KELANGKAAN BBM DI KUTAI BARAT, BENSIN TEMBUS HARGA RP.10.000

8 Jun

Sudah dua hari ini masyarakat Kubar (7/6/2011), mengalami kelangkaan BBM terutama Bensin. Biasanya walaupun di SPBU tidak ada Bensin tetapi ditingkat pengecer masih mudah didapat, namun yang terjadi saat ini di pengecer pun susah didapat, kalau pun ada mau gak mau kita harus membayar Rp.10.000 per liter bahkan dibeberapa kampung ada yang mencapai RP.15.000 , (8/6/201)1. Hal ini tentunya juga memberatkan sebagaian besar warga Kubar yang mayoritas petani Karet.

Ada apa dengan distribusi BBM di Kubar?, SPBU tetap berjualan seperti biasa walaupun tidak setiap hari dan waktunya dibatasi. Penulis melihat ada yang tidak beres dengan agen SPBU di Kubar dan menurut beberapa informan :
1. Diduga agen SPBU menjual Bensin/Solar pada Dunia Industri
2. Menjual BBM pada malam hari pada pengecer lokal
3. Agen SPBU mengurangi stock yang dijual dan di tumpuk ditempat lain untuk dijual secara eceran.

4. Terjadi penimbunan BBM pada pengecer lokal, (bahkan ada mobil yang dimodifikasi dengan memasang tangki tambahan)

Untuk itu diharapkan pemerintah Kabupaten dapat segera mengatasi permasalahan ini, dengan melakukan inspeksi terhadap agen SPBU yang beroperasi bila bersalah cabut saja ijinnya, melakukan penetapan harga bensin eceran ditingkat pengecer (agar tidak menjual bensin seenaknya), kasian petani Karet kalau tidak ada bensin.

 

Iklan

13 Penyakit Guru

6 Jun

Oleh Ahmad Baedowi*

Short message service (SMS) jelas merupakan sarana efektif bagi masyarakat untuk berkomunikasi. Segala jenis informasi bisa disebar hanya dalam hitungan menit, bahkan detik. Selain sebagai sumber berita, SMS juga dapat menjadi sumber belajar dan bahkan dari perspektif negatif, layanan ini juga dapat memberikan pengaruh dan citra buruk bagi sebuah tatanan, baik secara individu maupun kelompok. Beberapa berita atau isu soal gempa di Jakarta, ancaman terorisme, hingga bocornya soal-soal ujian nasional adalah di antara beberapa contoh betapa efektifnya penggunaan SMS.

Di Kota Bekasi (mungkin juga di kota-kota lainnya di Indonesia), khususnya dalam 2 minggu terakhir ini, merebak SMS dari satu guru ke guru lainnya tentang adanya “penyakit” di kalangan para pendekar pendidikan. Bunyi SMS ini memang terasa lucu dan sedikit mengada-ada, tapi dari segi substansi tampaknya kita tak bisa menganggap remeh isu penyakit guru ini. Gejala penyakit ini bahkan menjadi bahan diskusi yang cukup serius di lingkungan para guru, sambil di antaranya mereka mencoba mencocokkan jenis penyakit mana yang sudah ada dalam diri mereka masing-masing.
Inilah bunyi 13 penyakit guru versi SMS itu, yang jika penyakit itu diklasifikasi menjadi tiga jenis keterampilan (skill), yaitu kemampuan personal (kepribadian), metodologis, dan teknis. Pada aspek kemampuan kepribadian guru, penyakit yang disinyalir ada meliputi THT (tukang hitung transport), hipertensi (hiruk persoalkan tentang sertifikasi), kudis (kurang disiplin), dan asma (asal masuk). Banyak sekali dijumpai guru yang selalu berhitung soal pembagian transport dari dana BOS, kecurangan dalam hal proses sertififikasi, kurang disiplin dan masuk sembarangan hanya sekadar memenuhi absensi. Gejala ini sangat umum terjadi di lingkungan guru dan sekolah kita.

Diklasifikasi kedua, yaitu soal aspek metodologis, disinyalir guru bahkan memiliki lebih banyak penyakit. Jenis-jenis penyakitnya, antara lain salesma (sangat lemah sekali membaca), asam urat (asal mengajar, kurang akurat), kusta (kurang strategi), kurap (kurang persiapan), stroke (suka terlambat, rupanya kebiasaan), keram (kurang terampil), serta mual (mutu amat lemah). Aspek metodologis ini memang sangat terkait erat dengan faktor courage dan kesadaran untuk berkembang yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru.
Sedangkan diklasifikasi ketiga yang menyangkut aspek keterampilan, penyakit guru disinyalir adalah TBC (tidak bisa computer) dan gaptek (gagap teknologi). Kita memang tak cukup punya bukti statistik, seberapa banyak sebenarnya jumlah guru yang sampai saat ini belum bisa dan mengerti soal komputer dan makna penting teknologi sebagai bagian dari pengembangan bahan ajar di kelas.
Merebaknya jenis-jenis penyakit di atas, meskipun disampaikan dengan cara dan tujuan untuk melucu, jelas memberi kita gambaran kondisi dan suasana batin para guru kita saat ini. Jika penyakit-penyakit tersebut memang benar adanya, kesalahan pertama harus kita tempakan kepada otoritas pendidikan kita yang salah dalam merumuskan kebijakan soal pengembangan kapasitas profesional guru. Guru seakan lupa pada rumusan dan definisi tentang pendidikan yang tertera dengan amat gamblang di dalam undang-undang sistem pendidikan nasional kita, yaitu sebagai sebuah “….usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Kata “mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran” jelas merujuk dan menuntut para guru untuk kreatif dalam mengembangkan kerangka berpikir dan bahan ajar di sekolah. Karena itu sangat boleh jadi munculnya gejala penyakit seperti disinyalir di atas relevan dengan sistem pendidikan yang membelenggu akal untuk kreatif, terutama bentukan hierarki kurikulum yang rigid dan berorientasi semata pada dunia kerja.

Seorang pengembang masalah kreativitas di dunia pendidikan, Ken Robinson, mengatakan hampir dapat dipastikan seluruh sistem pendidikan di dunia menempatkan Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi (Sains) sebagai acuan utama tingkat keunggulan sebuah sekolah. Semakin banyak anak yang memiliki kemampuan Matematika dan Sains, semakin prestisiuslah sekolah tersebut. Sebab itu, bidang studi ini memperoleh jam yang begitu tinggi di sekolah, termasuk diantaranya di Indonesia.

Sekolah kita tak memiliki laboratorium seni dan musik yang cukup, juga perpustakaan yang mengoleksi buku-buku sastra yang memadai untuk menumbuhkan kreativitas anak untuk bergerak. Seluruh sekolah kita lebih banyak mengajarkan Matematika dan Sains yang hanya mengandalkan otak dan pikiran, tetapi tak memberi porsi yang cukup kepada anggota tubuh yang lain, seperti badan, tangan, dan kaki untuk bergerak. Berapa jam anak kita mengikuti pelajaran tari dan olahraga di sekolah dalam satu minggu, dan lebih banyak mana ketika anak-anak kita belajar Matematika dan Sains?

Kritik Ken Robinson sangat masuk akal sehingga dia mengatakan kebanyakan guru di sekolah saat ini menganggap bahwa badan, tangan, dan kaki mereka hanya sebagai alat transportasi kepala mereka yang penuh rumus dan terkadang membingungkan. Efek seperti ini dapat menjadikan seseorang mati rasa, antisosial, dan menjadi sangat arogan cara berpikir dan bertindaknya. Dalam rumus tak ditoleransi kesalahan. Padahal sebuah kesalahan, dalam teori belajar, merupakan awal dari sebuah kreativitas besar.
* Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
Sumber: LAMPUNG POST

KOSMOLOGI PERLADANGAN ORANG BENUAQ TUWAYATN

28 Mar

Pada zaman dulu kebutuhan hidup orang Tuwayaatn belum sekompleks seperti sekarang ini. Kegiatan yang bersifat ekonomis hanya berkisar pada pengumpulan bahan-bahan makanan saja. Karena itu kegiatan ekonomi mereka dapat disebut “ekonomi pengumpulan pangan”. Bahan-bahan pangan yang dapat dijadikan makan terdiri dari berbagai jenis tumbuhan, buah-buahan dan akar-akaran atau umbi-umbian di samping bahan pokok yaitu padi atau beras. Selain itu juga mereka menangkap hewan buruan dan mencari ikan baik di sungai maupun di danau sekitar. Teknik yang sering dipakai untuk menangkap hewan buruan adalah dengan berburu memakai bantuan anjing untuk mengepung hewan buruan sehingga gampaing dibunuh. Selain itu bisa juga dengan memasang jebakan seperti Poti, sengkokoy, sungaq, seriakng, gawaq (tanah yang digali sebagai lobang jebakan), dan juga dengan mengasapi tempat persembunyian hewan yang diburu. Sedangkan untuk menangkap ikan biasanya mereka menggunakan bubu, kalak, empang, unek, pancing, tanggup, tantai dan lain-lain. Ada juga cara menagkap ikan dengan menuba yaitu menggunakan cairan dari akar tuba yang dilarutkan untuk memabukan ikan sehingga gampang ditangkap. Namun orang yang menggunakan cara ini harus memperhatikan norma-norma adat setempat yang berlaku. Jika terjadi pelanggaran, maka ia dapat dikenai sangsi berupa denda adat.
Dari beberapa cara orang Tuwayaatn mengumpulkan bahan makanannya seperti di atas pada zaman dulu, sekarang yang lebih dominant sebagai mata pencarian hidup adalah bercocok tanam di ladang (berladang)
Kegiatan bercocoktanam di ladang bagi orang Tuwayaatn lazim disebut berladang. Biasanya jika ladang telah siap ditanami, selain tanaman utama yaitu padi, juga ditanami berbagai jenis tanaman pangan dan obat-obatan. Orang Tuwayaatn, dalam berladang mengikuti siklus pergantian musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Namun selain memperhatikan musim tersebut, mereka juga memperhatikan tanda-tanda alam yang dianggap sebagai petunjuk yang tepat untuk memulai atau mengerjakan ladang. Tanda-tanda itu seperti petunjuk bintang di langit, bulan dan mata hari. Masing-masing benda yang dianggap sebagai petunjuk itu mempunyai nama yang relevan dengan keadaan iklim cuaca yang dianggap berkenaan dengan musim berladang atau menanam.

a. Bulan penunjuk musim
Ada enam bentuk bulan sebagai penunjuk musim yang dihayati orang Tuwayaatn menjadi pertanda kapan harus memulai pekerjaan menggarap ladang yaitu:
1) Nafit tampak pada saat Bintekng Piyuluq masih rendah, sebagai petunjuk orang mulai menugal atau tanam padi di ladang.
2) Karoq, adalah masa yang baik untuk menugal karena bertepatan dengan musim hujan.
3) Ketigaq, juga masa yang baik untuk menugal.
4) Bemanuk, masa yang tidak baik untuk menugal karena biasanya masa itu terjadi musim kemarau atai panas.
5) Lentokng Leokng, masa ini juga tidak bain untuk menugal karena masih berlangsungnya musim kemarau, namun baik untuk merumput yaitu megiatan kaum ibu membersihkan tanaman padi di ladang.
6) Katap Kanam, masa ini tidak baik untuk menugal karena keadaan musim yang tidak menentu berada pada proses peralihan cuaca.
a. Bintekng Tautn
Orang Tuwayaatn mempunyai pedoman sebagai penunjuk musim dalam melaksanakan kegiatan berladang. Pedoman itu adalah bintang, baik bintang itu tampak secara tunggal maupun dalam rasi atau gugusan tertentu. Bintang-bintang itu disebut “Bintekng Tautn”. Bintang-bintang yang perlu diperhatikan adalah:
1) Bintang Piyuluq (gugusan bintang kecil-kecil yang banyak sekali). Jika bintang itu tampak masih rendah, kira-kira setinggi mata hari pukul 10 atau 11, berarti masih baik untuk menugal atau menanam padi di ladang.
2) Bintekng Poti (Poti adalah alat jebakan babi yang terbuat dari kayu dan buluh diruncingkan salah satu ujungnya). Dikatakan Bintekng Poti karena rasi bintang itu bagaikan poti yaitu alat jebakan seperti di atas.
3) Bintekng Beapm Bawui. Bintang itu dikatakan Beapm Bawui karena bentik atau rasinya bagaikan dagu babi.
4) Bintekng Semuatn Bawui. Semuatn atinya adalah kubangan. Jika bantang itu tampak, maka menandakan akan atau sedang terjadi musim kemarau dimana biasanya kawanan babi hutan sering mandi-mandi dalam kubangan.

Selengkapnya Download disini

Beberapa Kasus Perkawinan Dalam Masyarakat Adat Dayak Bahau

27 Mar

Kasus Perkawinan Dalam Masyarakat Adat Dayak Bahau
Salah satu tujuan suatu lembaga perkawinan adalah membangun kehidupan bersama antara suami dan isteri atas dasar ikatan cinta kasih dalam misi melanjutkan generasi umat manusia di dunia ini. Kesetian suami dan isteri sangat diuji dalam mengarungi dunia perkawinan yang secara sengaja telah dipilih bersama. Dalam budaya etnik Bahau, perkawinan dipandang sebagai suatu yang sakral dan bukan saja dipandang sebagai urusan pribadi pasangan suami isteri, malainkan juga memuat dimensi sosio-cultural. Oleh karena itu, pasangan suami isteri seyogyanya selalu dan harus membangun dan mempertahankan keutuhan kehidupan keluarga. Namun dalam kenyataan, kita kenal beberapa kasus perkawinan, yang tentu saja merupakan suatu pelanggaran perkawinan. Kasus-kasus yang terjadi sehubungan dengan perkawinan adalah:
2.1. Perselingkuhan (petuyang)
Petuyang, dalam pengertian adat masyarakat Bahau Kecamatan Long Hubung dan Kecamatan Laham adalah perselingkuhan. Macam-macam pelanggaran adat perkawinan yang termasuk petuyang adalah:
2.1.1. Seorang isteri atau suami yang sah, berselingkuh dengan suami atau isteri lain yang sah menurut hukum adat.
Ketentuan adat yang dikenakan terhadap pelaku pelanggaran di atas adalah:
Pertama, pihak suami (laki) harus membayar denda adat sebasar 10 buah antang, dan perempuan sebesar 7 buah antang, kepada pihak suami atau isteri yang sah.
Kedua, Jika yang telah melakukan perselingkuhan telah ada anak, maka harus diadakan acara Duwai sejumlah anak yang ada, dan jika laki yang berselingkuh dengan perempuan yang telah punya suami atau anak, maka harus diadakan acara Duwai untuk suami atau anak yang sah tadi.
Ada pun barang-barang yang dipakai dalam acara adat Duwai adalah:
Tabel 2 : Barang Adat Dawai
No. NAMA BARANG JUMLAH
1. Antang atau tajau 1 buah
2. Malaat (parang) 1 buah
3. Tepatung malaat 1 buah
4. Lekuq 1 buah
5. Ayam hitam 1 ekor
6. Kain putih 1 meter
7. Telur ayam 1 biji

2.1.2. Seorang perempuan dan laki hidup bersama dalam satu rumah sebagai suami isteri namun belum sah secara adat atau pun agama.
Pelanggaran semacam ini dalam bahasa Bahau disebut petuyaang ayaq. Terhadap pelanggaran ini, kepada pelaku dikenakan ketentuan sebagai berikut:
Pertama, dibuat adat soot dan adat sahuq. Adat ini dilakukan sebelum kawin adat dilaksanakan.
Kedua, jika belum dilaksanakan kawin adat, maka keduanya setiap tahun harus membayar kaping umaq, untuk melas tanah sebelum membuka lahan ladang.
2.1.3. Anak tiri perempuan atau laki kawin dengan orang tua tiri
Terhadap kasus yang ketiga ini, ketentuan adat sama dengan ketentuan pada kasus kedua. Para pelanggar diwajibkan melaksanakan ketentuan berikut:
Pertama, membuat adat soot dan adat sahuq. Adat ini dilaksanakan sebelum perkawinan adat dilakukan.
Kedua, jika mereka belum melakanakan adat tersebut di atas, maka kepada mereka diwajibkan setiap tahunnya membayar kaping umaq, untuk melas tanah sebelum membuka lahan perladangan.
Ketiga, mereka juga harus membayar denda adat, dengan ketentuan, pihak laki 10 buah antang dan perempuan 7 buah antang. Denda tersebut dibayarkan kepada suami dan isteri yang sah .
Keempat, Jika suami dan isteri yang sah tadi mempunyai anak, maka terhadap mereka yang melakukan perselingkuhan tadi diwajibkan membuat acara Duwai sejumlah anak yang ada. Rincian tentang barang-barang yang dipakai dalam adat Duwai sama dengan ketentuan pada poin pelanggaran kedua di atas.
2.1.4. Anak tiri perempuan kawin dengan bapak tiri, atau anak tiri laki dengan ibu tiri.
Jika terjadi kasus di atas, maka ditangani sama dengan pada kasus nomor dua di atas.
Pertama, dibuat adat soot dan sahuq terlebih dahulu sebelum diadakan perkawinan adat.
Kedua, jika acara perkawinan adat belum dibuat, maka pelaku harus membayar kaping umaq untuk melas tanah setiap tahunnya, sebelum membuka lahan perladangan.
Ketiga, kepada mereka dikenai denda adat sebesar: 10 buah antang untuk laki dan 7 buah antang untuk perempuan. Denda tersebut dibayarkan kepada suami atau isteri yang sah.
Jika suami atau isteri yang sah tadi mempunyai anak, maka mereka yang petuyang harus melaksanakan adat Duwai untuk masing-masing anak.
2.1.5. Anak tiri kawin dengan anak tiri.
Dalam kasus ini yang dimaksud dengan anak tiri misalnya adalah, anak perempuan dari seorang ibu yang kawin dengan seorang bapak yang sebelumnya yang telah mempunyai anak laki. Kemudian anak laki dari seorang bapak tadi kawin dengan anak perempuan dari ibu yang dikawini bapaknya. Maka perkawinan tersebut dinamakan perkawinan antar kedua anak tiri. Perkawinan yang demikian itu adalah pelanggaran adat dalam etnik Bahau dan karenanya harus melaksanakan ketentuan hukum adat yang berlaku.
Ketentuan adatnya adalah: Terhadap pelanggar adat harus melaksanakan adat soot. Adat tersebut dilaksanakan sebelum kedua pelaku melangsungkan perkawinan adat secara resmi. Jika keduanya belum melaksanakan adat tersebut, maka diwajibkan harus membayar kaping umaq setiap tahunnya, sebelum membuka lahan perladangan.
2.1.6. Saudara dengan saudara.
Yang dimaksudkan saudara dengan petuyang antar saudara adalah, sama-sama saudara kandung melakukan perkawinan, atau saudara yang masih ada hubungan darah dekat dengan yang bersangkutan. Dalam adat etnik Bahau perkawinan semacam ini dilarang dan jika terjadi, mereka yang melakukannya harus melaksanakan ketentuan adat sebagai berikut:
Pertama, membuat adat soot dan adat sahuq. Adat tersebut dilaksanakan sebelum perkawinan adat dilangsungkan.
Kedua, membuat adat Abai.
Ketiga, Setiap tahun yang melakukan pelanggaran adat tersebut harus membayar kaping umaq untuk melas tanah, sebelum membuka lahan perladangan.
2.1.7. Bapak dengan anak kandung perempuan, atau ibu dengan anak kandung laki.
Yang dimaksudkan dalam kasus ini adalah, jika terjadi perkawinan antara bapak dengan anak kandung perempuan atau Ibu dengan anak kandung laki. Perkawinan tersebut sangat ditentang dan karenanya harus diproses baik secara hukum adat setempat maupun hukum pidana.
Atas pelanggaran tersebut, ketentuan adatnya adalah:
Pertama, Pelanggar harus membuat adat soot dan adat sahuq. Adat tersebut dilaksanakan sebelum kawin adat dilaksanakan.
Kedua, Diwajibkan membuat adat Abai.
Ketiga, Diproses secara hukum pidana.
2.1.8. Saudara angkat dengan saudara angkat.
Petuyang saudara angkat dengan saudara angkat adalah, petuyang yang dilakukan antar saudara yang saling mengangkat untuk dijadikan saudara. Jika terjadi demikian, maka adat menuntut mereka harus membuat adat Hawaq.
2.1.9. Anak angkat dengan bapak angkat, atau anak angkat dengan ibu angkat. Petuyang dengan cara demikian di atas dinilai melanggar hukum adat. Terhadap oknum yang melanggar tersebut dikenai sanksi adat sesuai dengan hukum adat yang berlaku yaitu:
Pertama, Dibuat adat soot dan adat sahuq. Adat tersebut dilakukan sebelum melangsungkannya perkawinan adat.
Kedua, bila kedua adat tersebut belum dilakukan, maka pelaku harus membayar kaping umaq untuk melas tanah sebelum membuka lahan perladangan.
2.1.10. Seorang perempuan dihamili oleh seorang laki, tapi laki tersebut tidak mau mengawininya.
Jika terjadi kasus seperti di atas, pihak adat memutuskan:
Pertama, kedua pelaku harus dikawinkan secara adat.
Kedua, pelaku laki harus menanggung biaya kehidupan anak hingga anak yang bersangkutan mandiri.
Ketiga, jika laki yang menghamili tidak melaksanakan keputusan adat, maka kasus tersebut diproses secara pidana.
2.1.11. Seorang laki yang telah mempunyai isteri yang sah, menghamili isteri orang lain yang sah.
Terhadap kasus di atas, ketentuan adat mengharuskan:
Pertama, pelaku laki harus membuat acara untuk anak.
Kedua, pelaku diwajibkan untuk membuat adat petutau dengan tanda satu buah agong (gong), diberikan kepada suami perempuan yang dihamili.
Ketiga, si perempuan yang dihamili diwajibkan memberi satu antang kepada isteri pelaku yaitu laki yang menghamili.
Keempat, si laki diwajibkan harus menanggung biaya anak dari masa sejak kelahiran sampai si anak yang bersangkutan dapat mandiri.
2.1.12. Seorang perempuan dihamili oleh seorang laki, namun ia tidak mengawininya
Jika terjadi kasus seperti di atas, maka oleh pihak adat, diputuskan bahwa pelaku harus dikawinkan secara adat dengan perempuan yang dihamilinya. Biaya hidup anak harus ditanggung oleh sipelaku sampai anak tersebut bisa mandiri. Jika si pelaku tidak mau mengindahkan putusan adat, maka selanjutnya diproses secara hukum pidana.

2000 PENGUNJUNG “TSEET” DI TAHUN 2010

19 Jan


Atas nama pengelola TSEET saya mengucapkan terima kasih atas kunjungan saudara/i terhadap website ini, berdasarkan data statistik yang kami terima dari wordpress.com-admin menunjukan bahwa jumlah pengunjung web ini pada Desember tahun 2010 mencapai 2000 pengunjung. Sebagai pemula dalam dunia bloger ( Tseet berdiri pada bulan Februari 2010) hal ini tentu sangat menggembirakan buat kami, kami tidak menyangka bahwa dengan kehadiran TSEET mendapat perhatian dari pengunjung terutama masyarakat komunitas adat Dayak di Kutai Barat dan dari seluruh suku bangsa Indonesia yang memiliki kekayaan dan keaneka ragaman adat dan budaya.

Semoga kehadiran TSEEt bermanfaat bagi anda, dan tetap ada menembus dunia maya dari pedalaman Kutai Barat memperkenalkan adat dan budaya Komunitas Adat Dayak.

MENGENAL JENIS BELIAN MENURUT KOMUNITAS DAYAK TONYOI DAN BENUAQ

19 Jan

ARTI DAN JENIS BELIATN

Secara harafiah, beliatn sebenarnya mengandung arti berpantang/ tabu (Lietn). Sehingga secara umum, belian merupakan serangkaian usaha manusia yang bertujuan untuk mencegah terjadinya suatu musibah terhadap manusia dan lingkungan, atau membebasakan diri dari belenggu penyakit, yang selalu diakhiri dengan cara berpantang.
Menurut kepercayaan masyarakat Dayak Tunjung dan Benuaq, gangguan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan, dapat terjadi dalam berbagai macam bentuk dan tingkatan. Berkaitan dengan hal itu, maka jenis belian pun terbagi dalam beberapa ragam.
Berdasarkan sifatnya, belian dapat digolongkan atas dua jenis , yaitu:
1. Belian yang bersifat pencegahan, diantaranya: Nalitn Taotn Makatn Juus dan Tulak Bala.
2. Belian yang bersifat pengobatan, diantaranya : Nyamat Nyahuq, Ngayukng dan Muat Balai Banci.
Sedangkan berdasarkan tata-cara penyelenggaraannya, belian dapat digolongkan menjadi beberapa ragam, yaitu:
1. Belian Lewangan/ Belian Beneq
2. Belian Bawo
3. Belian Sentiyu
4. Belian Jamu
5. Belian Ranteu

1. Beliatn Bawo
Belian Bawo adalah belian yang menggunakan bahasa Bawo sebagai bahasa pengantar, adapun pelakunya, biasanya terdiri dari pemeliatn laki-laki tetapi dapat juga seorang wanita.
Ciri khas dari Belian Bawo ini, lengan kiri dan kanan sang pemeliatan, masing-masing mengenakan sepasang gelang perunggu yang disebut Ketakng, sedangkan dibagian kepala mengenakan ikat kepala yang disebut Lawukng.
Khusus bagi pemeliatn pria, tidak mengenakan baju tetapi menggunakan semacam untaian kalung dari jenis kayu obat-obatan dan taring binatang, yang disebut Samakng Sawit. Untaian kalung tersebut diselempangkan dari bahu kiri-kanan ke bawah rusuk kiri kanan.
Ciri khas yang lain, sang pemeliatn menggunakan sejenis rok/kun panjang sampai ke mata kaki yang direnda dengan motif tertentu yang disebut Ulap Bawo. Sedangkan di bagian pinggang dililit seuntai kain panjang yang kedua ujungnya terjuntai di samping kiri kanan sebatas ulap bawo, kain ini disebut Sempilit. Diatas lilitan Sempilit bagian pinggang dipasang ikat pinggang khusus yang disebut Babat.
Dalam pelaksanaan upacara adat Belian Bawo, biasanya dilakukan melalui beberapa rangkaian kegiatan, sebagai berikut :
(1). Nomaaq.
Nomaaq adalah suatu proses awal yang selalu harus dilalui pada setiap mengadakan belian bawo. Hal itu bertujuan menjelajahi negeri para dewa, serta mengundang mereka untuk membantu dalam usaha pengobatan.
Nomaaq selalu diawali dengan meniup Sipukng/Belaluq sebanyak tiga kali, alat ini terbuat dari taring beruang, macan dahan, harimau. Suara Sipukng tersebut perperanan sebagai undangan bagi para dewa, sekaligus merupakan kode untuk dimulainya menabuh gendang yang pertama kali (Nitik Tuukng).
Setelah gendang ditabuh beras yang berada dalam genggaman dengan maksud melepaskan utusan yang akan menjemput para dewa yang diundang.
Pada saat Nomaaq, posisi pemeliatn duduk bersila menghadap Awir, yaitu daun pinang beserta dahannya yang telah dibuang lidinya dan digantung bersama selembar kain panjang menjuntai ke bawah menyentuh tikar bagian ujungnya. Awir ini berfungsi sebagai “tangga” untuk turun atau naiknya para dewa.
(2). Jakaat
Setelah para utusan tiba di negeri para dewa, pemeliatn mulai berdiri serta berjalan mengitari Awir. Posisi ini melambangkan para dewa mulai bergerak turun untuk menghadiri undangan.
Seusai para dewa tiba di dalam rumah, pemeliatn mulai menari untuk melakonkan gerak dari masing-masing dewa yang hadir.
(3). Penik Nyituk
Bilamana sekalian (para) dewa telah mendapatkan giliran menampilkan kebolehannya dalam hal menari, mereka duduk dan menanyakan alasan apa mereka diundang.
Dalam hal ini jawaban tuan rumah sangat bervariasi, hal mana tergantung dari masalah yang sedang dihadapi keluarga tersebut pada saat itu.

(4) Ngawaat
Pada tahap ini dengan kembali pada posisi berdiri, pemeliatn mewakili para dewa, mulai melaksanakan perawatan terhadap orang sakit dengan menggunakan Selolo.
Puncak perawatan dilakukan dari muka pintu, dalam hal ini pemeliatn mewakili para dewa di atas bumi yang mempunyai keterampilan Nyegok (menyedot) penyakit, memberikan penyapuh, yaitu semacam obat yang bertujuan menyembuhkan luka dalam.
Sementara pemeliatn pulang-pergi memberi perawatan, bunyi gendang harus dipercepat dengan irama Sencerep dan Kupuk Tuatn. Akhirnya perawatan ini diselesaikan dengan Ngasi Ngado dan Nyelolo-Nyelonai, dengan maksud menciptakan kondisi sejuk dan nyaman serta bebas dari cengkraman penyakit.
Dalam perawatan terakhir ini, irama dan lagu tabuhan gendang berubah dan diperlambat dengan irama yang disebut Meramut dan Beputakng.
(5) Tangai
Pada tahap ini, pemeliatn mempersilahkan para dewa untuk kembali ketempatnya masing-masing, dengan terlebih dahulu disAjikan hidangan ala kadarnya. Jenis sAjian sesuai dengan tingkat acara yang diselenggarakan.
(6) Engkes Juus
Engkas dalam bahasa Dayak Benuaq berarti memasukkan, sedangkan Juus adalah roh/jiwa. Sehingga yang dimaksud dengan engkes juus adalah memasukan roh/jiwa ke dalam tempat yang seharusnya yaitu badan dari yang empunya jiwa tersebut.
Masyarakat Dayak Tunjung Benuaq berkeyakinan bahwa kehidupan setiap manusia terdiri atas badan (unuk) dan jiwa (juus-june).
Sehingga dalam proses penyembuhan manusia yang sakit, selain diperlukan perawatan fisik melalui Bekawat, perlu juga dilakukan perawatan jiwa melalui pengamanan juus-june agar tidak terganggu oleh roh-roh jahat. Adapun tempat yang aman dinyatakan sebagai Petiq Ngetn Bulaw.
(7) Bejariiq.
Bejariq artinya berpantang, lamanya berpantang biasanya selama satu hari. Selama berpantang, orang yang sakit tidak diperbolehkan keluar rumah, memakan makanan terlarang, seperti terong, asam, rebung dan semua jenis hewan melata.
Selain itu suasana rumah harus sepi dan tidak diperkenankan menerima tamu. Suasana tersebut ditandai dengan penancapan dahan dan daun kayu hidup di samping pintu masuk rumah bagian luar.
Pelanggaran atas pantangan ini dapat mengakibatkan kambuhnya penyakit dan sukar dirawat kembali. Setelah berakhirnya masa jariiq, maka seluruh rangkaian upacara belian bawo dinyatakan selesai.
Berdasarkan pada berat ringannya masalah yang dihadapi, serta keadaan sosial-ekonomi keluarga atau masyarakat yang menyelenggarakan, belian bawo dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu :
a. Ngejakat
Lamanya satu hari, tanpa mengkurbankan hewan dan tidak menjalani masa jariiq.
b. Bekawaat Encaak
Lamanya minimal tiga hari, menggunakan hewan kurban berupa babi dan ayam, menggunakan balai di tanah dan menjalani masa jariiq selama maksimal tiga hari.
c. Makatn Juus
Lamannya maksimal delapan hari, hewan yang dikurbankan berupa ayam, babi atau kambing, menggunakan balai di dalam rumah dan di halaman rumah. Jumlah pemeliatn minimal delapan orang dan menjalani masa jariiq maksimal empat hari.
d. Nyelukng Samat.
Lamanya maksimal delapan hari, sedangkan jumlah pawang minimal delapan orang. Hewan kurban terdiri dari ayam, babi, kambing, kerbau, sesuai dengan janji waktu nyamat, menggunakan balai di dalam rumah dan di luar rumah, serta menjalani masa jariiq maksimal empat hari.

2. Beliatn Luangan
Pada pelaksanaan belian Luangan digunakan bahasa Lewangan sebagai bahasa pengantar. Pemeliatn terdiri dari laki-laki dan biasanya tidak mengenakan pakaian khas.
Fungsi dari belian Lewangan adalah sebagai perawatan atau pencegah penyakit terhadap manusia atau lingkungan, juga dapat sebagai upacara ucapan syukur dan dapat menjadi sarana hiburan serta pengembangan bakat seni sastra.
Ambil contoh dalam upacara perkawinan, peranan pemeliatn Lewangan lebih bersifat syukuran serta pengembangan bakat seni sastra, karena pada saat tersebut, disAjikan kebolehan berargumentasi melalui Perentangin, Ngelele Nancakng, Ngoteu, Bedoneq, Begantar, Temanakng dan Bimpas.
Berdasarkan berat ringannya masalah yang dihadapi serta kondisi sosial ekonomi keluarga atau masyarakat yang menyelenggarakan, maka belian Lewangan dapat dibagi menjadi :

(1). Ngokoq Ngejakat
Lamanya satu hari, pemeliatn satu orang, tidak mempergunakan hewan kurban dan tidak menjalani masa bejariiq.
(2) Natakng Nibukng
Lamanya satu sampai dengan tiga hari, pemeliatn minimal satu orang. Menggunakan hewan kurban berupa ayam yang jumlahnya sesuai dengan Dasuq yang ditelusuri.
Dasuq adalah jenis penyakit, makhluk penyebabnya juga cara perawatannya. Menggunakan balai sesuai dasuq serta menjalani jariiq selama satu hari.
(3) Talitn Terajah
Lamanya satu sampai dengan enam hari, jumlah pemeliatn minimal satu orang. Hewan kurban berupa ayam dan babi yang banyaknya sesuai dengan dasuq. Menggunakan balai dan Tujakng serta menjalani masa jariiq selama tiga hari.

(4) Bekelew Bekebas
Lamanya delapan sampai dengan enam belas hari, jumlah pemeliatn minimal delapan orang, jumlah hewan kurban berupa ayam dan babi disesuaikan dengan dasuq. Menggunakan Balai Munan Rampa (langit-langit rumah) dan menjalani masa jariiq selama tiga hari.
(5) Nalitn Taotn
Lamanya delapan sampai dengan enam belas hari, jumlah pemeliatn minimal delapan orang. Hewan yang dipersembahkan berupa ayam, babi, dan minimal satu ekor kerbau. Menggunakan balai taotn di tanah, serta menjalani masa jariiq selama empat hari.
Pada uraian berikut, akan disAjikan tahapan upacara Nalitn Taotn karena dengan pertimbangan karena pada upacara ini, semua tingkatan belian Lewangan telah termaktub.
Selain daripada itu, upacara belian (Nalitn Taotn) ini cukup berpotensi untuk dikembangkan dalam rangka menunjang program pariwisata dan pembangunan daerah.

Permainan Yang Boleh Dilakukan Setahun Sekali

5 Nov

ADAT PERMAINAN DALAM KOMUNITAS ADAT KENYAH

Adat permainan adalah permainan anak-anak, remaja atau orang yang dewasa yang mempunyai kaitan dengan adat. Permainan tersebut termasuk seni dan olah raga, tetapi karena permainan ini mempunyai kaitan dengan adat, maka permainan tersebut dilakukan hanya sekali setahun, sesuai dengan adat yang berlaku di dalam masyarakat.

Adat permainan itu dialkukan pada lima tahap sesuai dengan tahap kegiatan penanaman padi di sektor pertanian tradisional sebagai kegiatan ekonomi masyarakat secara keseluruhan. Tahap kegiatan yang dimaksud adalah tahap pembukaan lahan, pembakaran lahan dan pembersihan, penanaman padi dan pembersihan rumput (gulma), tahap padi berbuah dan tahap selesai panen. Jenis-jenis permainan yang dimaksud antara lain.

Puling (main lempar kayu)

Permainan puling merupakan sejenis olah raga yang mengadu ketangkasan dan ketepatan melempar, oleh karena itu,  sangat digemari oleh anak laki-laki. Permainan puling dilakukan beregu tetapi dapat pula dilakukan oleh dua orang saja. Alat yang digunakan adalah sepotong kayu yang kira-kira panjangnya 0,5 m dan besarnya kira-kira sebesar lengan. Kayu yang digunakan itu disebut uling dan cara memainkannya sangat sederhana sekali yaitu uling lawannya ditancapkan pada jarak tertentu, kemudian dilemparkan oleh lawannya dan pemain bergantian melemparkan uling lawannya, siapa yang banyak kena berarti poinnya terbesar dan dialah pemenang permainan itu. Menurut adat permaian paling hanya sekali saja dimainkan dalam setahun yaitu pada tahap pembukaan lahan saja, yang meliputi penebasan, penebangan dan pencencangan dahan kayu yang ditebang selain dari masa itu permainan ini tidak boleh dilakukan lagi.

Pasing (gasing)

Permainan pasing dikenal di daerah lain dengan sebutan gasing dan cara permainannyapun tidak berbeda dengan permainan gasing yang dilakukan oleh orang lain. Perbedaanya hanya pada waktu saja. Kalau ditempat lain bermain gasing tidak ditentukan masa waktunya, pada masyarakat Dayak Kenyah dulu, hanya dapat dimainkan pada waktu (musim) pembakaran ladang dan pembersihan lahan dari sisa kayu yang telah terbakar saja. Setelah padi mulai tumbuh sejengkal maka permainan pasing tidak diperkenankan lagi oleh Kepala Adat. Permainan ini mempunyai makna bahwa permainan gasing itu akan mengundang angin bertiup sehingga lahan ladang mereka terbakar dengan sempurna.

Pebenin (Bedil/senjata mainan yang dibuat dari bambu)

Menurut keyakinan orang dulu, bahwa permainan ini mempunyai makna bahwa ledakan bedil bambu untuk akan mengusir ulat, burung dan binatang lain yang mau merusak tanaman padi mereka. Bahan yang digunakan, dari bambu yang sudah cukup tua yaitu panjangnya satu ruas dan ukuran besarnya kira-kira sebesar jari kelingking sampai sebesar ibu jari kaki. Sedangkan sumpalannya agar dapat meledak digunakan buah beringin, buah kayu lain dan kertas atau kain bekas. Permainan ini dilakukan pada padi tumbuh. Pebenin terdiri dari dua jenis yaitu pebenin biasa yang dapat membunyikan ledakan dan pebenin sungai yang merupakan mainan semprotan air.

Main Topeng (mao’)

Permainan topeng dilakukan pada waktu padi mulai berbuah sampai masa musim penuaian pertama. Dulu permainan topeng itu diawali oleh acara pengambilan limpah (air yang sudah diberkati oleh tenaa atau Kepala Adat). Orang berebut mengambilnya untuk digunakan sebagai penyejuk tanaman padi agar mengeluarkan buah dengan sempurna. Sedangkan permainan topeng tersebut mempunyai arti untuk mengusir hama atau binatang yang mau merusak atau memakan buah padi. Permainan topeng biasanya dilakukan dari anak-anak sampai orang dewasa untuk saling menakuti kelompok yang satu dengan yang lainnya. Bahan yang biasanya digunakan untuk membuat topeng, bermacam-macam antara lain pangkal pohon pisang, kayu, pelepah enau atau bahan lain yang digunakan untuk topeng. Topeng yang dibuat itu bentuknya bermacam-macam, dari bentuk yang biasa sampai bentuk yang paling jelek dan sangat menakutkan atau dari yang bentuk biasa sampai yang bentuknya sangat indah. Permainan topeng biasanya berkelompok dan bisa juga perorangan. Tarian topeng yang dapat menimbulkan rasa ketakutan disebut tarian uyat (tarian monyet) dan yang dapat menimbulkan keindahan bentuk disebut tarian udo’.

Udo’ Taing Uai (tarian tikar ular)

Udo’ taing uai menggambarkan seekor ular raksasa yang panjang, terbuat dari tikar rotan yang biasanya digunakan untuk menjemur padi waktu menuai. Ular buatan ini dihiasi dengan kain, anyaman manik, rumbai-rumbai yang berwarna-warni, sehingga menjadi bentuk yang indah. Bentuk kepalanya berupa kepala macan, harimau, ular, atau berbentuk kepala burung yang berparuhnya panjang.

Kepala dan tangan orang-orang yang memainkannya masuk ke dalam tubuh ular dari bawah, sehingga kaki mereka saja yang kelihatan dan seolah-olah menjadi kaki ular raksasa tersebut. Ular buatan itu diarak beramai-ramai keliling kampung dengan mengikuti irama masyarakat untuk mengungkapkan kegembiraan, karena keberhasilan panen yang banyak dan sekaligus acara ucapan syukur mereka terhadap yang maha kuasa.

Acara udo’ taing uai ini hanya sekali diadakan dalam setahun yaitu pada mudim panen selesai. Karena pada waktu itu biaya pesta udo’taing uai itu ada sebab baru selesai panen. Selain itu pula pekerjaan untuk membuat ladang yang baru, belum mereka laksanakan.