap”.

Berang-barang yang menjadi peryaratan tutus adat pada tingkat ini adalah: satu buah antang; satu buah tomak; satu buah mandau; dua buah piring; dan dua buah mngkok yang berisi beras biasa dan beras ketan; sepotong kain merah sepanjang satu setengah meter; dan seekor ayam jantan berbulu warna merah.

Kedua, tutus adet suket tingkat menengah. Adet suket yang dipelajari pada tingkat ini adalah mulai dari asal usul adat suket, tempat adet suket diciptakan, siapa pencipta dan penguasanya, dan seluk beluk adet suket yang mengatur dan menata dalam kehidupan masyarakat. Pada hari terakhir dari kegiatan tutus adet suket, dilaksanakan acara makan bersama antara murid dan guru adat yang tentu saja ada tata aturannya, sebagai simbolis kebersamaan dengan para Nayuq penguasa adet suket. Di dalam acara makan bersama itu diyakini bahwa para Nayuq penguasa adet suket hadir setelah sebelumnya memang diundang dalam acara itu. Dengan makan bersama itu pula dimaksudkan agar sang murid dapat segera menguasai apa yang telah dipelajarinya dan jika memproses suatu kasus adat, ia didampingi oleh para Nayuq dengan pemberian ilham dan kebijaksanaan. Seseorang yang telah tutus dan menguasai adat pada tingkat ini telah dapat mengurus atau memproses serta memutuskan adat pada tingkatan kasus yang disebut “perkara”.

Barang-barang persyaratan tutus adat yang harus diserahkan oleh seorang murid yang ingin tutus adet suket pada tingkat ini adalah: dua buah antang; satu buah tombah; satu buah mandau; dua buah piring dan dua buah mangkok yang diisi dengan beras biasa dan beras ketan, sepotong kain mereh berukuran satu setengah meter dan seekor ayam jantan berbulu warna mereh. Ayam ini nanti untuk disembelih pada waktu hari terakhir tutus saat acara puncak.

Ketiga, tutus adet tingkat tinggi. Tutus adet tingkat tinggi adalah mempelajari adet suket secara lengkap yang meliputi: asal usul adet suket, mengapa dan untuk apa adet suket harus diciptakan. Siapa sebenarnya pencipta adet suket, bagaimana proses adet suket sehingga dipusatkan di Langit Balaai solaai? Bagaimana keadaan manusia di bumi ketika masa purba yang menjadi penyebab diperlukannya adet suket? Siapa yang sangat berperan dalam mempelajari adet suket dan bagaimana proses mempelajarinya? Bagaimana adet suket itu dilaksanakan oleh manusia di bumi ini? Pokoknya pengetahuan tentang adet suket yang diperoleh pada tutus adet tingkat tinggi meliputi keseluruhan bidang adet.

Mengapa orang yang tutus adet suket harus menyerahkan barang-barang persyaratan “pengengket”? Karena jika persyaratan itu tidak dilengkapi, maka salah satu atau kedua pihak yang terlibat dalam kegiatan tutus adet suket itu  akan terkena kutukan dari Nayuq pengguasa adet suket dalam bentuk berbagai macam penyakit yang menimpanya seperti bisu, tuli, buta, lumpuh dan bahkan mati diusia muda yang disebut “puluuq”.

Persyaratan yang harus dipenuhi seorang yang mempelajari adet suket tingkat tinggi adalah: 5 buak antang; satu buah tombak; satu buah mandau; dua buah piring dan dua buah mangkok yang diisi dengan beras biasa dan beras ketan, kain merah ukuran satu setengah meter dan ayam jantan berbulu warna merah. Ayam itu nanti akan disembelih pada acara puncak tutus adet sebagai persembahan pada para Nayuq dan lauk untuk dimakan. Acara ini adalah acara makan bersama antara murid yang tutus adet suket, kepala Adat dan para Nayuq penguas adet meskipun mereka tak tampak oleh mata manusia. Sebagai roh, mereka dapat berada bersama kita dan mengikuti kegiatan kita. Jika tutus adat itu bertepatan dengan diadakan suatu acara beliatn besar yang memotong kerbau sebagai persembahan, makan si murid dapat langsung “tumakng” yaitu pelantikan sebagai seorang yang menguasai adet suket dan mempunyai hak untuk mengurus perkara adat.

ETNOHISTORIS ADAT DAN HUKUM ADAT BENUAQ TUWAYAATN (II)

1 Jul

3. Perjalanan Kilip Tutus Adet Suket

Menyasikan keadaan seperti di atas, Rajaq Kilip merasa perlu untuk memperbaikinya. Ia menyadari perlu adanya pedoman dalam kehidupan manusia baik secara peribadi maupun dalam bermasyarakat. Kilip adalah anak dari Serempulukng Usuk Langit dengan Ayakng Seraketn Tana. Serempulukng Usuk Langit adalah manusia dewa yang dilahirkan di bumi. Setelah Serempulukng Usuk Langit kembali ke Bawo Langit dan Ayakng Seraketn Tana Ibunya Kilip memasuki dunia bawah tanah, ia diasuh dan dibesarkan oleh kakek dan neneknya yaitu Datu dan Dara.

Atas dorongan ingin memperbaiki dan menata kehidupan manusia dalam keteraturan dan keharmonisan, maka Kilip pergi berguru yang disebut “tutus” adat ke Bawo Langit pada para dewa kuasa pemegang, pengatur dan pengendali adat-istiadat. Selanjutnya adat istiadat kita sebut “Adet Suket”. Karena dengan menerapkan adet suket itulah Kilip yakin bahwa kehidupan manusia di bumi akan tertib dan baik kembali.

Untuk tutus adat ini Kilip melakukan perjalanan ke Bawo Langit (kampung di atas langit), sembilan kali perjalanan termasuk delapan kali perjalanan tutus adat suket pada  para Nayuq pemegang, pengatur dan pengendali adet suket. Sebelem perjalanan “tutus” adet suket ke Bawo Langit, ada nara sumber yang mengatakan bahwa Kilip melakukan perjalanan mengunjungi para Tonoi dan Nayuq yang ada di bumi ini, namun ia tak mendapatkan apa yang ia cari.

a. Perjalanan pertama.

Atas dorongan ingin menertibkan kehidupan di bumi kembali, Kilip mencari jalan keluarnya dengan melakukan perjalanan ke Bawo Langit. Perjalanan pertama yang dilakukannya menuju Langit Usuk Wari, tempat tinggal Perjadiq bantikng Langit Peretikaq bantikng Tuhaq. Dialah dewa pencipta dan pengatur alam semesta. Setibanya di Langit Usuk Wari, Kilip disambut dengan baik layaknya tuan rumah menyambut tamu. Kilip pun menceritakan maksud dan tujuan perjalanannya pada Perjadiq Bantikng Langit Pertikaq Bantikng Tuhaq. Dikisahkannya bahwa kehidupan mausia di bumi dalam kekacauan “Bolupm senarikng deoq umeq aweq elakng, belaai aweq benturatn. Ledok sikuq aweq nganukng tauq, lebek asekng aweq nganukng panaai.” Untuk mencari jalan keluar mengatasi kekacauan manusia di bumi itulah maka ia menghadap dan meminta petunjuk pada Perjadiq Bantikng Langit Peretikaq Bantikng Tuhaq. Kilip pun menyerahkan sebuah antang yang di sebut “Batuq Tuhus Ayus” sebagai syarat tutus adat. Atas permintaan Kilip, Perjadiq Bantikng Langit Pertikaq Bantikng Tuhaq mengeluarkan “Gesaliq Besiq Pantaai Lio Pelaakng Mahing” tempat adet suket. Oleh Perjadiq Bantikng Langit Pertikaq Bantikng Tuhaq diberitahukan kepada Kilip bahwa untuk menertibkan dan menata kembali kehidupan manusia di bumi agar terjadi keharmonisan, diperlukan adat istiadat yang disebut  “Adet Suket”. Selanjutnya Perjadiq bantikng Langit Pertikaq Bantikng Tuhaq memberitahukan Kilip mengenai kemana ia harus pergi berguru atau tutus adet suket. Setelah diberi arahan dari Perjadiq Bantikng Langit Pertikaq Bantikng Tuhaq, Kilip kembali ke Tenukng Beremauq Jaa Kutaq siwo Ore.

b. Perjalanan Kedua

Setelah mempersiapkan diri sesuai dengan petunjuk dari Perjadiq Bantikng Langit Pertikaq bantikng Tuhaq, Kilip pergi liagi dari Tenukng Beremauq Jaa Kutaq siwo Ore melakukan perjalanan kedua, menuju Jaa Kutaaq Libuk Bulaau untuk menemui Bencurikng Tatau solaai. Setiba di sana, Kilip disambut dan dilayani dengan baik. Setelah berbasa basi dalam bahasa dan kata, Kilip pun menceritakan maksud dan tujuan kedatangannya. Ia menyampaikan bahwa tujuannya adalah ingin tutus adet suket pada Bencurikng Tatau Solaai agar dapat menertibkan kembali kehidupan manusia di bumi. Ia pun menceritakan kekacauan yang terjadi dalam kehidupan  manusia di bumi. Bencurikng Tatau solaai mengambil “Gesaliq Intatn Pantak Lio Riaq Rinim” tempat menyimpan adet suket. Sebagai syarat tutus (pengengket) adat adalah sebuah antang bernama “Tanaju Rahuq”. Setelah Kilip menyerahkan syarat itu, Bencorikng Tatau solaai mengajarkan adet suket “Kerewau Potai Solaai Pemantaatn Butaaq Tuhaaq, Lola Jempalaaq Meaaq, Mateeq deriru ipu, Lola genencak Sinak, Ngudeu Utek Goer Ikui.” Setelah itu Kilip pamit pulang ke Tenukng Beremauq Jaa Kutaq Siwo Ore. Kilip merasa adet suket yang diajarkan oleh Bencurikng Tatau Solaai padanya belum cukup dan bahkan jauh dari harapan. Oleh karena itu ia ingin melakukan perjalanan tutus adet suket lagi.

c. Perjalanan ketiga

Kilip melakukan lagi perjalanan tutus adet suket. Tujuan perjalanannya yang ketiga ini adalah Padekng Lenau Lenus tempat Nayuq Benturukng Tuhaaq. Setiba di Lou Tempat Nayuq Benturukng Tuhaq, Kilip disambut dengan baik, dipersilahkan naik dan disuguhi tempat kapur sirih-pinang dan rokok sebagai tanda suka menerima, pembuka kata dan bicara. Kilip pun bercerita hal ikhwal tentang perjalanannya, maksud dan tujuan kedatangannya menemui Nayuq Benturukng Tuhaq. Atas maksud Kilip tutus adet suket itu, Nayuq Benturukng Tuhaq mengeluarkan tempat menyimpan adet suket berupa rumahan kecil terbuat dari emas yang disebut “Gesaliq Bulaau Pantaai Lio Nyolaai Uman”. Untuk pengengket adet suket  ditentukan sebuah tempayan. Persayaratan itu dipenuhi oleh Kilip dengan menyerahkan sebuah antang yang bernama “Genteli Tuer Puti”. Di situ Nayuq Benturukng Tuhaq mengajarkan adet suket yang bernama “Bengkootn Tuu Danan” kepada Kilip. Setelah menerima pelajaran tentang adet suket di atas, Kilip kembali lagi ke Tenukng Beremauq Jaa Kutaaq Siwo ore. Setibanya di bumi lagi, kilip masih tetap menyaksikan kekacauan yang dilakukan oleh manusia. Ia masih belum puas dan merasa masih ada banyak hal yang kurang guna menentramkan kembali kehidupan manusia di bumi.

d. Perjalanan keempat

Apa yang diperoleh Kilip dalam perjalanannya yang ketiga pun belum dirasakan cukup. Selang beberapa waktu kemudian ia melakukan lagi perjalan tutus adet suket yang keempat. Kali ini tujuannya adalah sebuah desa yang bernama “Padekng Nyalaakng langit”. Di sana Kilip menemui Nayuq Bentaraaq Tuhaaq. Seperti perjalanannya ke Bawo Langit  sebelumnya, Kilip disambut dengan ramah oleh semua tuan rumah terutama “Mantiq” yang dijadikan tempat berguru atau tutus adet suket, di Padekng Nyalaakng Langit pun ia diterima dengan senang hati oleh Nayuq Bentaraaq Tuhaaq. Sambil menikmati suguhan penyambut tamu dari tuan rumah berupa kapur sirih-pinang dan rokok, Kilip menceritakan perjalanannya dan keadaan manusia di bumi yang semakin kacau, tidak aman dan tenteram akibat kelakuan manusia sendiri. Atas ketidak puasan dengan keadaan yang terjadi oleh manusia di bumi, Kilip meminta kepada Nayuq Bentaraaq Tuhaaq untuk mengajarkan adet suket untuk dilaksanakan guna menertibkan lagi manusia di bumi. Menanggapi permintaan Kilip, Nayuq Bentaraaq Tuhaaq mengeluarkan “Gesaliq Magaq” tempat adet suket. Sebagai pengengket atau imbalan, Kilip menyerahkan sebuah Gong yang diberi nama “Genikng Sianaang Olo Titik Bulaau Tenengkulutn”.

Sambil duduk di atas Gesaliq Magaaq, Nayuq Bentaraaq Tuhaaq nutus  (mengajarkan) adet “Itak Tuhaaq Silootn Olo Puti Ngebuk Bunang Ngukui”. Adet Puti Ngebuk Bunang Ngukui dijelaskan dengan panjang lebar oleh Nayuq Bentaraaq Tuhaaq kepada Kilip. Sambil mengingat-ingat perbuatan kekacauan yang ada di bumi, Kilip semakin banyak paham  dan menghubungkannya dengan sifat dan sikap manusia yang ia saksikan. Pengetahuan Kilip makin bertambah, namun ia masih merasa perlu lagi untuk mencari adet suket yang lain mengingat masih banyak sifat, sikap dan tipe manusia di bumi. Setelah selesai diajarkan adet yang bernama “Itak Tuhaaq Silootn Olo Puti Ngebuk Bunaang Ngului”, Kilip kembali lagi ke Tenukng Beremauq Jaa Kutaaq siwo Ore tempat kediamannya.

Bagaimana perjalanan Kilip selanjutnya? Selengkapnya download disini

ETNOGENESIS ADAT DAN HUKUM ADAT BENUAQ TUWAYAATN (I)

30 Jun

1. Mitologi Alam Semesta

Alam semesta atau tatanan kosmos  bagi komunitas Tuwayaatn bukan suatu yang serba kebetulan dan tanpa artinya. Kisah penciptaan dalam mitologi orang  Tuwayaatn menjadi pintu masuk dalam kisah-kisah lainnya. Penciptaan langit dan bumi, makhluk-makhluk penghuni langit, penghuni bumi, air dan di udara bukannya tanpa maksud oleh Sang Pencipta, namun dalam kerangka pembentukan kesatuan kehendak Yang Kuasa. Di bawah  ini penulis sajikan kisah penciptaan alam semesta ini dalam perspektif etnogenesis  Etnik Tuwayaatn.

Orang Tuwayaatn pada umumnya memiliki pemikiran mitologis yang mengisyaratkan bahwa mitos merupakan suatu kejadian yang suci atau suatu peristiwa yang langsung dialami oleh nenek moyang mereka, meskipun terjadinya peristiwa itu tidak dapat dibuktikan secara histories. Paparan kejadian tersebut berfungsi sebagai salah satu unsur bagi norma-norma kehidupan. Oleh sebab itu, sering kali keseluruhan mitos bagi komunitas Tuwayaatn merupakan dasar norma tingkah laku yang menerangkan arti eksistensinya sebagai manusia yang hidupnya harus terarah kepada peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masa lampau.

Sikap ketaatan dan keterarahan semacam itu merupakan salah satu bagian hidup yang penting dalam lingkungan komunitas orang Tuwayaatn, yang berkaitan dengan daur hidup. Untuk lebih memahami eksistensi komunitas orang Tuwayaatn, maka sebagaimana telah dikatakan di atas, terlebih dahulu penulis ketengahkan kisah tentang penciptaan Alam Semesta.

Konon, pada mulanya serba kosong, tak ada langit maupun bumi yang ada hanyalah “Langit Kuasa Tana Kuasa”. Alam semesta belum ada rupanya. Dalam mitologi orang Tuwayaatn, disebutkan bahwa, sebelum terjadinya alam semesta beserta isinya, pada waktu itu adalah suatu mkhluk yang disebut Perjadiq Bantikng Langit. Mahkluk itu berasal dari cahaya gunung emas dan gunung intan. Perjadiq Bantikng Langit,  berdiam di suatu tempat yang disebut, Batuq Dikng Dingkikng Leputukng Rangkakng Bulaau, Saikng Puncek Geler saikng Batuq Amas, yang disebut juga Tana Kuasa. Adanya Langit Kuasa Tana kuasa itu karena “ada”, tidak ada asal usulnya, karena itu disebut Langit Kuasa Tana Kuasa.

Kemudian atas kehendaknya sendiri, Perjadiq Bantikng Langit, menciptakan beberapa makhluk lain yang disebut, Sengkereakng Sengkerepakng, Temerikukng Urai, siluq Urai, Ayus Junyukng, Tonooi, Anai Tuhatn Ayatn, Itak Autn, Kakah Autn. Kesemua makhluk tersebut diberi “kuasa” masing-masing dan berperan sebagai pembantu Perjadiq Bantikng Langit dalam proses pemciptaan alam semesta beserta isinya.

Melalui bantuan  makhluk-makhluk tersebut dengan bekerja sesuai kehendak Perjadiq Bantikng Langit, diciptakanlah langit dan bumi yang memerlukan waktu selama delapan hari lamanya. Pada saat langit dan bumi diciptakan, Perjadiq Bantikng Langit merasa perlu menciptakan lagi makhluk yang mempunyai keahlian khusus, maka dia menciptakan lagi makhluk-makhluk yang disebut Nayuq, di antaranya adalah:

a. Nayuq Penempaq Langit Tana

1)           Nayuq User dan Nayuq Riwut, yang berfungsi mengendalikan arah angin dan memasang api.

2)           Nayuq Geruhaq Tuhaq, yang berfungsi memanfaatkan angin untuk keperluan penempaan.

3)           Nayuq Ketimer Nempaq Tana, yang berfungsi menempa tanah/bumi.

4)           Nayuq Ketinger Nempaq Langit, yang berfungsi menempa Langit;

5)           Para Nayuq lainnya yang keseluruhannya berjumlah sembilan belas.

Peranan para Nayuq tersebut di atas, merupakan satu kesatuan utuh yang tak terpissahkan satu sama lain. Dengan bekerja menggunakan  kuasa yang diberikan oleh Perjadiq Bantikng Langit kepada para Nayuq tersebut, maka terciptalah Langit dan Bumi.

Di atas lagit terdapat bermacam-macam tempat sesuai dengan tingkatannya. Pada masing-masing tempat dan tingkatan langit ditempati macam-macam makhluk penghuni dan macam-macam sebutannya pula. Tempat-tempat di atas langit itu sering disebut Jaa Bawo Langit atau Benua Bawo Langit. Dalam narasi beliatn dan wara tempat-tempat di atas langit itu dilukiskan sangat indah dan hidup.

Penciptaan langit di sini mungkin juga berarti  termasuk penciptaan benda-benda langit yang lain seperti, mata hari, bintang dan bulan dan benda-benda angkasa lainnya. Dalam budaya orang Tuwayaatn, semua benda ciptaan itu mempunyai arti bagi kehidupan manusia.

b. Nayuq Penjaga Langit Tana

Kemudian Perjadiq Bantikng Langit menciptakan lagi beberapa Nayuq, serta memberi tugas kepada mereka yakni:

1)     Nayuq Joot Balotn Kawit, dengan tugas menjaga Ufuk Barat (Ollo Mate).

2) Nayuq Joot Balotn Bulaau, dengan tugas menjaga Ufuk Timur (Ollo Empet).

3)     Nayuq Pepuatn Ontekng Senseloi Matukng Tana, dengan tugas menjaga dan memelihara keutuhan tanah.

4)     Nayuq Joot Malikng Guntikng, dengan tugas menjaga keutuhan langit.

c. Temerikukng adalah Manusia Pertama

Selanjutnya Perjadiq Bantikng Langit, memerintahkan Ayus Junyukng  menggunakan sisa bahan penciptaan langit dan bumi, untuk membentuk patung yang bewujud satu jenis makhluk lagi. Pekerjaan itu dilaksanakan oleh Ayus Junyukng dengan membuat patung berwujud satu makhluk dari sisa bahan langit dan bumi. Selanjutnya  ia berkeinginan agar patung tersebut bisa bernafas dan bergerak, untuk itu Ayus Junyukng menghadap Perjadiq Bantikng Langit, guna memohon petunjuk agar kehendaknya terwujud. Namun karena ia lupa, maka patung itu menjadi makhluk jahat yang disebut, Uwok Dirikng Langit. Itulah makhluk jahat yang pertama.

Kemudian Ayus Junyukng dengan menggunakan bahan dan proses yang sama, membentuk lagi sebuah patung yang kemudian berwujud manusia Tamarikukng, dan kali ini ia melaksanakannya dengan tepat sesuai petunjuk Perjadiq Bantikng Langit. Ia menyiraminya dengan air tawar, air asin, air asam, air anyir, air pahit. Setelah disirami dengan dengan bahan-bahan tersebut, Ayus Junyukng menghembuskan nafas kehidupan ke dalam patung itu, maka terjadilah manusia pertama berjenis kelamin laki-laki yang disebut Temerikukng Mulukng. Pada saat hendak mencipta manusia pertama berjenis kelamin perempuan, Ayus Junyukng ternyata kehabisan bahan. Sehingga atas petunjuk Perjadiq Bantikng Langit, dicabutkannya sebuah tulang rusuk kiri Temerikukng Mulukng lalu  ditanamkannya di dalam tanah. Perjadiq Bantikng Langit berpesan agar Temerikukng Mulukng baru boleh memetik hasilnya setelah genap berusia delapan hari.

Satu hari sebelum tiba waktunya, Temerikukng Mulukng menjenguk tanaman tersebut dan ternyata telah berwujud seorang perempuan sedang berdiri tegak di atas tanah. Tanpa memperdulikan perintah dari Perjadiq Bantikng Langit, diangkat dan  dikikisnya tanah yang masih melekat pada telapak kaki perempuan itu. Tanah yang melekat di telapak kaki perempuan tersebut dinamai Tana Puluq Mate, dan dari sebab itu manusia dapat mengalami kematian. Lalu didekapnya perempuan itu hendak dijadikan  isterinya.

Pada saat Temerikukng Mulukng merangkul perempuan itu, Perjadiq Bantikng Langit menegurnya, “Hai Temerikukng jangan dulu engkau dekap, nikahlah dulu, perempuan itu memang untukmu”.

Perempuan yang oleh Temerikukng Mulukng dinamai Ape Bungen Tana itu hendak dijadikan istri oleh Temerikukng Mulukng, namun belum sempat terwujud karena keburu mati dan hancur akibat tertimpa air hujan. Genangan jasad perempuan itu ditampung oleh Temerikukng Mulukng dalam Teliwukng Uyukng yang terbuat dari kulit kayu, untuk selanjutnya disimpan dalam tempat yang disebut Petiq Angetn Bulaau.

Selang delapan hari Petiq Angetn Bulaau dibuka, maka melengkinglah tangis seorang bayi perempuan yang selanjutnya diberi nama, Teliwuknng Uyukng, geler Ayakng Diakng Rano.

Setelah dewasa Ayakng Diakng Rano inipun ingin dijadikan Temerikukng Mulukng sebagai isterinya, tetapi ia menolak diperisterikan oleh Temerikukng Mulukng, dengan alasan hubungan mereka adalah sebagai ayah dan anak. Namun, atas kuasa yang ada pada Temerikukng Mulukng, ia bisa merubah dirinya, sehingga tak dikenal, akhirnya  Ayakng Diakng Rano berhasil diperisterikan.

Namun identitas Temerikukng Mulukng, di kemudian hari terbongkar juga. Karena perkawinan mereka dalam hubungan ayah dan anak, maka  anak mereka yang pertama dan beberapa lagi yang lahir dalam keadaan cacat. Anak-anaknya yang cacat, yang pertama, diberi nama Seniang Galekng, kedua, Seniang Sahuq (akibat perkawinan salah purus), ketiga, Seniang Sumakng, keempat, Seniang Kepit, kelima, Seniang Posa.

Sedangkan anak-anak dari Temerikukng Mulukng yang tidak cacat antatra lain: Seniang Juma, Seniang Suraat, Seniang Besara, dan beberapa seniang lainnya yang masing-masing mempunyai peran tertentu bagi kehidupan manusia.

d. Anak-anak Temerikukng yang berperan khusus

Dari sekian banyak anak Temerikukng Mulukng, terdapat enam orang yang memiliki peranan khusus terhadap tata kehidupan manusia, yaitu:

1)     Jurikng Ollo, yang bertugas mengendalikan kekuasaan para raja (mantiq Tataau).

2)     Danah Ollo, yang menjadi sumber adat-istiadat.

3)     Danih Ollo, yang menjadi sumber adat Beliatn Lewangan.

4)     Lilir Langit, yang menjadi sumber adat Beliatnn Bawo.

5)     Lesayo Ollo, yang menjadi summer kekuasaan para Nayuq pendamping manusia yang ada di bumi.

6)     Punen, yang kemudian menurunkan manusia di bumi.

Anak dari Punen sangat banyak, sedemikian banyaknya digambarkan dalam analog berikut “sie leleatn wee, walo leleatn lampukng”, sehingga ada diantaranya menjadi makhluk jahat “hantu”, ikan, babi, rusa, buaya dan yang terakhir bernama Sia, yang menurut kepercayaan orang Tuwayaatn merupakan nenek moyang manusia.

Keturunan Sia, diantaranya ada yang terusir dan menjadi Mulaakng, yakni menjadi sumber penyakit demam. Mulaakng Tengkelimas, menjadi sumber penyakit cacar dan semua jenis penyakit perut, Juata, yang menjadi sumber penyakit anak-anak dan lain-lain.

Dari keturunan Punen ini berkembanglah populasi manusia di muka bumi. Selain itu dalam mitologi-mitologi  lain orang Tuwayaatn masih ada manusia lagi yang diturunkan dari langit pada waktu dan tempat yang berbeda pula.

2. Kekacauan Manusia di Bumi

Setelah Temerikukng kawin dengan Ayakng Diakng Rano yang adalah sebagai anaknya sendiri, maka lahirlah anak banyak sekali. Sejak itu manusia bertambah banyak di bumi ini dan menyebar ke berbagai pelosok dunia. Peroses perkembangan dan penyebaran manusia sejak awal mulanya berlangsung beribu-ribu abad dan mengalami bermacam-macam tingkatan perkembangan. Banyak bagian muka bumi ini jadinya telah ditempati oleh manusia. Tempat-tempat  yang dikenal pada waktu itu adalah Tenukng Beremauq Siwo Ore tempat tinggal Rajaq Kilip, Tanyukng Ruakng, Tanyukng Lahukng tempat Rajaq Aji, Dataai Lino, Bawo Ampukng Jengan, Tenukng Merelomuq, Usuk Riutn Munte, Aput Pererawetn, Nancakng Tenekng, Bentas Turih lalukng,  dan Kutaq Lisat Tenungket.

Selain keturunan dari Temerikukng, ada beberapa tokoh yang banyak disebutkan dan berperan pada zaman awal budaya, mereka diciptakan dari Bahan-bahan “tempukur langit – tana”, yaitu sisa-sisa bahan ramuan langit dan tanah. Mereka  adalah Rajaq Kilip yang tinggal di Jaa Tenukng Beremauq Siwo Ore, dan Rajaq Aji serta anak cucunya di Tanyukng Lahukng. Dalam beberapa kisah atau dongeng nama-nama tokoh ini selalu disebutkan seperti: Rajaq Kilip, Rajaq aji, Delooi, Monaq, Dalukng, Nalau, Ape, Rempiaq, Ringeng, Oso. Sebelumnya ada Datu dan dara, dan masih banyak lagi yang tidak disebutkan namanya. Zaman  itu manusia disebut zaman Lalukng karena mereka masih dapat berhubungan dengan makhluk-makhluk dunia langit yang penuh keajaiban.

Manusia yang hidup zaman Tenukng Beremauq, Bawo Ampukng Jengan, Tanyukng Ruaakng, Datai Lino, mengalami kekacauan karena belum ada adat yang dipakai dalam mengatur dan mengendalikan  kehidupan bersama. Setiap hari bisa terjadi perselisihan, perkelahian, permusuhan dan pembunuhan, entah itu terjadi dalam bentuk dan hal apa saja. Manusia masing-masing ingin menangnya sendiri. Masing-masing dapat berbuat sekehendanya sendiri.  Belum jelas batas antara hak orang yang satu dengan orang yang lain, semuanya serba bisa berbuat apa sekehendaknya. Orang yang kuat dan kuasa dialah yang menang. Oleh karenanya pada zaman itu  dikatakan manusia hidup “Bolupm pakatn senarikng deoq umeq aweq elakng, belai aweq benturatn. Ledok sikuq beau nganukng tauq, lebek asekng beau nganukng panei.” Artinya dan maknanya bahwa perilaku hidup manusia  tanpa batasan yang jelas, hati dan pikirannya tanpa kebijakan dan pengetahuan. (Bersambung)

SUMBER : BUKU PENELITIAN ADAT DAN HUKUM ADAT BENUAQ TUWAYAATN (CERD-BAPEDA KUTAI BARAT) 2009.